Simpang empat Pedan, Jl. Karangwuni - Pedan, Kecamatan Pedan, Klaten, Jawa Tenga, Rabu (3/1/2018). (Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos) Simpang empat Pedan, Jl. Karangwuni - Pedan, Kecamatan Pedan, Klaten, Jawa Tenga, Rabu (3/1/2018). (Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos)
Senin, 15 Januari 2018 02:00 WIB Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos Klaten Share :

ASAL USUL
Pangeran Pranowo Pendiri Pedan Klaten

Asal usul Pedan Klaten.

Solopos.com, KLATEN — Di Kecamatan Pedan, Klaten tidak ada dukuh bernama Pedan. Lazimnya, nama kecamatan diambil dari sebuah nama dukuh atau desa setempat.

Nama Pedan sendiri berasal dari sebuah kisah hidup Pangeran Pranowo, seorang pelarian kerajaan Majapahit pada abad XIII. Saat itu, ajaran Islam masuk ke tanah Jawa dan terjadi pertentangan dengan pemeluk Hindu yang banyak dianut orang-orang Majapahit.

Pangeran Pranowo beserta keluargala dan sahabatnya lantas mengungsi ke daerah pinggiran untuk menghindari konflik. Di kawasan itu mereka bercocok tanam sayuran dan palawija untuk kebutuhan sehari-hari layaknya rakyat jelata.

Pangeran Pranowo pun menanam sebuah pohon beringin untuk berteduh seusai bekerja. “Lambat laun kawasan itu jadi ramai sebagai tempat transaksi sayuran atau janganan. Pohon beringin itu pun kini dikenal sebagai Beringin Janganan,” kata Widodo, Sekretaris Desa Sobayan, saat ditemui Solopos.com di kantornya, Rabu (3/1/2018).

Ramainya kawasan itu tak membuat senang hati Pangeran Pranowo. Ia justru cemas persembunyiannya selama ini terbongkar. Di tengah kegalauannya, ia memutuskan untuk melanjutkan penyamarannya dengan cara bertapa seraya menjemur diri layaknya orang gila.

“Setiap hari ia menjemur dirinya di tengah-tengah keramaian atau pepe dalam bahasa Jawa. Ia lalu dikenal sebagai orang gila atau istilahnya edan. Kebiasaan berjemur itulah yang lantas orang-orang menyebut diringa Kiyai Pepe atau Mbah Pepe,” terang Widodo.

Saat dirasa penyamarannya berhasil, suatu hari Pangeran Pranowo berujar bahwa jika daerah ini suatu saat menjadi ramai, daerah ini dinamai Pedan. Pedan berasal dari kari kata pepe artinya berjemur dan edan artinya gila. Pepe dan edan adalah strategi sang pangeran untuk menyembunyikan identitasnya saat itu.

Kecamatan Pedan terbukti menjadi daerah yang ramai. Dahulu di kawasan itu ada tiga bioskop ketika di Klaten Kota belum memilikinya. Ketiga bioskop itu kini tutup.

lowongan pekerjaan
PT. BUMI AKSARA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Haul dan Risalah Maulid Simtuddurar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (09/01/2018). Esai ini karya Muhammad Dalhar, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret dan anggota Jemaah Ahbabul Musthofa. Alamat e-mail penulis adalah mbahdalhar7@gmail.com Solopos.com, SOLO–Haul Habib Ali kembali digelar….