Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi, mengatakan bahwa Gunungkidul merupakan penghasil komoditas Ketela/Singkong dengan kualitas yang baik. Ia berharap masyarakat Gunungkidul memiliki motivasi yang membangkitkan semangat untuk kemajuan sektor pertanian. Salah satu komitmennya yakni "Selama masyarakat masih menderita, tidak ada kata lelah" yang ia ucapkan saat sambutan launching Gerakan Kembali Bertani dan Tanam Ketela di Desa Wisata Jelok, Beji, Patuk Gunungkidul, Jumat (11/3/2016).(Mayang Nova lestari/JIBI/Harian Jogja) Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi, mengatakan bahwa Gunungkidul merupakan penghasil komoditas Ketela/Singkong dengan kualitas yang baik. Ia berharap masyarakat Gunungkidul memiliki motivasi yang membangkitkan semangat untuk kemajuan sektor pertanian. Salah satu komitmennya yakni "Selama masyarakat masih menderita, tidak ada kata lelah" yang ia ucapkan saat sambutan launching Gerakan Kembali Bertani dan Tanam Ketela di Desa Wisata Jelok, Beji, Patuk Gunungkidul, Jumat (11/3/2016).(Mayang Nova lestari/JIBI/Harian Jogja)
Jumat, 12 Januari 2018 18:20 WIB Herlambang Jati Kusumo/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

Warga Gunungkidul Jangan Tergantung pada Nasi

Diversifikasi pangan terus digalakan oleh pemerintah Gunungkidul

Solopos.com, GUNUNGKIDUL—Diversifikasi pangan terus digalakan oleh pemerintah Gunungkidul, agar tidak ada ketergantungan pada satu jenis makanan pokok.

Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Fajar Ridwan mengatakan ketela atau ubi kayu menjadi paling potensial untuk diversifikasi pangan itu.

“Sudah kita canangkan diversifikasi pangan. Jadi sumber karbohidrat tidak hanya dari beras, dan kita yang paling potensial kan ubi kayu. Ubi kayu sudah diolah menjadi produk tepung, yang biasa disebut mokaf,” ujarnya kamis (11/1/2018).

Sebenarnya jika sudah makan mokaf tersebut tidak perlu makan nasi, namun disayangkan presentase dari keseluruhan produksi belum bisa menjangkau besar, masih dibawah 10%.

Fajar mengatakan sebenarnya telah melakukan berbagai sosialisasi atau kegiatan. Salah satu contohnya dengan dalam acara pembinaan lomba, cipta menu dengan olahan non beras. Dengan tujuan masyarakat agar membudaya tidak selalu makan nasi dari beras.

Diversifikasi makan itu juga secara tidak langsung mengatasi permasalahan lahan pertanian yang semakin menyempit, dengan dibarengi pola konsumsi masyarakat yang hanya mengandalakan dari satu jenis makanan.

Menurutnya olahan makanan lokal seperti tiwul sudah cukup baik untuk konsumsi. Namun pola pikir masyarakat kebanyakan masih berpikir kalau belum makan nasi belum terasa makan.

Dia berharap makanan dari ubi kayu atau jenis makanan lainnya yang memiliki karbohidrat, paling tidak dapat menjadi selingan makanan masyarakat. Tidak terpaku pada beras atau nasi, yang dirasa akhir-akhir ini mengalami kenaikan.

Sebelumnya Salah satu pedagang beras di pasar Argosari, Wonosari, Dwi Yulianto juga menduga kenaikan beras yang terjadi akhir-akhir ini karena kurangnya pasokan beras, belum memasuki panen.

“Biasanya memang seperti ini, jika sudah memasuki masa panen ya murah lagi. Masyarakat banyak yang mengeluh juga sebenarnya dengan kenaikan harga, tapi ya karena kebutuhan pokok tetap beli juga,” ujarnya.

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…