Puluhan anggota Komunitas Mojo Bersatu bergotong-royong membedah rumah milik Yuliatin, 48, warga Kampung Teguhan RT 008/RW 003, Sragen Wetan, Sragen, Minggu (14/1/2018). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos) Puluhan anggota Komunitas Mojo Bersatu bergotong-royong membedah rumah milik Yuliatin, 48, warga Kampung Teguhan RT 008/RW 003, Sragen Wetan, Sragen, Minggu (14/1/2018). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)
Minggu, 14 Januari 2018 22:35 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

Ibu 2 Anak Penjual Soto Dapat Kejutan Bedah Rumah dari Komunitas Mojo Bersatu Sragen

Komunitas Mojo Bersatu Sragen secara spontanitas membedah rumah salah satu warga miskin di Kelurahan Sragen Wetan.

Solopos.com, SRAGEN — Sejumlah tukang kayu membuat konstruksi atap rumah sederhana milik Yuliatin, 48, di Kampung Teguhan RT 008/RW 003, Kelurahan Sragen Wetan, Sragen Kota. Rumah berukuran 5 meter x 10 meter itu dihuni Yuliatin dan kedua anaknya.

Aksi spontanitas bedah rumah itu dilakukan Komunitas Mojo Bersatu di bawah komando Ichwan L.G. Para anggota komunitas bekerja cepat. Ada yang memasang konstruksi atap dari asbes bergelombang. Ada pula yang memplester tembok dengan campuran pasir dan semen. Sementara anggota lainnya kebagian membersihkan bagian dalam rumah.

“Semua itu dilakukan secara spontan. Baru tadi malam [Sabtu, 13/1/2017] pukul 23.00 WIB, rasan-rasan dengan Mas Ichwan ternyata paginya langsung direalisasi. Sumber dananya ya dari Mas Ichwan dan tenaganya dari teman-teman dalam komunitas itu,” ujar tokoh Karangtaruna Kampung Teguhan, Mario, saat berbincang dengan Solopos.com di sela-sela rehab rumah itu, Minggu (14/1/2018).

Komunitas Mojo Bersatu itu memang bergerak dalam bidang sosial. Ichwan yang bekerja serabutan tak berpikir dari mana sumber dananya. Begitu ada rezeki, Ichwan langsung menyalurkan bantuan kepada warga miskin yang membutuhkan.

Kegiatan sosial itu sudah berlangsung lama, mulai dari membangun jalan ke permakaman, membuat penerangan permakaman, jembatan ke permakaman, uruk jalan, sampai penawaran jasa tukang gali kubur gratis. Semula semua kegiatan itu dilakukan Ichwan dan teman-temannya di wilayah Mojo, seperti Mojokulon dan Mojomulyo.

Sejak beberapa tahun terakhir, Ichwan mulai memberikan bantuan kepada warga yang membutuhkan di luar Mojo. “Ini merupakan bedah rumah kali keenam dan ya baru kali ini kami membantu warga di luar Mojo, khususnya untuk bantuan bedah rumah. Bagi kami yang penting bisa meringankan beban warga yang membutuhkan,” ujarnya.

Yuliatin seperti mendapat kejutan saat tiba-tiba didatangi banyak warga dan ternyata ingin membantu merehab rumahnya. Yuliatin sehari-hari berjualan soto seharga Rp3.000/mangkuk. Dalam sehari, ia mendapat hasil kotor Rp150.000-Rp250.000/hari.

“Saya tidak menyangka rumah saya mau dibedah. Harapan saya ternyata bisa terkabul. Iya, ini spontanitas,” ujarnya.

Yuliatin berjualan soto setiap pagi hingga siang hari. Malam hari, rumahnya ditumpangi kakaknya Giyanti, 55, untuk berjualan hidangan istimewa kampung (HIK). Giyanti tidak tinggal di rumah itu tetapi tinggal di Kampung Mageru, Kelurahan Sragen Tengah, yang berbatasan dengan Sungai Garuda dengan Kampung Teguhan.

lowongan pekerjaan
Penerbit Ziyad Visi Media, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Haul dan Risalah Maulid Simtuddurar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (09/01/2018). Esai ini karya Muhammad Dalhar, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret dan anggota Jemaah Ahbabul Musthofa. Alamat e-mail penulis adalah mbahdalhar7@gmail.com Solopos.com, SOLO–Haul Habib Ali kembali digelar….