Suasana Pantai Baron, Kemadang, Tanjungsari, Gunungkidul, Minggu (31/12/2017). (Harian Jogja/Kusnul Isti Qomah) Suasana Pantai Baron, Kemadang, Tanjungsari, Gunungkidul, Minggu (31/12/2017). (Harian Jogja/Kusnul Isti Qomah)
Senin, 15 Januari 2018 13:55 WIB David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

Kebijakan Penataan Pantai Gunungkidul Harus Diperjelas

Penataan kawasan pantai tidak bisa dilakukan dengan gegabah

Solopos.com, GUNUNGKIDUL-Penataan pantai Gunungkidul sudah direncanakan sejak lama. Namun, hingga sekarang upaya tersebut belum terealisasi hingga sekarang. Kebijakan itu dinilai harus diperjelas.

Ketua Komisi C DPRD Gunungkidul Purwanto mengatakan, belum ada langkah konkret untuk melakukan penataan tersebut. Sebagai buktinya, hingga sekarang belum ada kebijakan yang mendukung dalam rencana penataan. Kebijakan ini harus diperjelas. Jangan sampai wacana penataan tersebut malah membuat masyarakat di kawasan pesisir menjadi resah dengan rencana tersebut.

“Harus ada kepastian. Untuk itu, kami meminta keseriusan dalam rencana penataan kawasan, khususnya di sepanjang sempadan pantai,” ujar Politisi Gerindra itu, Minggu (15/1/2018).

Baca juga : Penataan Pantai Gunungkidul Masih Sekadar Wacana

Purwanto mengungkapkan, pihaknya pernah melakukan klarifikasi kepada Dinas Pariwisata Gunungkidul terkait dengan wacana penataan sepanjang kawasan pantai. Namun, dari klarifikasi tersebut, pelaksanaan belum bisa terlaksana karena terbatas masalah anggaran dan sumber daya manusia.

“Menurut saya ini bukan masalah karena sudah ada rencana jadi harus dilaksanakan. Namun, saat penataan harus ada solusi sehingga tidak menimbulkan masalah dengan pedagang di pantai,” imbuhnya.

Sekretaris Dinas Pariwisata Gunungkidul Hary Sukmono mengatakan, untuk penataan kawasan pantai tidak bisa dilakukan dengan gegabah. Pasalnya, kebijakan tersebut harus memiliki konsep yang jelas sehingga pelaksanaannya tidak menimbulkan gejolak di masyarakat.

“Untuk penataan kami prioritaskan untuk kawasan Baron dan Krakal. Adapun progresnya, di Baron sedang disusun DED penataan, sedang di Krakal sudah ada pembebasan lahan yang digunakan sebagai lokasi dalam penataan,” katanya.

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…