Komandan Kodim (Dandim) 0735/Solo, Letkol Inf Ali Akhwan, (tengah), dengan Pemimpin Redaksi Harian Umum Solo, Suwarmin, saat berkunjung ke Griya Solopos, Kamis (11/1/2018). (Farida Trisnaningtyas/JIBI/SOLOPOS) Komandan Kodim (Dandim) 0735/Solo, Letkol Inf Ali Akhwan, (tengah), dengan Pemimpin Redaksi Harian Umum Solo, Suwarmin, saat berkunjung ke Griya Solopos, Kamis (11/1/2018). (Farida Trisnaningtyas/JIBI/SOLOPOS)
Kamis, 11 Januari 2018 14:15 WIB Solo Share :

Dandim 0735/Solo Cerita tentang Papua di Solopos

Komandan Kodim (Dandim) 0735/Solo, Letkol Inf Ali Akhwan, bercerita soal  Papua saat berkunjung ke Harian Umum Solopos, Kamis (11/1/2018).

Solopos.com, SOLO—Komandan Kodim (Dandim) 0735/Solo, Letkol Inf Ali Akhwan, bercerita panjang lebar mengenai pengalamannya selama bertugas di Papua beberapa tahun lalu. Cerita itu mulai dari kondisi geografis hingga fanatisme Papua soal sepak bola. Hal ini ia sampaikan saat berkunjung ke Harian Umum Solopos, Kamis (11/1/2018).

“Sebenarnya orang kalau sudah ke Papua itu sukses. Banyak cerita dari orang-orang Jawa yang hidup di sana. Dulu di sini ia terhimpit kondisi perekonomiannya, tapi di sana ia justru bisa menguliahkan anak-anaknya dari jualan nasi gandul,” tuturnya.

Namun demikian, kondisi geografis provinsi terluas di Indonesia ini berbeda-beda. Begitu pula dengan adat serta kebudayaannya. Salah satu yang menjadi catatan adalah mendesaknya pembangunan infrastruktur di provinsi dengan 29 kabupaten/kota ini.

Sosok yang pernah bertugas di Grup 2 Kopassus Kandang Menjangan, Kartasura, Sukoharjo selama sepuluh tahunm, yakni mulai 2001-2011, ini juga berkisah mengenai fanatisme rakyat Papua terhadap sepak bola. Bahkan, instansi pemerintahan tak segan-segan diliburkan demi bisa menyaksikan para idola mereka bermain di lapagan hijau.

Persipura Jayapura lah yang paling tenar dengan sukses merebut empat kali gelar juara Indonesia Super League (ISL) atau sekarang bernama Liga 1. Selain itu, ada pula Persiwa Wamena yang memiliki markas khas, yakni Stadion Pendidikan.

“Tim atau siapapun yang bermain di sana pasti menerima tantangan luar biasa karena stadion ini terletak di dataran tinggi dengan ketinggian lebih dari 500 meter di atas permukaan laut. Kondisi demikian menyebabkan menipisnya lapisan oksigen yang tentu bikin sulit mereka yang tak biasa main di sana,” imbuhnya.

PILGUB 2018

Di sisi lain, lelaki kelahiran Jepara, 1 April 1977 ini intens menemui sejumlah tokoh dan kelompok masyarakat di Kota Solo meski baru sebulan menjabat sejak 7 Desember 2017 lalu. Perjumpaan ini bakal kian sering mengingat adanya penyelenggaraan Pemilu Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah 2018.

“Sudah ada sejumlah tokoh dan kelompok masyarakat yang saya temui sebulan ini. Namun demikian, ini sifatnya silaturahmi dan tidak ada kepentingan apa-apa,” katanya.

Pertemuan itu sudah dilakukannya dengan berbagai kalangan. Mulai dari tokoh-tokoh keagamaan, pemerintahan hingga sosial kemasyarakatan. Selain itu, ia melakukan pendekatan personal untuk lebih mengenal sosok-sosok tersebut.

lowongan pekerjaan
PT. BUMI AKSARA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Haul dan Risalah Maulid Simtuddurar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (09/01/2018). Esai ini karya Muhammad Dalhar, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret dan anggota Jemaah Ahbabul Musthofa. Alamat e-mail penulis adalah mbahdalhar7@gmail.com Solopos.com, SOLO–Haul Habib Ali kembali digelar….