Kondisi jembatan darurat Nganggen yang dibangun warga, Minggu (7/1/2018). (Salsabila Annisa Azmi/JIBI/Harian Jogja) Kondisi jembatan darurat Nganggen yang dibangun warga, Minggu (7/1/2018). (Salsabila Annisa Azmi/JIBI/Harian Jogja)
Selasa, 9 Januari 2018 07:40 WIB Salsabila Annisa Azmi/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

Warga Kasihan Gotong Royong Bangun Jembatan Darurat

Warga swadaya bangun jembatan darurat.

Solopos.com, BANTUL–Warga Desa Bangunjiwo dan Desa Tamantirto Kecamatan Kasihan bergotong royong membuat jembatan darurat pada Minggu (30/12/2018). Jembatan darurat itu dibangun di sebelah Jembatan Nganggen yang menghubungkan Desa Bangunjiwo dan Desa Tamantirto, tepatnya di Jalan Bibis menuju arah Bangunjiwo. Jembatan Nganggen rusak karena diterjang banjir.

Pantauan Harianjogja.com, jembatan alternatif yang berada di sebelah kanan jembatan yang rusak itu terbuat dari besi. Sebagian jalannya terbuat dari aspal dan sebagian lagi terbuat dari bekas pagar penutup truk dengan celah-celah yang kecil. Terlihat beberapa warga berjaga di sekitar jembatan sambil sesekali mengatur lalu lintas dari dua arah.

Kepala Dusun Jetis, Dalbi, mengatakan jembatan darurat dibuat selama dua hari bersama sekitar 70 warga gabungan dari Desa Bangunjiwo dan Desa Tamantirto.

Dalbi mengatakan pemerintah desa membantu dengan mendatangkan alat-alat berat untuk mengangkut besi-besi besar yang ternyata berasal dari bak truk milik Saridi, warga Jetis, yang sudah tidak terpakai. “Ini semua swadaya murni masyarakat, kemudian besi-besi ini milik truknya Pak Saridi, pemilik bengkel di Jetis. Selain itu pemdes Bangunjiwo dan Tamantirto juga menganggarkan dana, tetapi sejauh ini hanya digunakan untuk makan saja pas kemarin kerja bakti,” ujar Dalbi saat ditemui Solopos.com, Minggu (7/1/2018).

Saridi, warga Dusun Jetis, mengatakan dia membutuhkan sekitar tiga kotak truk yang tidak terpakai untuk diambil besinya. Beberapa untuk pagar dan sisanya untuk penyangga. Di bawah penyangga, warga menggunakan batu-batuan dan karung goni berisi pasir untuk penguat.

Selama 24 jam warga bergilir berjaga di sekitar jembatan untuk memeriksa letak batu dan sekrup yang bergeser karena lalu lalang kendaraan di jembatan darurat tersebut. “Belum ada [bantuan] dari Dinas, tapi tidak masalah. Rencananya malah mau bikin pos penjagaan di dekat jembatan darurat,” kata Saridi.

Dalbi menambahkan meskipun warga tak keberatan dengan jembatan darurat tersebut, warga tetap menanti perbaikan jembatan permanen oleh pemerintah. Mereka berharap secepatnya. Dia mengaku telah mendengar kalau jembatan tersebut merupakan wewenang provinsi, dan biaya perbaikannya bisa mencapai miliaran rupiah. “Harapannya segera, kan dana bantuan bencana itu tidak perlu pakai disepakati segala,” kata Dalbi.

lowongan pekerjaan
Penerbit Ziyad Visi Media, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Haul dan Risalah Maulid Simtuddurar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (09/01/2018). Esai ini karya Muhammad Dalhar, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret dan anggota Jemaah Ahbabul Musthofa. Alamat e-mail penulis adalah mbahdalhar7@gmail.com Solopos.com, SOLO–Haul Habib Ali kembali digelar….