Pemilik usaha kerajinan kulit ‘Bengkeng’, Ghina Fairuza menunjukkan beberapa produknyakerajinan kulit yang dibuatnya, Jumat (12/1/2018). (Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja) Pemilik usaha kerajinan kulit ‘Bengkeng’, Ghina Fairuza menunjukkan beberapa produknyakerajinan kulit yang dibuatnya, Jumat (12/1/2018). (Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja)
Minggu, 14 Januari 2018 09:20 WIB Rima Sekarani I.N/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

KISAH INSPIRATIF
Ghina Tak Menyangka, Proyek Tugas Akhir Kampus Berkembang Jadi Bisnis

Kisah inspiratif datang dari seorang perempuan di Jogja yang mengembangkan usaha dari tugas akhir

Solopos.com, SLEMAN-Peminat kerajinan kulit barang kali belum begitu banyak di Jogja. Meski begitu, bisnis kerajinan kulit dengan menawarkan desain eksklusif dinilai cukup potensial untuk dikembangkan.

Hal tersebut diungkapkan pemilik usaha kerajinan kulit ‘Bengkeng’, Ghina Fairuza kepada Solopos.com, Jumat (12/1/2018). Dia mengaku masih seorang pendatang baru di dunia bisnis. Dia bahkan belum genap setahun menjajal usaha kerajinan kulit karena memang baru memulainya pada 2017 lalu.

“Awalnya itu karena aku lagi bikin tugas akhir dan memilih fokus ke kerajinan kulit sapi,” kata Ghina.

Ghina belum lama ini lulus dari Jurusan Pendidikan Seni Kerajinan UNY. Saat hendak menggarap tugas akhir, ada lima jenis kerajinan yang bisa dipilih, yakni logam, batik, keramik, kayu dan kulit. Dia lalu tertarik menghasilkan karya berupa tas kulit dengan hiasan berupa gambar yang dibuat dengan teknik leather carving atau diukir.

Sebelum proyeknya rampung, Ghina malah mendapatkan pesanan tas kulit dari seorang teman. Dia lalu membikin tas kerja pria yang kemudian dijual seharga Rp500.000. Setelah itu, pesanan berdatangan dari teman-teman lain dan merembet ke kenalan mereka.

Ghina juga mengiyakan saat beberapa diantaranya ada yang memesan dompet kulit. “Dulu juga iseng bikin hiasan pigura pakai potongan bahan kulit sisa untuk hadiah wisuda ke teman tapi ternyata setelah itu banyak yang pengin beli,” ujar Ghina.

Ghina akhirnya mencoba membesarkan usaha kerajinan kulitnya setelah lulus. Dia mulai melakukan promosi di media sosial. Namun, sementara ini dia masih sebatas melayani pesanan karena terkendala modal yang terbatas.

Selain itu, dia berpendapat jika peminat kerajinan kulit di Jogja masih minim karena harganya yang tinggi. Apalagi untuk produk yang sama sekali tidak menggunakan bahan tambahan berupa kulit sintetik.

Meski begitu, Ghina cukup yakin potensi bisnis kerajinan kulit cukup menjanjikan ke depannya. Dia ingin membidik konsumen menengah ke atas dengan menawarkan desain yang ekslusif.

“Semuanya saya bikin manual. Furingnya juga saya jahit sendiri. Mereka bisa pesan mau seperti apa desainnya atau mau kayak apa bentuk tas atau dompetnya,” ungkap perempuan kelahiran 1995 itu.

Hanya saja, calon konsumen mesti siap bersabar. Pasalnya, Ghina hanya menerima maksimal empat pesanan tas atau dompet dalam sebulan. “Kalau sampai ada pesanan lebih dari itu, biasanya saya tawarkan ikut bulan berikutnya. Bikinnya memang tidak bisa buru-buru. Harus dengan suasana hati yang oke juga biar hasilnya lebih bagus,” ucap Ghina.

lowongan pekerjaan
PT.SEJATI CIPTA MEBEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Haul dan Risalah Maulid Simtuddurar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (09/01/2018). Esai ini karya Muhammad Dalhar, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret dan anggota Jemaah Ahbabul Musthofa. Alamat e-mail penulis adalah mbahdalhar7@gmail.com Solopos.com, SOLO–Haul Habib Ali kembali digelar….