Pengageng Sasono Wilopo Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, GKR Koes Moertiyah, meninjau tembok bangunan bekas sentral listrik yang roboh di kompleks Keraton Kasunanan Solo Hadiningrat, Senin (15/1/2018) malam. Menurut warga tembok bangunan cagar budaya (BCB) tersebut roboh sekitar pukul 19.15 WIB. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. (Nicolous Irawan/JIBI/SOLOPOS) Pengageng Sasono Wilopo Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, GKR Koes Moertiyah, meninjau tembok bangunan bekas sentral listrik yang roboh di kompleks Keraton Kasunanan Solo Hadiningrat, Senin (15/1/2018) malam. Menurut warga tembok bangunan cagar budaya (BCB) tersebut roboh sekitar pukul 19.15 WIB. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. (Nicolous Irawan/JIBI/SOLOPOS)
Selasa, 16 Januari 2018 07:25 WIB Chrisna Canis Chara/JIBI/SOLOPOS Solo Share :

Inilah Firasat Mbak Moeng Sebelum Tembok Kompleks Keraton Solo Runtuh

Adik Paku Buwono (PB) XIII, G.R.Ay. Koes Moertiyah, atau Mbak Moeng, menyimpan firasat tentang ambruknya tembok Ndalem Prabuwinatan. 

Solopos.com, SOLO—Adik Paku Buwono (PB) XIII, G.R.Ay. Koes Moertiyah, atau Mbak Moeng, ternyata sudah menyimpan firasat tentang ambruknya tembok Ndalem Prabuwinatan di kompleks Keraton Solo, Senin (15/1/2018) malam WIB.

Mbak Moeng mengaku merasakan tembok setinggi 3 meter dengan panjang 10 meter itu bakal roboh sebentar lagi saat dia melintas di depan kawasan itu Senin sore. (baca: Tembok di Kompleks Keraton Solo Runtuh)

“Pukul 16.00 WIB saya sempat lewat depan sana, melihat kok tambah miring ya [tembok], jangan-jangan bakal ambruk. Malah ambruk tenan,” ujar Mbak Moeng seusai meninjau lokasi reruntuhan, Senin malam.

Robohnya tembok di bangunan barat Sasono Putra, kediaman PB XIII, ini pun memunculkan kisah tersendiri. Hal tersebut karena robohnya tembok berbarengan dengan kelahiran almarhum PB XII, yakni Selasa Legi.

Sejumlah abdi dalem keraton melakukan ritual agar proses evakuasi dan pengecekan lokasi berjalan lancar. Jika tidak ada ritual, pihak Keraton khawatir para pekerja bakal mengalami gangguan saat berada di lokasi.

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…