Lambang Nahdlatul Ulama (NU). (bawean.net) Lambang Nahdlatul Ulama (NU). (bawean.net)
Kamis, 11 Januari 2018 23:35 WIB Indah Septiyaning W./JIBI/Solopos Solo Share :

2 Tokoh NU Bertarung di Pilgub Jateng 2018, Bagaimana Sikap Nahdliyin Solo?

NU Solo segera menentukan sikap terkait kriteria calon untuk dipilih dalam Pemilihan Gubernur Jateng 2018.

Solopos.com, SOLO — Organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam di Kota Solo mulai merapatkan barisan menjelang Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Tengah, Juni mendatang.

Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Solo segera melakukan konsolidasi untuk menentukan pilihan dalam pesta demokrasi tersebut. “Kami belum menentukan dukungan terhadap salah satu cagub [calon gubernur]. Karena kita tahu dua calon wakil gubernur [cawagub] merupakan tokoh NU yang mempunyai kharisma besar,” kata Ketua PCNU Solo, Helmy Ahmad Sakdillah, ketika dijumpai wartawan di Balai Kota, Kamis (11/1/2018).

Saat ini tokoh NU sedang diburu para elite politik. Terbukti dua tokoh NU menjadi cawagub, yakni Taj Yasin (Gus Yasin) putra ulama K.H. Maimoon Zubair yang mendampingi Cagub petahana Ganjar Pranowo. Sementara cagub Sudirman Said juga menggandeng tokoh NU, Hj. Ida Fauziyah, yang merupakan ketua Fatayat NU Jawa Tengah tiga periode.

Sejauh ini, PCNU memang belum memberikan dukungan kepada salah satu calon gubernur. Ia beralasan secara keorganisasian NU tidak boleh berpolitik.

Di sisi lain NU akan melihat program cagub dan cawagub yang sekiranya bisa mengenai hati warga NU. Meski secara kharismatik keduanya memiliki kedekatan dengan tokoh-tokoh Nahdliyin, cagub yang siap memperjuangkan NU akan direkomendasikan.

“Warga Nahdliyin akan memberikan dukungan kepada calon gubernur dan wakil gubernur yang mempunyai komitmen memperjuangkan NU,” katanya.

Sebelum mengambil sikap, dia mengatakan para tokoh NU dalam waktu dekat akan melakukan komunikasi. Hal ini dilakukan agar pilihan segera diketahui dan warga Nadliyin tidak bingung.

Menurut Helmy, suara warga Nadliyin di Kota Bengawan cukup besar. Paling tidak seperempat jumlah warga Solo. Hal itu dapat dibuktikan setiap pengajian dan selawatan selalu dipadati jemaah.

Secara organisasi, NU tidak bermain politik praktis dengan mendukung satu pasang calon tertentu. Namun sebagai organisasi massa Islam terbesar di Indonesia, NU memiliki kriteria khusus pemimpin yang layak menjadi pemimpin.

“Kami akan berkoordinasi dengan pengurus serta berkonsultasi dengan kiai-kiai,” katanya.

Nantinya, NU akan mengeluarkan rekomendasi bagi warganya untuk memilih pemimpin sesuai dengan kriteria ideal versi NU. Rekomendasi itu bukanlah sesuatu yang mutlak dijalankan warga NU. Melainkan sebagai referensi sebelum memilih gubernur dan wakil gubernur.

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo, Subari, ketika dijumpai saat pengukuhan panitia pembangunan Masjid Taman Sriwedari di rumah dinas Wali Kota di Loji Gandrung, Senin (8/1/2018) malam, mengatakan Muhammadiyah tidak berafiliasi dengan partai politik apa pun.

“Jadi tidak ada arahan untuk memilih pasangan calon tertentu,” katanya.

lowongan pekerjaan
SUMBER BARU BEJEKI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Haul dan Risalah Maulid Simtuddurar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (09/01/2018). Esai ini karya Muhammad Dalhar, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret dan anggota Jemaah Ahbabul Musthofa. Alamat e-mail penulis adalah mbahdalhar7@gmail.com Solopos.com, SOLO–Haul Habib Ali kembali digelar….