Ratusan peserta mengikuti seminar Optimalisasi Digitalisasi Literasi dan Pentingnya Menumbuhkan Minat Baca Anak Sejak Dini di Central Paintball Condongcatur, Sleman, Minggu (14/1/2018). (Harian Jogja/Abdul Hamid Razak) Ratusan peserta mengikuti seminar Optimalisasi Digitalisasi Literasi dan Pentingnya Menumbuhkan Minat Baca Anak Sejak Dini di Central Paintball Condongcatur, Sleman, Minggu (14/1/2018). (Harian Jogja/Abdul Hamid Razak)
Minggu, 14 Januari 2018 23:20 WIB Abdul hamid Razak/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

Pemakaian Gawai oleh Anak Harus Didampingi

Orang tua harus hati-hati membelaki gawai kepada anak-anaknya

Solopos.com, SLEMAN-Era digital menuntut pengawasan lebih pada anak. Jika tidak, anak bakal terjerumus ke masalah yang pelik.

Pendiri Rumah Baca Family Library and English Club Ganjar Widhiyoga mengatakan, perkembangan teknologi informasi satu sisi membuat prpses produksi alat-alat elektronik mencapai taraf produksi massal. Hasilnya, gawai menjadi murah dan mudah didapat. Tidak ketinggalkan juga anak-anak saat inipun banyak menggunakan gawai.

“Keluarga sebagai unit terkecil masyarakat pun tidak luput dari penetrasi gawai. Maka, perlu dilakukan pendidikan pada anak agar mereka bertanggung jawab dengan gawainya,” katanya saat seminar Optimalisasi Digital Literasi dan Pentingnya Menumbuhkan Minat Baca Anak Sejak Dini, Minggu (14/1/2018).

Menurutnya, orang tua harus hati-hati membelaki gawai kepada anak-anaknya. Bayi sampai balita berusia dua tahun tidak boleh terpapar gawai dan aktivitas digital. Selain tidak akan membawa manfaat positif, juga bayi sebaiknya belajar dari pengalaman interaksi secara langsung dengan lingkungannya.

“Jikapun akan mengenalkan konten digital, konten harus berkualitas tinggi seperti sesame street atau cebeebies yang dirancang untuk balita,” katanya.

Sementara, pegiat taman baca masyarakat Andi Purnawan Putra menilai perkembangan teknologi bisa mendorong minat anak untuk meningkatkan budaya membaca. Dengan syarat, dilakukan pendampingan orang tua atau orang dewasa. “Maraknya perkembangan ini, siapapun bisa menyebar informasi. Menyaring, memilah dan menyeleksi informasi tentunya dibutuhkan,” katanya.

Orang tua membutuhkan strategi untuk melakukan pendampingan agar anak tetap mampu membudayakan membaca baik di rumah, lingkungan sekolah, maupun masyarakat. “Misalnya dengan membuat mading. Lomba penulisan hingga membuat kelompok bimbel atau workshop atau taman bacaan,” katanya.

Ketua Panitia Kegiatan Abdul Rosyid menjelaskan, kegiatan tersebut diikuti ratusan orang baik dari DIY maupun luar DIY. Kegiatan yang diprakarsasi oleh PGRA STPI Bina Insani Mulia Jogja tersebut bertujuan untuk mengingatkan serta mengantisipasi keburukan pada anak di era digitalisasi ini.

“Banyak anak tak terkontrol akibat media sosial. Kami mengajak agar orang tua juga melakukan pendampingan kepada anaknya,” ujarnya.

lowongan pekerjaan
SMK CITRA MEDIKA SRAGEN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Haul dan Risalah Maulid Simtuddurar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (09/01/2018). Esai ini karya Muhammad Dalhar, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret dan anggota Jemaah Ahbabul Musthofa. Alamat e-mail penulis adalah mbahdalhar7@gmail.com Solopos.com, SOLO–Haul Habib Ali kembali digelar….