PKL Intan yang ada di Malioboro menerapkan harga yang berbeda antara di menu dan nota (dok. Facebook Kawasan Malioboro Upt Alt) PKL Intan yang ada di Malioboro menerapkan harga yang berbeda antara di menu dan nota (dok. Facebook Kawasan Malioboro Upt Alt)
Kamis, 11 Januari 2018 13:40 WIB I Ketut Sawitra Mustika/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

PKL Malioboro Setuju Direlokasi, Asal.....

Tempat baru jangan sampai turunkan omzet pedagang.

Solopos.com, JOGJA–Para pedagang kaki lima (PKL) Malioboro menyatakan setuju pindah ke bangunan bekas Bioskop Indra, tapi dengan beberapa persyaratan. Jika tidak disanggupi, mereka menegaskan enggan pindah.

Ketua Paguyuban Lesehan Malioboro Sukidi mengaku sepakat dengan langkah Pemda DIY merelokasi PKL ke lahan bekas Bioskop Indra. Namun, ia menyatakan relokasi yang dilakukan harus tetap bisa memberdayakan PKL. “Kami mau direlokasi asal diberdayakan. Jangan diberikan tempat yang mewah dan bagus, tapi pedagang tidak berdaya,” ucapnya Rabu (10/1/2018).

Kata pemberdayaan yang ia maksud, salah satunya adalah tentang omzet. Sukidi mengatakan jangan sampai pemindahan membuat omzet jauh berkurang.

Selain itu, ia juga berharap, Eks Bioskop Indra hanya diperuntukkan bagi mereka yang memang sejak lama mengais rezeki di Ikon Kota Jogja itu. “Harapanya tidak ada pengusaha besar yang masuk dengan jenis usaha sama dengan pelaku usaha di Malioboro,” tambahnya.

Sebelumnya, Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (DPUP ESDM) DIY M. Mansur mengatakan proyek eks Bioskop Indra ditargetkan selesai pada 2018. Gedung ini akan disulap jadi bangunan tiga lantai yang diperuntukkan sebagai pusat kuliner PKL.

Namun Mansur mengatakan belum tahu pasti berapa PKL yang akan direlokasi, maupun PKL mana saja yang akan dipindahkan. “Akan dilihat dulu. Paling hanya depan Mirota [Batik] dan PKL 37 yang ditata. Liat arahan dari Pak Gubernur dulu, paparan dulu mana yang direlokasi. Supaya lebih bagus,” kata Mansur, Selasa (9/1/2018).

Sementara itu, salah satu PKL yang berjualan di depan Mirota Batik, yang bernama Joni mengaku setuju saja kalau dipindah, tapi dengan syarat semua PKL dipindah secara bersamaan.  Jika yang dipindah hanya sebagian, dengan tegas Joni menjawab tidak setuju. “Itu enggak adil. Yang di dalem akan mati dan kalah oleh yang di luar,” ucapnya berapi-api.

Sebab katanya, konsumen Malioboro adalah wisatawan yang berjalan ngalor-ngidul, dan saat melihat barang bagus langsung berhenti. Ia sanksi dagangannya laku jika dipindahkan ke eks Bioskop Indra.

Senada dengan Joni, Udin, penjual batik di depan toko Mirota, juga tidak setuju dengan wacana pemerintah. Menurutnya, jika PKL dipindah maka ciri khas Malioboro akan lenyap. “Dan belum tentu nanti wisatawan mau beli kalau dipindah kesana,” tutupnya.

lowongan pekerjaan
PT. BUMI AKSARA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Haul dan Risalah Maulid Simtuddurar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (09/01/2018). Esai ini karya Muhammad Dalhar, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret dan anggota Jemaah Ahbabul Musthofa. Alamat e-mail penulis adalah mbahdalhar7@gmail.com Solopos.com, SOLO–Haul Habib Ali kembali digelar….