Kondisi pilar tengah jembatan Jl. M.W. Maramis, Banjarsari, Solo, retak, Senin (7/8/2017). (Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos) Kondisi pilar tengah jembatan Jl. M.W. Maramis, Banjarsari, Solo, retak, Senin (7/8/2017). (Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos)
Senin, 15 Januari 2018 22:35 WIB Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos Solo Share :

INFRASTRUKTUR SOLO
Kreteg Abang Baru Bisa Diperbaiki Mulai Juli, Ini Alasannya

Pemkot Solo menyatakan baru bisa memperbaiki Kreteg Abang di Jl. M.W. Maramis pada Juli mendatang.

Solopos.com, SOLO — Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Solo baru bisa memperbaiki jembatan Jl. M.W. Maramis, Banjarsari, yang dikenal dengan sebutan Kreteg Abang mulai Juli mendatang.

Kasi Pembangunan Jalan dan Jembatan Dinas PUPR Solo, Joko Supriyanto, mengatakan proyek perbaikan jembatan Jl. M.W. Maramis tidak bisa dilaksanakan dalam waktu dekat ini karena Pemerintah Kota (Pemkot) Solo mesti melelang dulu pekerjaan pembuatan detail engineering design (DED) proyek tersebut.

Dinas PUPR menjadwalkan proses lelang penyusunan DED bisa rampung pada April 2018. Setelah itu, Pemkot baru melaksanakan lelang fisik pembangunan ulang Kreteg Abang.

“Mei kami jadwalkan pelaksanaan lelang fisik. Butuh waktu sebulan sampai dua bulan untuk proses lelang hingga menemukan pemenang. Target kami memang pembangunan jembatan masuk pertengahan tahun saat sudah memasuki musim kemarau,” kata Joko saat berbincang dengan Solopso.com di ruang kerjanya, Senin (15/1/2018) pagi.

Baca:

Rawan Ambruk, Kreteg Abang Solo Ditutup

Sempat Ditutup Total, Kreteg Abang Kini Boleh Dilewati Sepeda Motor

Joko belum bisa memastikan kapan proyek perbaikan Kreteg Abang bisa selesai dan bisa digunakan lagi secara leluasa oleh masyarakat. Dinas PUPR perlu berkoordinasi lebih dulu dengan konsultan perencanaan perbaikan jembatan Jl. M.W. Maramis.

Sedangkan konsultan kini juga belum tersedia mengingat belum ada lelang perencanaan. Dinas PUPR perlu memastikan apakah dana dari APBD sekitar Rp10 miliar untuk pembangunan jembatan itu cukup atau tidak.

“Perbaikan jembatan akan digarap dengan dana sekitar Rp10 miliar. Jika dana itu ternyata dianggap belum cukup untuk membangun jembatan hingga selesai, kami akan coba anggarkan kekurangannya pada APBD perubahan. Yang jelas, dari Satlantas Polresta Solo dan Dishub Solo juga menghendaki perbaikan jembatan bisa selesai hanya dalam satu tahun anggaran,” jelas Joko.

Joko menerangkan Kreteg Abang bakal dibangun ulang. Bangunan jembatan lama bakal dibongkar lalu diganti konstruksi jembatan baru. Sesuai usulan dari Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS), jembatan Jl. M.W. Maramis rencananya dibangun tanpa pilar di bagian tengah.

Keberadaan pilar di tengah sungai menghambat laju aliran Kali Anyar. Selain itu, pilar di bagian tengah juga rawan rusak karena dihantam benda-benda besar yang hanyut dalam sungai.

“Desain jembatan Jl. M.W. Maramis, minimal akan seperti Jembatan Sabrang Lor di Mojosongo. Ini masukan juga dari BBWSBS. Salah satu hal yang akan diperhatikan yakni Kreteg Abang nantinya tidak dilengkapi pilar tengah. Lebar jembatan nantinya ditambah 1 meter sehingga menjadi 8 meter,” terang Joko.

Warga Kampung Bibis Kulon RT 003/RW 017 Gilingan, Sukino, 70, meminta Pemkot segera memperbaiki Kreteg Agung yang rusak sehingga bisa dimanfaatkan lagi oleh masyarakat. Banyak pihak yang dirugikan atas penutupan jembatan tersebut. Warga sekitar terpaksa memutar jauh untuk bisa meyeberangi Kali Anyar.

Belum lagi jika warga terjebak macet di Jembatan Ngemplak maupun Jembatan Kandang Sapi yang menjadi jalur alternatif bagi para pengendara saat tidak bisa lewat Jembatan Jl. M.W. Maramis.

“Kreteg Abang mesti segera diperbaiki. Banyak kendaraan yang setiap harinya butuh dilewatkan melalui jembatan ini untuk menuju ke arah kampus UTP, kampus AUB, Bibis Luhur, hingga kawasan Mojosongo atau wilayah Solo utara,” kata Sukino.

Lowongan Pekerjaan
Kepala Sekolah KB & TKIT Alhikam Delanggu, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Visi Pedagogis Daoed Joesoef

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (27/01/2018). Esai ini karya M. Fauzi Sukri, penulis buku Guru dan Berguru (2015) dan Pembaca Serakah (2017). Alamat e-mail penulis adalah fauzi_sukri@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Indonesia, khususnya dunia pendidikan, kehilangan sosok pemikir pedagogis tangguh yang…