Na'matur Rofiqoh (foto: istimewa). Na'matur Rofiqoh (foto: istimewa).
Senin, 15 Januari 2018 05:00 WIB Kolom Share :

GAGASAN
Mencari Alamat Bahasa Indonesia

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (06/01/2018). Esai ini karya Na’imatur Rofiqoh, ”pemukul” huruf dan juru gambar yang tinggal di Solo. Alamat e-mail penulis adalah naimaturr@gmail.com.

Solopos.com, SOLO — Bahasa Indonesia tidak lagi beralamat di Indonesia. Indonesia malah jadi tempat tinggal bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Bahasa asing itu muncul di restoran, toko, taman, mal, perumahan, sekolahan, dan rupa-rupa fasilitas publik. Bahasa asing memeluk erat semua tempat di Indonesia.

Kita bisa menangkap keresahan tentang bahasa Indonesia itu di Tajuk Solopos edisi 28 Desember 2017: Bahasa Indonesia tidak cukup hanya digunakan dalam percakapan. Perlu ada aktivitas pendukung yang lain agar bahasa Indonesia jadi ”tuan rumah” di negeri sendiri, salah satunya dengan penamaan di ruang-ruang publik.

Narasi pertengkaran bahasa Indonesia dan bahasa asing gubahan negara dan media massa menghidangkan alur serupa, berkali-kali, padahal belum pernah ada seorang pun yang berani mencatat seluruh nama ruang publik, warung, toko, mal, sekolahan, dan lain sebagainya di semua wilayah Indonesia.

Mencatat di setiap gang di kota dan pelosok desa lalu mempersembahkan data perbandingan akurat penamaan dengan bahasa asing dan dengan bahasa Indonesia itu ke hadapan publik. Bahasa Indonesia telanjur dituduh kalah dan terusir dari rumahnya sendiri.

Kita bisa mencari alamat bahasa Indonesia di puisi. Avianti Armand di Buku Tentang Ruang (2016) menulis puisi Hal-Hal yang Wajar Hari-Hari Ini. Puisi memuat bait-bait berjudul Organic, Bahasa Inggris, Minimalis, Luar Negeri, Facebook, Twitter, Instagram, Cina, Kuliner, dan Gym.

Di puisi bahasa asing menjadi perkara lumrah yang direguk manusia Indonesia mutakhir yang ”teknologis”. Bahasa asing dipercaya sebagai satu mantra ampuh menjelmakan diridalam kehormatan manusia urban modern bersama peristiwa sosial di Facebook, Twitter, Instagram, atau saat ke luar negeri.

Pada bait puisi Bahasa Inggris bisa kita temukan kalimat: Baidewei, kita sudah sakses mencapai tarjet yang kita set, wicis ikuel dengan seleri presiden dalam setahun. Konggrats, fren! Kita harus selebresyen!” Puisi berbahasa Inggris tetapi tertulis dalam ejaan bahasa lisan bahasa Indonesia.

Selanjutnya adalah: Puisi seolah-olah mengejek orang-orang yang gemar

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Visi Pedagogis Daoed Joesoef

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (27/01/2018). Esai ini karya M. Fauzi Sukri, penulis buku Guru dan Berguru (2015) dan Pembaca Serakah (2017). Alamat e-mail penulis adalah fauzi_sukri@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Indonesia, khususnya dunia pendidikan, kehilangan sosok pemikir pedagogis tangguh yang…