Prof. Darmanto Jatman. (Facebook.com) Prof. Darmanto Jatman. (Facebook.com)
Minggu, 14 Januari 2018 04:50 WIB JIBI/Solopos/Antara Semarang Share :

KABAR DUKA
Budayawan Darmanto Jatman Tutup Usia

Kabar duka datang dari Semarang terkait tutup usianya budayawan Darmanto Jatman.

Solopos.com, SEMARANG — Budayawan Semarang yang juga akademisi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Prof. Darmanto Jatman dikabarkan meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr. Kariadi Semarang karena sakit.

“Beliau meninggal sekitar pukul 17.00 WIB di RSUP dr. Kariadi Semarang. Sebelumnya, sudah mengalami stroke,” kata Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Humas Undip Nuswantoro Dwiwarno mengungkap kabar duka itu di Semarang, Sabtu (13/1/2018).

Berdasarkan informasi yang didapatkan dari pihak keluarga, kata dia, guru besar emeritus Undip Semarang tersebut dirawat di RS sejak 3 Januari 2018 lalu karena kondisinya yang drop dan terkena infeksi kandung kemih.

Wafat pada usia 75 tahun, Darmanto Jatman yang sedemikian dikenal kiprahnya dalam dunia sastra dan seni itu meninggalkan seorang istri, Sri Maryati yang dinikahinya sejak 1970 dan lima orang anak. Darmanto yang lahir di Jakarta, 16 Agustus 1942 tercatat sebagai perintis dan pendiri Jurusan Psikologi Undip dan menjadi kepala program studi, dan dikukuhkan sebagai guru besar pada usia 65 tahun.

Namun, Nuswantoro menjelaskan sosok yang akrab disapa Darmanto JT itu juga pernah mengajar di sejumlah fakultas, seperti Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Undip. “Sebagai pengajar di Fakultas Psikologi Undip, beliau meletakkan dasar tentang pentingnya peran keluarga dalam perkembangan kejiwaan. psikologi keluarga sekarang ini menjadi kekhasan Fakultas Psikologi Undip,” katanya.

Meski sebagai pengajar psikologi, darah seni yang dimiliki jebolan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta itu tetap mengalir, antara lain pernah mendirikan Teater Kristen Yogya dan Studiklub Sastra Kristen Yogya. Kumpulan sajaknya juga diterbitkan, seperti Sajak-Sajak Putih (1965) bersama Jajak M.D. dan Dharmadi Sosropuro, Sajak Ungu (1966) bersama A. Makmur Makka, dan pernah menyutradarai beberapa pementasan teater.

Darmanto kerap diundang untuk membacakan puisinya di forum-forum internasional, seperti Festival Puisi Adelaide di Austria (1980), International Poetry Reading di Rotterdam, Belanda (1983) yang kemudian dibukukan. Tercatat, banyak sekali karya sastra Darmanto, seperti Sajak-Sajak Manifes (1968), Bangsat (1975), Ki Blaka Suta Bla Bla (1980), Karto Iyo Bilang Boten (1981), Sang Damanto (1982), dan Golf untuk Rakyat (1995).

Saat ini, jenazah Darmanto disemayamkan di rumah duka Jl. Menoreh Raya No. 75, Kota Semarang dan rencananya akan dimakamkan di Permakaman Undip, namun waktunya masih dirapatkan oleh keluarga. “Ada rencana dimakamkan di Permakaman Undip, tetapi pastinya masih menunggu kepastian dari keluarga. Sebab, anaknya yang berada di Australia baru sampai di Indonesia besok [14/1/2018] sore pukul 16.00 WIB,” kata Nuswantoro menutup kabar duka dari lingkungan Undip Semarang itu.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

lowongan pekerjaan
PT. BUMI AKSARA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Haul dan Risalah Maulid Simtuddurar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (09/01/2018). Esai ini karya Muhammad Dalhar, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret dan anggota Jemaah Ahbabul Musthofa. Alamat e-mail penulis adalah mbahdalhar7@gmail.com Solopos.com, SOLO–Haul Habib Ali kembali digelar….