Foto Nelayan Pantai Sadeng Gunungkidul (JIBI/Harian Jogja/Antara)
Selasa, 16 Januari 2018 12:55 WIB I Ketut Sawitra Mustika/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Tidak Mudah Mengubah Budaya Nelayan DIY

Mengubah budaya agraris ke budaya maritim sungguh sukar

Solopos.com, JOGJA-Agar para nelayan di DIY menjadi nelayan profesional, perlu ada perubahan budaya nelayan DIY. Hal ini dinilai sebagai hal yang sulit dilakukan.

Kepala Bidang Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan DIY Suwarman Partosuwiryo mengungkapkan, mengubah budaya agraris ke budaya maritim sungguh sukar. Ia menyebut selama ini sudah dilakukan berbagai usaha, seperti bimbingan teknis, sosialisasi, dan festival.

“Namun, tetap saja tidak mudah mengubah kebiasaan masyarakat. Warman mengatakan, butuh waktu sekitar satu generasi untuk mewujudkan pelaut tangguh,” papar dia ketika ditemui di kantornya, Senin (15/1/2018).

Warman mengungkapkan, kinerja perikanan tangkap yang belum sesuai harapan disebabkan karena Pemda DIY terlalu jumawa dalam menetapkan target. Ketika itu Pemda DIY meyakini Pelabuhan Tanjung Adikarto sudah bisa beroperasi. Namun, hingga awal 2018 pelabuhan tersebut tak kunjung selesai. Jika sudah selesai, Warman percaya target 8.400 ton akan mudah tercapai. “Ya, masalah utamanya belum selesai itu karena anggaran,” ucapnya.

Baca juga : Produksi Perikanan Tangkap DIY Belum Memuaskan

Sekretaris Komisi B DPRD DIY Suparja mengatakan, DIY masih perlu belajar banyak dalam budaya bahari. Salah satu contoh lemahnya Bumi Mataram untuk sektor ini adalah sertifikasi. “Sertifikasi nelayan aja masih minta di Pekalongan dan Tegal. Padahal seharusnya kebalik, karena laut di sana tenang, sementara di sini ombaknya lebih besar. Memang perlu belajar banyak. Harapannya nelayan bisa disertifikasi DIY lah,” ucapnya.

Ia menambahkan, nelayan di DIY sebenarnya sudah memiliki mental pelaut yang tangguh, hanya saja peralatan dan kapal yang dimiliki belum memadai untuk mengarungi samudra. “Ada beberapa kapal 30 GT, tapi belum bisa mengoperasikan,” tutupnya.

lowongan pekerjaan
SUMBER BARU REJEKI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Visi Pedagogis Daoed Joesoef

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (27/01/2018). Esai ini karya M. Fauzi Sukri, penulis buku Guru dan Berguru (2015) dan Pembaca Serakah (2017). Alamat e-mail penulis adalah fauzi_sukri@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Indonesia, khususnya dunia pendidikan, kehilangan sosok pemikir pedagogis tangguh yang…