Harga beras di salah satu kios beras di Pasar Demangan dipatok mahal, baik dari kualitas medium maupun premium, Jumat (12/1/2018). (Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja) Harga beras di salah satu kios beras di Pasar Demangan dipatok mahal, baik dari kualitas medium maupun premium, Jumat (12/1/2018). (Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja)
Sabtu, 13 Januari 2018 12:40 WIB Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

Ini Penyebab Harga Beras Terus Naik

Kendala hama dan cuaca, harga beras petani naik.

Solopos.com, BANTUL–Harga beras di pasaran terus merangkak naik sejak akhir tahun lalu. Kondisi itu dipicu kenaikan harga beras di tingkat petani. Pasalnya pada musim tanam kali ini perawatan tanaman padi lebih sulit karena hama dan cuaca.

Salah seorang petani Desa Timbulharjo, Sungkono, 35 mengungkapkan perawatan tanaman padi pada musim kali ini jauh lebih sulit. Biaya yang dibutuhkan untuk membeli berbagai jenis pestisida juga membengkak. Ini karena tidak sedikit tanaman padi yang terserang berbagai jenis hama. Seperti belalang, keong, walang sangit, wereng, hingga serangan burung.

Kondisi ini, menurutnya, diperparah dengan cuaca ekstrem. Sungkono menyebut angin besar pada November hingga Desember lalu memicu buliran padi kosong alias gabuk. Bahkan tidak sedikit petani yang mengalami gagal panen. Oleh sebab itu, pada masa tanam kali ini petani mematok harga lebih mahal. Beras jenis IR 64, misalnya, dipatok Rp10 ribu per kilogram. “September lalu [musim panen sebelumnya] sekitar Rp8500 per kilo,” kata petani yang mengolah lahan seluas 1000 meter persegi ini, Jumat (12/1/2018).

Hal senada disampaikan Tayem, 54. Petani asal Desa Trimulyo ini mengakui harga jual gabah basah jenis IR 64 naik dari Rp35 ribu menjadi Rp45 ribu per kuintal. Kendati demikian, ia menyebut kenaikan ini masih belum sebanding dengan berbagai kendala yang dialami para petani. “Kudu rajin nyemprot. Nek ora nyemprot kalah kaleh walang,” ujarnya.

Karena hulu perputaran beras terganggu, tempat penggilingan padi juga terkena imbasnya. Zubaidi, seorang pengusaha penggilingan padi mengatakan sejak dua bulan terakhir ia jarang menggiling gabah petani. Penyebabnya mayoritas hasil panen padi para petani di sekitar rumahnya tak maksimal. “Banyak yang gabuk [kosong],” tuturnya.

lowongan pekerjaan
SMK CITRA MEDIKA SRAGEN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Haul dan Risalah Maulid Simtuddurar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (09/01/2018). Esai ini karya Muhammad Dalhar, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret dan anggota Jemaah Ahbabul Musthofa. Alamat e-mail penulis adalah mbahdalhar7@gmail.com Solopos.com, SOLO–Haul Habib Ali kembali digelar….