Beras rastra dari Bulog tertumpuk di dekat pintu masuk gedung pertemuan Balai Desa Gondang, Sragen, belum lama ini. (Tri Rahayu/JIBI/Solopos) Beras rastra dari Bulog tertumpuk di dekat pintu masuk gedung pertemuan Balai Desa Gondang, Sragen, belum lama ini. (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)
Selasa, 9 Januari 2018 12:35 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

Program Rastra Berubah Jadi Bansos, Ini Jadwal Penyaluran di Sragen

Program rastra berubah jadi bansos.

Solopos.com, SRAGEN — Program beras sejahtera (rastra) yang digulirkan pada 2017 lalu akan berubah menjadi bantuan sosial (bansos) oleh pemerintah melalui Perum Badan Urusan Logistik (Bulog).

Bansos terbagi menjadi dua jenis, yakni Bansos Rastra yang diberikan pada Januari-Februari 2018 dan Bansos Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) yang diberikan Maret-Desember 2018.

Penjelasan itu disampaikan Kepala Perum Bulog Subdivre III Surakarta, Titov Agus Sabelia, saat ditemui di sela-sela kunjungan operasi pasar (OP) beras di Gondang, Sragen, Jumat (5/1/2018) lalu. Titov menjelaskan stok beras di gudang Bulog, sebut dia mencapai 16.000 ton. Stok tersebut aman untuk memasokan bansos rastra di wilayah Soloraya sampai April mendatang.

“Sekarang harga beras medium saja sudah mencapai Rp11.000/kg bagaimana? Nilai bansos rastra itu tidak 15 kg lagi tetapi hanya 10 kg dan masyarakat tidak perlu menebus. Selain Bansos Rastra ada BPNT. Setiap warga penerima manfaat mendapat jatah Rp110.000/orang untuk membeli beras dan telur per bulan. Penebusannya pakai kartu. Teknisnya bagaimana, kami masih menunggu sosialisasi. Pelaksana programnya Dinas Sosial dan pendamping,” ujar Titov.

Titov mempertanyakan kalau Bulog menjual produknya BPNT maka Bulog beli gabah ke petani itu buat apa. Persoalan tersebut, tambahnya, harus dibahas dengan Pemkab Sragen terutama Dinsos untuk menjamin keberlangsungan pengamanan harga di tingkat produsen di Sragen.

Kasubag Bina Produksi Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah (Setda) Sragen Supriyadi menyampaikan selama ini Rastra sebagai pengganti beras untuk rakyat miskin (raskin) ditangani Bagian Perekonomian Setda. Mulai 2018 ini, kata dia, rastra menjadi Bansos Rastra dan BPNT dan wewenangnya diberikan kepada Dinsos sebagai tangan panjang Kementerian Sosial (Kemensos) di Sragen.

“Bansos Rastra itu ada di Januari-Februari tetapi teknisnya baru dibicarakan di Solo pada Rabu (10/1/2018) besok. Setelah Bansos Rastra ini arahnya masu ke BPNT semua yang basis datanya ada di Kementerian Sosial. Untuk datanya ada perubahan sedikit. Daya Rastra tahun lalu ada 76.362 KPM [keluarga penerima manfaat],” ujar Supriyadi.

Dia menjelaskan Bansos Rastra wujudnya masih beras tetapi takarannya berubah dari 15 kg/orang menjadi 10 kg/orang. Dia menyatakan setiap KPM tidak dibebani uang tebusan lagi tetapi langsung menerima bantuan beras itu secara cuma-cuma tetapi hanya berlangsung dua bulan.

“Di Sragen mungkin pekan keempat Januari bisa terealisasi. Yang jelas kami masih menunggu jadwal sosialisasi,” tuturnya.

Supriyadi menjelaskan wacana teknisnya penyaluran BPNT dilakukan lewat e-warong atau lewat badan usaha milik desa (Bumdes). Dia menyampaikan e-warong di Sragen belum ada dan kondisi Bumdes pun belum semuanya siap.

lowongan pekerjaan
Penerbit Ziyad Visi Media, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Haul dan Risalah Maulid Simtuddurar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (09/01/2018). Esai ini karya Muhammad Dalhar, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret dan anggota Jemaah Ahbabul Musthofa. Alamat e-mail penulis adalah mbahdalhar7@gmail.com Solopos.com, SOLO–Haul Habib Ali kembali digelar….