Jemadi, warga Desa Bangunrejo, Kecamatan Sukorejo, Ponorogo, yang menderita kanker kulit hingga wajahnya hampir hilang saat ditemui di rumahnya, Jumat (19/1/2018). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com) Jemadi, warga Desa Bangunrejo, Kecamatan Sukorejo, Ponorogo, yang menderita kanker kulit hingga wajahnya hampir hilang saat ditemui di rumahnya, Jumat (19/1/2018). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)
Jumat, 19 Januari 2018 22:05 WIB Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com Madiun Share :

KISAH TRAGIS
Pria Ponorogo Kehilangan Wajah karena Kanker Tak Mau Dibawa ke RS

Jemadi hanya bisa pasrah dan menerima kondisinya yang menderita kanker kulit di wajah.

Solopos.com, PONOROGO — Jemadi, pria paruh baya asal Dusun Slemanan, Desa Bangunrejo, Kecamatan Sukorejo, Ponorogo, yang kehilangan hampir seluruh wajahnya karena kanker kulit kini hanya pasrah dan menunggu takdir Tuhan. Jemadi enggan dibawa ke rumah sakit oleh keluarganya.

“Saya tidak mau dibawa ke rumah sakit. Saya ingin di sini saja,” kata Jemadi kepada kakaknya saat wartawan di rumahnya, Jumat (19/1/2018).

Jemadi yang kini hanya bisa terbaring di tempat tidur ini terlihat kesakitan dengan kondisi wajahnya yang semakin habis dimakan kanker kulit. Meski demikian, dia berkukuh untuk tidak mau dirawat di rumah sakit.

Keluarga pun sudah pasrah dengan kondisi Jemadi tersebut. Kakak perempuan Jemadi, Parti, 55, mengatakan keluarga sudah pasrah dengan kondisi Jemadi yang semakin parah. Apalagi adik bungsunya itu enggan saat diajak berobat ke rumah sakit. (Baca: 4 Tahun Derita Kanker Kulit, Pria Ponorogo Kehilangan Wajah)

“Kami juga sudah mencarikan pengobatan alternatif. Tetapi memang belum diberi kesembuhan,” ujar Parti.

Selama ini Jemadi hanya diberi obat dari warung saat kepalanya pusing. Sedangkan untuk mengeringkan luka di wajahnya, keluarga memberikan bedak untuk orang khitan. Namun, setelah ada peringatan dari seseorang bahwa bedak itu berbahaya, pemakaiannya dihentikan.

Hingga kini wajahnya yang semakin membusuk tidak diobati sama sekali. “Kalau kepalanya pusing ya dibelikan obat di warung seperti Bodrex. Tidak ada obat dari dokter atau rumah sakit,” ujar dia.

Parti menganggap inilah jalan terbaik saat ini untuk kehidupan adiknya itu. Dia masih berharap adiknya bisa bertahan dan sembuh dari penyakitnya itu.

lowongan pekerjaan
SALESMAN/GIRL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Visi Pedagogis Daoed Joesoef

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (27/01/2018). Esai ini karya M. Fauzi Sukri, penulis buku Guru dan Berguru (2015) dan Pembaca Serakah (2017). Alamat e-mail penulis adalah fauzi_sukri@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Indonesia, khususnya dunia pendidikan, kehilangan sosok pemikir pedagogis tangguh yang…