Wiwin Vegas dan sepeda ciptaannya di bengkel miliknya di Perumahan Jatimulyo Baru, Kricak, Tegalrejo, Jogja, Sleasa (9/1/2018). (I Ketut Sawitra Mustika/JIBI/Harian Jogja) Wiwin Vegas dan sepeda ciptaannya di bengkel miliknya di Perumahan Jatimulyo Baru, Kricak, Tegalrejo, Jogja, Sleasa (9/1/2018). (I Ketut Sawitra Mustika/JIBI/Harian Jogja)
Rabu, 10 Januari 2018 23:40 WIB I Ketut Sawitra Mustika/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Seliged, Upaya Simpel Kurangi Polusi

Wiwin Vegas ciptakan kendaraan ramah lingkungan.

Solopos.com, JOGJA–Wiwin Vegas, 40, tentu bukan Elon Musk dengan mobil listrik Tesla-nya yang terkenal itu. Ia hanya orang biasa yang ingin melihat kendaraan yang beredar di jalanan Kota Jogja bisa lebih ramah lingkungan. Berikut laporan wartawan Harianjogja.com I Ketut Sawitra Mustika.

Pria jebolan Jurusan Otomotif STM Nasional ini sejak remaja suka mengotak-ngatik barang elektronik dan tertarik dengan kelistrikan. Karena alasan itu ia memilih bekerja sebagai teknisi tata suara dan cahaya selepas menempuh pendidikan menengah.

Ia lulus STM pada 1991 dan setelah itu mengembara dari satu perusahaan ke perusahaan lain sembari tetap memelihara gairahnya akan teknologi gres. Setelah melihat kendaraan listrik jamak dikembangkan di luar negeri, ia pun ikut-ikutan.
Bahan percobaan pertamanya tidak bisa dibilang kendaraan, tetapi lebih pantas disebut mainan. Pada 2005, Wiwin mengubah skuter yang biasanya bergerak karena dorongan kaki jadi berpendorong listrik.

Merasa sedikit berhasil, pria dua anak ini ketagihan. Beberapa bulan kemudian, sepeda yang jadi alat eksperimen. Wiwin memanfaatkan dinamo yang ada di wiper mobil untuk jadi tenaga pendorong. Hasilnya buruk, kendaraan ciptaanya bergerak tidak sempurna. Tidak bisa dipercepat atau diperlambat, kecepatannya stagnan layaknya siput. Meski buruk, ia bertekad suatu saat nanti bisa menciptakan kendaraan ramah lingkungan yang tidak memakai bahan bakar fosil.

Namun niat saja tidak cukup. Ia merasa sulit berkembang, hasil karyanya begitu-begitu saja. Musababnya, Wiwin tak menemukan toko yang menjual dinamo dengan kulitas memadai. Barang yang dia butuhkan hanya ada di luar negeri, sementara ia tak mengerti cara mengimpor. Akhirnya sampai 2010 ia vakum dan menenggelamkan diri dalam urusan mencari uang.

Tak lama setelah 2010, hasrat membuat tunggangan ramah lingkungan kembali muncul. Ketika itu sepeda listrik dari Tiongkok mulai menginvasi Indonesia. Dengan  uang seadanya, dibelilah empat sepeda listrik bekas. Kemudian dinamonya ia ambil untuk ditanam pada mobil yang dirakit dari barang-barang bekas. “Mobil ciptaan saya minimalis,” kata dia saat ditemui di rumahnya, Perumahan Jatimulyo Baru, Kricak, Tegalrejo, Kota Jogja, Selasa (9/1/2018).

Diksi minimalis yang dia pakai memang tidak salah. Bahkan bentuk mobilnya jauh dari sederhana; terlihat seperti sekotak besi berjalan yang di dalamnya dipasangi jok. Meski begitu, mobil itu ditebus seorang dermawan seharga Rp35 juta. Alasan di balik kemurahan hati pembeli mobil adalah supaya Wiwin bisa terus berkarya. Benar saja, dengan modal yang ada, ia mengumpulkan semakin banyak sepeda listrik Tiongkok untuk dipereteli. Sekarang praktik itu sudah tidak dia lakoni. Wiwin sudah bisa membeli dinamo dari luar negeri.

Sejak kemunculan sepeda listrik dari Negeri Tirai Besi, dia kemudian mengikrarkan diri untuk terus mengembangkan kendaraan listrik, meski tidak ada investor yang berniat menanamkan modal atau pembeli yang berniat meminang karyanya.

Sepeda Listrik
Di rumah yang sekaligus menjadi bengkel, dua sepeda bergaya low rider dengan ban-ban super besar diparkir. Semuanya masih tahap pengerjaan. Wiwin menyebut kendaraan itu sebagai Seliged, akronim dari sepeda listrik gede.
Seliged inilah yang menjadi andalan penggemar Elon Musk, industrialis pionir pengembangan mobil listrik asal Amerika Serikat. Wiwin tahu diri tak akan mampu bersaing dengan perusahaan otomotif untuk mengembangkan kendaraan listrik. Ia juga tahu diri tak akan bisa mengalahkan produsen sepeda listrik.

Oleh sebab itulah Wiwin melirik ceruk lain; membuat sepeda kustom dengan pangsa pasar anak muda. “Kalau sepeda listrik kan lebih banyak diminati ibu-ibu dan bapak-bapak.”

Seliged ditanami dengan dinamo HUB-BLDC di roda bagian belakang. Kecepatan maksimalnya 30 kilometer (km) per jam. Jika dicas penuh selama tiga jam, sepeda besar itu akan bisa menempuh jarak sejauh 35 km. Wiwin ingin suatu hari kelak Seliged bisa menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat. Apalagi pertumbuhan kendaraan semakin tak terkendali, yang berarti pula polutan hasil pembakaran minyak kian banyak. “Jogja semakin padat, polusi semakin tinggi. Dengan adanya Seliged, harapannya bisa  mengurangi polusi,” ujar dia.

Ia selalu mempromosikan pengurangan emisi gas kendaraan dengan cara menaiki ciptaannya ke mana-mana, dengan catatan jaraknya tidak jauh. Kalau mau ke pantai di Gunungkidul tentu beda cerita. Alasan agar kualitas udara semakin baik hanya salah satu tujuan. Cita-cita lainnya adalah menciptakan kendaraan pengganti bagi siswa SMP dan SMA yang ke semberang tempat sudah mengebut pakai motor.  Tetapi harga Seliged masih terlampau mahal. Satu unit dijual dengan kisaran Rp15 juta sampai Rp25 juta. “Biaya masih mahal. soalnya sparepart [suku cadang] impor dari luar.”
Hobi Wiwin Vegas, meski belum populer, tentu saja sangat berfaedah. Ketua Dewan Daerah Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jogja Suparlan menyatakan pengembangan kendaraan bertenaga listrik amat penting untuk kelestarian Bumi.
“Meski upaya menyelamatkan Bumi tidak bisa hanya berbicara tentang tenaga pendorong listrik saja karena yang harus dilakukan adalah mengembalikan piramida transportasi pada bentuk awalnya,” kata dia.

Saat ini piramida transportasi sudah terbalik. Kendaraan pribadi yang seharusnya berjumlah paling sedikit justru menjadi penguasa. Semestinya, satu kawasan dipenuhi pejalan kaki dengan akses yang baik, penggunaan kendaraan minim emisi, transportasi publik yang bagus, baru kemudian kendaraan pribadi. “Tetapi nyatanya, tidak hanya di Jogja, tapi di seluruh tempat, energi terbesar datang dari kendaraan pribadi. Ini yang sebenarnya menjadi problem. Ke depan harus ada pembatasan kendaraan pribadi atau kendaraan yang banyak mengeluarkan emisi,” ucap dia. (sawitra@harianjogja)

lowongan pekerjaan
Perusahaan Outsourcing PLN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Calon Tunggal dan Disfungsi Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (10/01/2018). Esai ini karya Isharyanto, dosen Hukum Tata Negara di Universitas Sebelas Maret Solo. Alamat e-mail penulis adalah isharyantoisharyanto8@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada 2018 ini 171 daerah provinsi/kabupaten/kota akan menyelenggarakan pemilihan kepala daerah secara serentak….