Komunitas dari EMCI dan mahasiswa STTNAS membersihkan sampah dengan tema 'reresik Malioboro', Selasa (5/12/2017). (Foto istimewa/dokumen) Komunitas dari EMCI dan mahasiswa STTNAS membersihkan sampah dengan tema 'reresik Malioboro', Selasa (5/12/2017). (Foto istimewa/dokumen)
Rabu, 10 Januari 2018 16:55 WIB I Ketut Sawitra Mustika/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Ini Saran Sultan Jika Melihat Orang Buang Sampah Sembarangan di Malioboro

Salah dua hal yang kerap dikeluhkan wisatawan maupun masyarakat yang berkunjung ke Malioboro adalah masalah sampah dan bau tak sedap yang menguar dari got

Solopos.com, JOGJA--Salah dua hal yang kerap dikeluhkan wisatawan maupun masyarakat yang berkunjung ke Malioboro adalah masalah sampah dan bau tak sedap yang menguar dari got.

Gubernur DIY mengatakan, yang datang ke Malioboro tidak hanya warga DIY, tapi juga dari seluruh Indonesia. Namun memiliki persamaan, yakni belum siap untuk hidup bersih.

Untuk menangani masalah sampah yang membandel, ia menyarankan para petugas untuk mengambil tindakan nyata. Turis yang tertangkap tangan membuang sampah tak usah dibentak atau ditegur, sebab hanya akan memancing reaksi balik yang sama.

“Nanti petugas kalau lihat ada orang buang sampah sembarangan tidak usaha dikasi tahu. Begitu buang?, ya diambil dan dibuang saja, dengan orangnya harapan melihat sampah dimasukkan ke tong, kalau sudah begitu akan sadar sesadar-sadarnya,” ujarnya saat Pencanangan Pemanfaatan Pedestrian Malioboro (Pasar Beringharjo-Titik Nol) dan Toilet Underground Titik Nol, Selasa (9/1/2018).

Dalam kesempatan itu, ia juga mengaku bisa memaklumi jika masih ada pelayanan yang tidak bisa membedakan sampah kering, basah dan berminyak, sehingga tempat pembuangannya tidak dipisah-pisahkan.

Sri Sultan HB X malah menganggap sasaran pembinaan yang salah. Menurutnya, yang harus dibina adalah pemilik rumah makan, yang kemungkinan besar punya tingkat pendidikan dan pemahaman lebih tinggi ketimbang anak buahnya. Sehingga pembinaan bisa lebih efektif.

Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti mengatakan, sampah memang menjadi salah satu persoalan. Saat menghadiri kegiatan pada hari Minggu lalu di Titik Nol Km, ia mengaku melihat banyak sekali sampah.

Ia mengatakan anggota UPT Malioboro yang hanya 18 orang, hampir ngos-ngosan menghadapi situasi yang ada. “Mungkin Pemda DIY bisa membantu kami untuk menambah jumlah petugas,” ucapnya.

Haryadi menambahkan, masyarakat tak cukup hanya bersyukur karena memiliki Malioboro, tapi lebih dari itu mereka juga diharapkan bisa turut serta menjaga Malioboro bersama pemerintah.

lowongan pekerjaan
SUMBER BARU BEJEKI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Haul dan Risalah Maulid Simtuddurar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (09/01/2018). Esai ini karya Muhammad Dalhar, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret dan anggota Jemaah Ahbabul Musthofa. Alamat e-mail penulis adalah mbahdalhar7@gmail.com Solopos.com, SOLO–Haul Habib Ali kembali digelar….