Salah satu atap di Terminal Giwangan yang rusak di belakang ruang tunggu penumpang, Rabu (20/12/2017). (Ujang Hasanudin/JIBI/Harian Jogja) Salah satu atap di Terminal Giwangan yang rusak di belakang ruang tunggu penumpang, Rabu (20/12/2017). (Ujang Hasanudin/JIBI/Harian Jogja)
Kamis, 11 Januari 2018 20:40 WIB Ujang Hasanudin/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Sengketa Tak Kunjung Selesai, Terminal Giwangan Terbengkalai

Kerusakan Terminal Giwangan tidak bisa diperbaiki tahun ini.

Solopos.com, JOGJA–Pengelola Terminal Giwangan memastikan kerusakan yang terjadi di terminal terbesar di Jogja itu tidak akan diperbaiki tahun ini, selama belum ada kejelasan soal sengketa aset terminal.

“Tahun ini belum ada rencana perbaikan,” kata Koordinator Satuan Pelayanan Terminal Giwangan, Bekti Zunanta, Kamis (11/1/2018).

Bekti menyadari kerusakan Terminal Giwangan sudah kian parah. Pihaknya sudah mengajukan anggaran perbaikan terminal pada akhir tahun lalu ke Kementerian Perhubungan pada akhir tahun lalu, namun sampai kemarin belum ada kejelasan. Total anggaran perbaikan yang sudah dihitung mencapai sekitar Rp18,7 miliar.

Pemerintah Pusat hanya memberikan dana rehab ringan sebesar Rp250 juta, “Dana segitu buat beli cat saja tidak cukup,” ujar Bekti. Ia sudah menduga Pemerintah Pusat belum mau memperbaiki Terminal Giwangan karena sengketa aset terminal itu hingga kini tidak kunjung selesai.

Diketahui, status Terminal Giwangan saat ini sudah diambil alih pengelolaannya oleh Kementrian Perhubungan, mulai dari aset hingga pegawainya. Namun aset terminal itu masih menjadi sengketa antara Pemerintah Kota Jogja dan PT.Perwita Karya. Sengketa bermulai sejak 2009 lalu Pemerintah Kota mengambil alih dari PT. Perwita Karya, padahal kontrak pengelolaan terminal oleh Perwita Karya berlaku selama 30 tahun sejak 2002 lalu.

Sengketa tersebut sudah selesai di pengadilan dan mengharuskan Pemerintah Kota Jogja membayar ganti rugi sebesar Rp56 miliar. Namun, Pemerintah Kota Jogja enggan membayar karena khawatir menjadi temuan. Sebab, status terminal sudah menjadi kewenangan pusat sehingga sulit untuk dianggarkan.

Bekti mengatakan selama sengketa itu tidak terselesaikan, maka selama itu pula Terminal Giwangan terbengkalai. Meski demikian, pihaknya tetap menjalankan aktivitas pelayanan mulai dari pengaturan bus keluar masuk, pemeriksaan bus, hingga perawatan kebersihan.

lowongan pekerjaan
SUMBER BARU BEJEKI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Haul dan Risalah Maulid Simtuddurar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (09/01/2018). Esai ini karya Muhammad Dalhar, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret dan anggota Jemaah Ahbabul Musthofa. Alamat e-mail penulis adalah mbahdalhar7@gmail.com Solopos.com, SOLO–Haul Habib Ali kembali digelar….