Abdul Gaffar (foto: istimewa). Abdul Gaffar (Istimewa)
Sabtu, 20 Januari 2018 05:00 WIB Kolom Share :

GAGASAN
Kanibalisasi Akademis

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (11/01/2018). Esai ini karya Abdul Gaffar, mahasiswa Program Doktoral Psikologi Pendidikan Islam Universitas Muhamamdiyah Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah c.guevar@yahoo.com.

Solopos.com, SOLO–Dunia akademis (kampus) dihebohkan dengan isu kapitalisasi dan kanibalisasi akademis sebagai akibat dari beberapa kebijakan pemerintah yang ditengarai memihak pada industrialisasi akademis.

Salah satunya adalah kewajiban profesor, dosen, dan mahasiswa S2/S3 memiliki karya yang diterbitkan di jurnal internasional terindeks Scopus, Thomson, dan Web of Science sebagai syarat kelulusan akademis dan untuk kenaikan jejang karier (kepangkatan).

Mengacu Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 92 Tahun 2014 tentang Syarat Menjadi Profesor, salah satu syarat adalah wajib menulis di jurnal internasional bereputasi yang terindeks oleh Web of Science, Scopus, Microsoft Academic Search, atau lainnya sesuai pertimbangan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

Alih-alih sebagai pendorong untuk meningkatkan kualitas pendidikan bangsa, menulis karya ilmiah di jurnal terindeks Scopus dijadikan jalan penyelesaian dalam mengukur kemajuan bangsa.

Menarik jika mencermati berita yang menjadi viral dan menghebohkan dunia akademis di negeri ini  tentang tuntutan menghentikan publikasi internasional Scopus karena indeks tersebut diduga kuat abal-abal.

Prof. Idrus Affandi menilai proses internasionalisasi semu (syarat menulis di jurnal terindeks Scopus) justru menjebak duni pendidikan kita terpelanting ke jurang keterpurukan karena semua jurnal internasional terindeks Scopus pada hakikatnya merupakan bagian dari kapitalisasi akademis.

Ia memasukkan Scopus sebagai kategori kapitalisasi pendidikan (akademis) karena syarat penulis untuk dimuat di jurnal tersebut harus  membayar terlebih dahulu senilai Rp1,5 juta hingga Rp20 juta, padahal kalau mau jujur, seharusnya institusi jurnal tersebut yang membayar penulis karena proses penelitian menggunakan biaya yang tidak kecil disertai usaha besar dan untuk kepentingan sebesar-besarnya bagi bangsa Indonesia.

Selanjutnya adalah: Sisi lain dampak dari jurnal terindeks

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…