Pengendara sepeda motor melintas di dekat lahan bekas THR Sriwedari, Solo, Selasa (9/1/2018). Pemkot Solo akanmembangun Masjid Taman Sriwedari di lahan tersebut. (Nicolous Irawan/JIBI/Solopos) Pengendara sepeda motor melintas di dekat lahan bekas THR Sriwedari, Solo, Selasa (9/1/2018). Pemkot Solo akanmembangun Masjid Taman Sriwedari di lahan tersebut. (Nicolous Irawan/JIBI/Solopos)
Rabu, 10 Januari 2018 10:00 WIB Indah Septiyaning W./JIBI/Solopos Solo Share :

Masjid Taman Sriwedari Solo Dibangun dengan Duit Donatur

Masjid Taman Sriwedari Solo dibangun menggunakan dana tak terbatas.

Solopos.com, SOLO — Masjid Taman Sriwedari akan menjadi ikon Kota Solo yang menggabungkan aspek agama, budaya dan pluralisme. Pembangunan masjid menggunakan dana tak terbatas dari hasil sumbangan para donatur dimulai awal Februari mendatang.

Hal itu disampaikan Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo di sela pengukuhan tim pembangunan Masjid Taman Sriwedari di joglo rumah dinas wali kota di Loji Gandrung, Senin (8/1/2018) malam. Sebanyak 50 anggota tim panitia terdiri atas tokoh masyarakat, tokoh agama, ASN, serta budayawan dikukuhkan malam itu.

“Tim panitia ini akan bekerja selama pembangunan masjid, termasuk mengelola dana dari para donatur,” kata Rudy, sapaan akrab F.X. Hadi Rudyatmo.

Dia menambahkan seluruh dana para donatur atau sumbangan akan masuk dalam rekening panitia pembangunan masjid. Menurut Rudy, masjid dibangun tanpa menggunakan anggaran dari APBD Kota Solo.

Diestimasi, pembangunan masjid bakal menghabiskan anggaran Rp151 miliar. “Kalau lebih dari itu [Rp151 miliar] tidak masalah. Pokoknya anggaran tak terbatas,” kata Rudy.

Sesuai perencanaan, masjid dibangun di lahan bekas Taman Hiburan Rakyat (THR) Sriwedari seluas 17.200 meter persegi. Masjid dilengkapi lima menara yang mengelilingi bangunan masjid, satu menara di antaranya dibangun setinggi 114 meter sesuai dengan jumlah surat dalam Alquran.

Menara tersebut akan dilengkapi dengan lift sehingga masyarakat bisa melihat Kota Solo dari ketinggian. “Peletakan batu pertama akan dilakukan 5 Februari nanti. Pengerjaannya sendiri butuh waktu 24 bulan,” kata dia.

Wakil Wali Kota (Wawali) Solo sekaligus Ketua Panitia Pembangunan Masjid Taman Sriwedari Achmad Purnomo menyampaikan pembangunan masjid di Sriwedari disesuaikan dengan fungsi kawasan tersebut. Hal ini juga sejalan dengan masterplan penataan kawasan Sriwedari yang telah disusun Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda).

Merujuk masterplan tersebut, ruang terbuka hijau akan diperbanyak guna mendukung pengembalian Sriwedari menjadi kawasan konservasi dan berkhasanah budaya.

Dalam hal ini, Pemkot akan mengembalikan roh Sriwedari seperti dulu kala saat Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat Paku Buwono (PB) X sebagai Bon Raja. Dengan demikian, masjid akan dibangun dengan konsep green design.

“Masjid Taman Sriwedari dikonsep bergaya Jawa klasik atau tradisional, material atapnya saja nanti kayu ulin,” katanya.

Bangunan masjid inipun mengadopsi Masjid Agung Demak, Masjid Agung Kudus, Masjid Lasem dan Masjid Agung An Nur Pekanbaru yang kesemuanya dikolaborasikan. Setiap detail bangunan masjid memiliki filosofi masing-masing. Bangunan menara yang dibangun setinggi 114 meter misalnya memiliki filosofi sesuai jumlah surat dalam Alquran. Sedangkan lima menara juga memiliki filosofi Pancasila.

“Masjid Taman Sriwedari ini akan memiliki halaman luas tanpa ada pagar pembatas. Sehingga bisa digunakan saat Salat Idul Fitri, Idul Adha dengan menampung 7.680 jemaah,” katanya.

Salah satu ulama Kota Solo yang juga Ketua Forum Perdamaian Lintas Agama dan Golongan (FPLAG) Solo, Muhammad Dian Nafi, menilai pembangunan masjid Taman Sriwedari mampu menggabungkan aspek agama, budaya dan pluralisme. Aspek agama dengan masjid sebagai tempat ibadah, sedangkan aspek budaya dilihat dari konsep bangunan masjid bergaya Jawa klasik. Sementara aspek pluralisme ini juga dilihat dari rencana pembangunan lima menara yang memiliki filosofi Pancasila.

“Masjid ini sangat bagus sekali dibangun di tengah kota. Karena seperti kita tahu, jalan protokol Kota Solo minim masjid. Coba lihat dari Kleco kemudian berjalan sampai Jurug, berapa jumlah masjid yang terlihat? Jumlahnya kan sedikit,” katanya.

Dian Nafi menilai Masjid Taman Sriwedari bisa menjadi salah satu pengingat masyarakat ketika waktu salat.

lowongan pekerjaan
PT. INDUKTORINDO UTAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Pelayanan Medis Olahraga

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (18/10/2017). Esai ini karya Rumi Iqbal Doewes, dosen di Program Studi Kepelatihan Olahraga Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah king.doewes@staff.uns.ac.id. Solopos.com, SOLO–Pencinta sepak bola Indonesia pantas berduka….