Ilustrasi penganiayaan (dnaindia.com) Ilustrasi penganiayaan (JIBI/Dok)
Rabu, 17 Januari 2018 19:35 WIB Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos Klaten Share :

PENGANIAYAAN KLATEN
Pria Lansia Jebugan Dipukuli Tetangganya Pakai Palu hingga Meninggal

Seorang pria lanjut usia di Jebugan, Klaten, meninggal dunia setelah dipukuli tetangganya menggunakan palu.

Solopos.com, KLATEN — Walidi, 60, warga Dukuh Gondangan, Desa Jebugan, Kecamatan Klaten Utara, menemui ajal setelah dipukuli berkali-kali menggunakan palu oleh tetangganya, Selasa (16/1/2018). Peristiwa itu terjadi saat Walidi mencari rumput untuk pakan ternak di areal persawahan Dukuh Gondangan sekitar pukul 13.00 WIB.

Pelaku pemukulan itu adalah Joko Waluyo, 58, warga Dukuh Kepil, Desa Jebugan. Peristiwa itu diketahui seorang warga yang melintas di jalan dekat areal persawahan. Warga yang melihat Walidi dipukuli berulang kali pada bagian kepala, lantas berteriak hingga Joko menghentikan aksinya.

Setelah mengacungkan palu ke warga yang memergokinya, Joko lantas kabur. Sementara Walidi sempat berusaha menyelamatkan diri. Namun, ia terjatuh di parit hingga tak sadarkan diri.

Walidi lantas dilarikan ke rumah sakit. Namun, ia meninggal dunia meski sempat mendapat perawatan lantaran luka parah pada bagian kepalanya.

“Saat itu, kami sampai di lokasi sudah ada polisi. Sebagian warga ada yang membawa korban ke rumah sakit. Sebagian ada yang mencari pelakunya,” kata Ketua RW 011, Dukuh Gondangan, Pardi, 66, saat ditemui wartawan di Dukuh Gondangan, Rabu (17/1/2018).

Pardi menuturkan dari keterangan warga yang melihat peristiwa itu, ciri-ciri pelaku mengarah pada Joko Waluyo. Warga bersama polisi lantas mendatangi rumah Joko.

“Saat itu kondisi rumah Joko terkunci rapat. Setelah diketuk pintunya beberapa kali, Joko keluar dan bertanya ada apa kok banyak orang datang. Ia menyampaikan masih capai dan mau beristirahat. Setelah diajak mengobrol akhirnya ia mengakui telah memukul Pak Walidi,” kata Pardi.

Joko lantas dibawa kantor polisi untuk menjelani pemeriksaan. Informasi yang dihimpun Solopos.com, polisi membawa Joko ke Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Dr. R.M. Soedjarwadi Klaten untuk memastikan kondisi kejiwaannya.

Pardi tak mengetahui motif Joko memukul Walidi menggunakan palu. Selama ini tak ada persoalan antara Joko dengan Walidi maupun dengan warga lainnya. Joko juga dikenal cukup akrab dengan tetangganya.

Soal kondisi kejiwaan pelaku, Pardi tak mengetahui. “Yang memastikan kondisi kejiwaaan itu dari dokter jiwa,” urai dia.

Sementara itu, Walidi merupakan pengurus masjid di kampungnya. Ia dikenal sebagai muazin. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Walidi bekerja sebagai buruh bangunan dan mengurus ternak kambing hasil kerja sama dengan panti asuhan.

“Selama ini korban juga pelaku sering berdampingan saat salat,” katanya.

Terkait peristiwa itu, Pardi menjelaskan pada Selasa malam keluarga Joko didampingi tokoh masyarakat setempat mendatangi rumah Walidi. “Keluarga pelaku [Joko] menyampaikan duka cita dan permohonan maaf atas perbuatan yang dilakukan suami pelaku. Sementara keluarga korban sudah menerima kejadian itu dengan ikhlas. Semua sudah damai. Namun, untuk proses hukum itu diserahkan ke polisi,” urai dia.

Kapolsek Ketandan, AKP Suyarta, mewakili Kapolres Klaten, AKBP Juli Agung Pramono, mengatakan kejadian itu sudah ditangani Polres Klaten. “Untuk keterangan lebih lanjut silakan konfirmasi langsung ke Polres,” katanya.

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…