Nomo Koeswoyo (kiri) dan Yon Koeswoyo (kanan) berfoto bersama setelah memberikan keterangan kepada wartawan di Soto Gading 2, Jl. Veteran, Solo, Jawa Tengah, Rabu (29/10/2014). Nomo Koeswoyo dan Yon Koeswoyo akan menggelar konser bertajuk One Night with The Legend Koes Plus on Fire di THR Sriwedari, Solo, Jawa Tengah, Kamis (30/10/2014) malam. (Septian Ade Mahendra/JIBI/Solopos) Nomo dan Yon Koeswoyo di Solo, Rabu (29/10/2014). (Septian Ade Mahendra/JIBI/Solopos)
Selasa, 16 Januari 2018 05:00 WIB Kolom Share :

GAGASAN
Koes Plus dalam Peta Musik Indonesia

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (08/01/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Wonogiri. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com.

Solopos.com, SOLO–Pada Jumat, 5 Januari 2018, Yon Koeswoyo tutup usia. Beberapa tahun sebelumnya Murry Koeswoyo dan Tony Koeswoyo mendahului berpulang ke alam baka. Yon Koeswoyo tutup usia pada tahun ke-77 karena penyakit yang sekian waktu dia derita.

Lardianto Budhi (foto: istimewa).

Lardianto Budhi (Istimewa).

Kabar meninggalnya pemusik bernama asli Koesjono Koeswoyo ini barangkali tidak begitu menyita perhatian publik sebagaimana berita seputar eskalasi politik menuju pemilihan kepala daerah di beberapa kabupaten/kota/provinsi di Indonesia atau dibandingkan dengan tertangkapnya seorang artis karena kasus narkoba.

Kematian vokalis dan pemain gitar kelompok musik legendaris Indonesia, Koes Plus, ini menimbulkan duka cukup dalam bagi dunia musik Indonesia. Betapa tidak? Perkembangan musik pop Indonesia senyatanya tak bisa dilepaskan dari Koes Plus. Ingar bingar musik pop Indonesia terkini seolah berutang budi dengan Koes Plus karena grup musik inilah entry point tumbuh kembangnya musik populer Indonesia.

Eksistensi Koes Plus dalam perkembangan musik populer boleh disejajarkan dengan Rhoma Irama pada musik dangdut. Mereka bukan hanya seniman yang dengan karya-karya mereka telah membangun jagat musik Indonesia, namun juga pada tahap selanjutnya menjadi stimulus lahirnya kelompok-kelompok band sejenis sesudah mereka.

Embrio kelahiran Koes Plus diawali pada awal 1960-an saat lima pemuda bersaudara putra pasangan R. Koeswoyo dan Rr. Atmini, yakni Koestono (Tony), Koesnomo (Nomo), Koesdjono (Jon), Koesroyo (Yok), dan Koesjono (Yon) membentuk band Koes Bersaudara. Dalam perjalanannya kemudian, Yon dan Nomo memutuskan keluar dari Koes Bersaudara dan Murry (Kasmuri) masuk dalam formasi band sehingga nama Koes Bersaudara berganti menjadi Koes Plus.

Selanjutnya adalah: Kemundulan Koes Bersaudara hampir bersamaan dengan

LOKER SOLO
Siapa Mau Kerja di Dealer ASTRA, Cek Syaratnya di Sini, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Murid Kencing Berlari, Guru (Honorer) Mati Seorang Diri

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (5/2/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Pendidikan Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Bambang Ekalaya atau sering disebut Palgunadi adalah…