Bekas rumah Sugiyanto di Dukuh Gondang Tani RT 021, Desa/Kecamatan Gondang, Sragen, berubah menjadi halaman karena sudah terjual untuk menutup utang, Minggu (14/1/2018). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos Bekas rumah Sugiyanto di Dukuh Gondang Tani RT 021, Desa/Kecamatan Gondang, Sragen, berubah menjadi halaman karena sudah terjual untuk menutup utang, Minggu (14/1/2018). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)
Selasa, 16 Januari 2018 08:35 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

Kisah Pedagang Pasar Gondang Sragen Terjerat Rentenir sampai Kehilangan Los dan Rumah

Seorang pedagang Pasar Gondang, Sragen, kehilangan los dan rumah untuk membayar utang pada rentenir.

Solopos.com, SRAGEN — Empat ompak bekas fondasi empat saka guru bangunan rumah milik Sugiyanto, 59, dan Sri Hartini, 55, masih tertanam. Pelataran bekas teras pun masih terlihat.

Kini, lokasi rumah dan teras itu berubah menjadi halaman rumah. Gandok atau bagian rumah bagian belakang menjadi rumah utama yang dihuni Sugiyanto dan anaknya di Dukuh Gondang Tani RT 021, Desa/Kecamatan Gondang, Sragen.

Sugiyanto tinggal bersama anak keduanya. Istrinya, Sri Hartini, merantau ke Papua sebagai tukang jahit. Dua anaknya yang lain juga menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. Sugiyanto bekerja serabutan di rumah.

“Bangunan rumah model lawas dengan dinding kayu jati hingga sampai ke usuk sudah dijual. Dulu, hanya laku Rp20 juta. Uang hasil penjualan rumah itu pun digunakan untuk menutup pinjaman kepada rentenir. Selain itu, kami juga menjual los pakaian di Pasar Gondang senilai Rp105 juta. Kami juga sampai pinjam uang ke bank senilai Rp65 juta. Semua itu digunakan untuk membayar utang kepada rentenir dan kebutuhan keluarga lainnya,” ujar Sugiyanto saat berbincang dengan wartawan di kediamannya, Minggu (14/1/2018).

Sugiyanto tidak mengetahui persis berapa pinjamannya ke rentenir. Istrinya yang lebih tahu tentang total pinjaman ke rentenir.

Baca:

13 Kios Pasar Gondang Sudah Beralih Jadi Milik Rentenir

Warga dan Polisi Razia Rentenir di Pasar Gondang Sragen

Ia berkisah awalnya hanya pinjam Rp1 juta dengan angsuran Rp4.000/hari atau Rp120.000/bulan untuk bunganya saja. Ia membenarkan bunga rentenir itu mencapai 12% per bulan.

Kalau tidak bisa membayar bunganya, beban bunga itu masuk ke pokok. “Kami pinjamnya tidak hanya sekali tetapi berkali-kali. Artinya sekali lunas lalu pinjam lagi. Demikian sampai saya lupa menghitungnya,” katanya.

Los pakaian yang dijual keluarga Sugiyanto untuk bayar utang ke rentenir itu sebenarnya warisan orang tuanya. Los berukuran 2 meter x 3 meter itu dijual Rp105 juta dan sebagian besar digunakan untuk bayar utang ke rentenir.

“Dengan usaha maksimal itu pun sampai sekarang utang kami ke rentenir masih ada. Nilainya berapa saya tidak tahu. Istri saya pernah bilang bila sudah tidak kuat bayar bunga. Ia berencana mengembalikan pinjaman pokoknya saja,” ujar Sugiyanto yang didengarkan Ketua RT 021, Agus M., yang kebetulan ada di kediamannya.

Orang tua Agus pun pernah berurusan dengan rentenir di Pasar Gondang. Namun Agus tak bisa bercerita tentang hal itu. Kebetulan orang tua Agus sedang sakit tenggorokan sampai tidak bisa bicara keras.

“Dari informasi masyarakat itu para rentenir yang beroperasi di Pasar Gondang banyak. Ada yang menyebut sampai 40 orang. Praktik rentenir itu sudah marak sejak 5-6 tahun terakhir. Kami bersama para ketua RT dan RW lainnya se-Desa Gondang berusaha untuk memerangi rentenir itu,” tambahnya.

Sebagaimana diinformasikan, warga dan pedagang Pasar Gondang, Sragen, sudah bertekad untuk melawan rentenir yang merajalela di pasar tradisional tersebut. Warga bersama polisi bahkan sudah melakukan razia di Pasar Gondang sebagai tidak lanjut kesepakatan antara warga, perwakilan pemerintah, dan polisi untuk melarang praktik rentenir.

Rentenir diyakini beraksi tidak hanya di Pasar Gondang tapi juga pasar-pasar lainnya di Sragen. Para rentenir mencekik warga dan pedagang pasar hingga menguasai kios mereka.

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…