Foto Nelayan Pantai Sadeng Gunungkidul (JIBI/Harian Jogja/Antara)
Selasa, 16 Januari 2018 12:20 WIB I Ketut Sawitra Mustika/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Produksi Perikanan Tangkap DIY Belum Memuaskan

Faktor utama yang menyebabkan adalah budaya

Solopos.com, JOGJA-Konsep Among Tani, Dagang Layar yang dicetuskan Gubernur DIY Sri Sultan HB X beberapa tahun lalu, nampaknya masih sulit terwujud. Hal ini terlihat dari produksi ikan tangkap yang tidak pernah mencapai target selama tiga tahun belakangan. Budaya melaut belum benar-benar menjadi cara hidup masyarakat pesisir.

Data yang terdapat di Dinas Kelautan dan Perikanan DIY menunjukkan?, kinerja perikanan tangkap DIY masih lemah. Pada 2015, target yang diusung sebanyak 6.400 ton, tapi realisasinya hanya 5.556,7 ton; pada 2016 targetnya 7.400 ton, tapi yang berhasil ditangkap hanya 5.000,1 ton. Pada 2017, produksi ikan tangkap hanya sebanyak 6.814 ton dari target awal 8.400 ton.

Padahal, potensi ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia 573 (terbentang dari selatan Banten hingga selatan Nusa Tenggara Timur) melimpah ruah. Pada 2011, tercatat potensinya sebanyak 491.700 ton dan di wilayah selatan Jawa saja potensinya mencapai 320.000 ton.

“Potensinya naik, walau angka terbaru belum dipublikasikan, illegal fishing soalnya menurun. Tapi untuk wilayah DIY memang belum tergarap baik. Faktor utama adalah budaya. Dari dulu orang DIY tidak punya budaya melaut,” jelas Kepala Bidang Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan DIY Suwarman Partosuwiryo ketika ditemui di kantornya, Senin (15/1/2018).

Warman, begitu biasa ia disapa, mengatakan penduduk pesisir Bantul, Kulonprogo, dan Gunungkidul baru mulai berani menangkap ikan di lautan lepas sejak 1982. Ia bahkan mengatakan, nelayan DIY tidak bisa dikatakan sebagai cucu dari nelayan Cilacap dan Banyuwangi yang sudah melaut sejak beratus-ratus tahun lalu.

Hingga saat ini, tercatat sekitar 3.012 orang berprofesi sebagai nelayan. Tapi, mental mereka sebagai pelaut belum benar-benar terbangun. Warman menyebut, nelayan DIY kadang hanya sanggup melaut selama dua hari.

“Sekarang pakai kapal besar enggak bisa mengoperasikan dengan baik. Seharusnya melaut sepekan, dua hari sudah pulang, karena mabuk laut dan kangen dengan yang di rumah. Dikasih bantuan kapal dikerjasamakan dengan nelayan Pekalongan, Cilacap yang notabene sudah profesional,” tambahnya.

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…