Para remaja anggota MLM Qnet mendapatkan pengarahan petugas Satpol PP Boyolali di Dukuh Regalrayung, Desa Pelem, Simo, Selasa (18/7/2017). (Aries Susanto/JIBI/Solopos) Para remaja anggota MLM Qnet mendapatkan pengarahan petugas Satpol PP Boyolali di Dukuh Regalrayung, Desa Pelem, Simo, Selasa (18/7/2017). (Aries Susanto/JIBI/Solopos)
Minggu, 14 Januari 2018 22:00 WIB Aries Susanto/JIBI/Solopos Boyolali Share :

Keluar Jutaan Rupiah, Korban MLM Qnet di Boyolali Berjatuhan

Korban MLM Qnet terus berjatuhan. Terbaru di wilayah Teras, Boyolali.

Solopos.com, BOYOLALI – Korban dugaan penipuan multi level marketing (MLM) Q-Net di Boyolali belum kunjung mereda. Setelah terjadi di Simo, Banyudono, Mojosongo, Andong, dan Ngemplak, kali ini kembali terjadi di wilayah Kecamatan Teras.

Kapolsek Teras, AKP Ahmad Nadiri, mengungkapkan ada belasan remaja yang sempat diamankan di Mapolsek Teras. Mereka mengaku dijanjikan bekerja di usaha bisnis MLM bernama Q-Net.

“Mereka datang ke sini [Mapolsek Teras] untuk mengadukan nasibnya. Sampai kami ngopeni mereka, dan beri makan, kasihan mereka ini. Anak-anak remaja dari jauh-jauh, tapi ke Boyolali hanya jadi korban penipuan,” jelas Nadiri kepada Solopos.com, Selasa (2/1/2018). (Baca Juga: Sejak Ikut Qnet Gadis Lamongan Tak Diketahui Keberadaannya)

Nadiri mengungkapkan, rata-rata korban dugaan penipuan Q-Net adalah warga luar Boyolali. Ada yang dari Magetan, Pacitan, Indramayu, dan Jawa Tengah. Mereka mengaku sudah mengeluarkan uang cukup banyak untuk bisa diterima kerja di Q-Net.

Namun, setelah mengeluarkan uang, mereka malah telantar. “Ada yang sampai menggadaikan sepeda motor pula. Sebagian kami minta orang tuanya dan pacarnya untuk menjemput,” jelasnya.

Media Online

Anak-anak remaja itu tertarik di Q-Net dengan iming-iming pekerjaan yang tersebar melalui brosur dan di media online. Modus yang digunakan pelaku ialah dengan melakukan “cuci otak” kepada anak-anak remaja melalui sebuah seminar. (Baca: Kisah Para Remaja Korban Qnet)

Anak-anak yang masih lugu itu pun terpedaya dan rela mengeluarkan uang meski dengan meminta orang tua dan menggadaikan sepeda motornya. “Mereka diberi suntikan motivasi agar mau bergabung jika ingin kaya dan sukses. Setelah tercuci otaknya, mereka rela mengeluarkan uang yang tak sedikit. Nah, setelah itu, mereka bingung,” jelasnya.

Kasus yang terjadi di Teras, kata Nadiri, adalah rentetan kasus di sejumlah daerah di Boyolali, seperti Simo, Mojosongo, Ngemplak, Banyudono, Andong dan lain-lainnya. “Saya pernah bubarkan juga di Ngemplak saat masih bertugas di Ngemplak. Eh…ternyata di Teras juga ada,” terangnya. (Baca: Penampungan Korban Qnet)

Menurut Nadiri, kesulitan pengungkapan kasus ini ialah tak adanya laporan dari korban. Sebab, korban yang tercuci otaknya merasa tak ditipu, mereka hanya bisa mengeluh karena terikat dengan perjanjian. “Mungkin Polres dengan penyidik yang banyak bisa menyelidiki kasus ini. Sebab, korban Q-Net ini sudah cukup banyak,” terangnya.

Pengacara yang biasa menangani kasus Q-Net di Boyolali, Hadiyono, menjelaskan orang-orang yang sudah bergabung dengan Q-Net memang tak akan mendapatkan pendapatan jika tak mau taat pada AD/ART. “Syarat mereka bisa bergabung kan harus beli produk Q-Net seharga Rp8,5 juta. Setelah itu, mereka harus bantu menjualkan produk kepada teman-temannya. Kalau enggak bisa, ya enggak dapat penghasilan,” jelasnya. (Aries Susanto)

lowongan pekrjaan
Akuntansi, Administrasi,Marketing,Tehnisi ,Gudang/Driver, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Haul dan Risalah Maulid Simtuddurar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (09/01/2018). Esai ini karya Muhammad Dalhar, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret dan anggota Jemaah Ahbabul Musthofa. Alamat e-mail penulis adalah mbahdalhar7@gmail.com Solopos.com, SOLO–Haul Habib Ali kembali digelar….