Pengguna mengoperasikan gadget di Solo, beberapa waktu lalu. (Nicolaus Irawan/JIBI/Harian Jogja) Pengguna mengoperasikan gadget di Solo, beberapa waktu lalu. (Nicolaus Irawan/JIBI/Harian Jogja)
Selasa, 9 Januari 2018 23:40 WIB Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Yang Sepuh Makin Ketagihan Internet

Pengguna Internet usia 45 tahun ke atas meningkat.

Solopos.com, JOGJA–Consumer Barometer 2017, laporan tentang survei yang dilakukan Google, menunjukkan jumlah pengakses Internet dari kelompok usia 45 tahun hingga 54 tahun mengungguli seluruh kelompok umur. Orang-orang sepuh makin terbiasa dengan dunia maya, meski mereka masih kerepotan menggunakan gawai dan sejenisnya. Berikut laporan wartawan Jaringan Informasi Bisnis Indonesia Rheisnayu Cyntara dan Duwi Setiya Ariyanti.

Mismi, 49, sudah dua tahun belakangan aktif mengakses Internet. Lingkungan kerja dan keluarganya sudah pada menggunakan Whatsapp untuk saling menanyakan kabar. Mau tidak mau Mismi pun meninggalkan SMS dan terpaksa ikut arus.

“Dalam dunia kerja dan keluarga tentu ada generasi yang lebih muda. Mereka itu yang mengenalkan teknologi kepada saya yang masih baru ini,” kata dia kepada Harianjogja.com, Senin (8/1/2018). Mismi benar-benar orang baru dalam kecanggihan teknologi, meski dia sudah hidup lebih lama ketimbang kerabatnya. Apalagi, dia tak punya bantyak waktu untuk memainkan gadget miliknya karena terbebani kesibukan sebagai perawat dan urusan sehari-hari di rumah tangga. Sampai sekarang, kemampuannya mengakses Internet baru sebatas berkirim pesan lewat Whatsapp maupun mengecek informasi menggunakan mesin pencari Google.

“Mungkin bagi yang [umurnya] di atas saya dan tidak kerja, mereka bisa buka FB [Facebook], Youtube dan semacamnya karena punya banyak waktu untuk mempelajari satu-satu,” ucap dia. Mismi adalah contoh generasi yang sangat gagap menghadapi perkembangan teknologi. Rumah sakit tempatnya bekerja mulai hijrah ke digitalisasi data dan informasi, dan orang-orang paruh baya seperti dirinya sudah ketinggalan kereta.

Tetek bengek data, misalnya pendataan pasien, digarap pegawai yang lebih muda, yang lebih akrab dengan Internet dan komputer. Sementara, karyawan lama berkutat menangani pasien. “Mungkin kalau diharuskan ya bisa [menguasai teknologi informasi]. Tetapi nyatanya semua urusan itu sudah di-handle [ditangani] oleh yang muda muda,” kata dia.

Mismi tak sendirian di tengah gelombang kemajuan teknologi informasi. Ada yang lebih keteteran ketimbang dirinya. Karno, 52, mengaku hingga kini masih kesulitan menyesuaikan diri dengan ponsel pintar. Selama satu tahun menggunakan gawai berbasis sistem operasi Android, ia belum cukup memahami cara kerjanya. Bahkan, gadget canggih yang dia punyai hanya ia manfaatkan untuk menelpon dan menerima panggilan saja. Dua bulan terakhir ini ia berganti ponsel dengan sistem operasi iOS. Adaptasi yang dibutuhkan malah lebih lama. “Sudah mulai memakai Whatsapp, tapi sebatas telepon. Lebih rumit,” kata dia.

Orang Sepuh
Mismi dan Karno adalah bagian dari 49% pengguna Internet dari kelompok usia paruh baya yang diidentifikasi Consumer Barometer 2017. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Pada 2013, pengguna Internet kelompok usia 45-54 tahun hanya 8%, kemudian meningkat menjadi 9% setahun kemudian dan stagnan di level 14% pada 2015 dan 2016.

Peningkatan itu berkat makin karibnya gawai dalam kehidupan kita. Sebagai perbandingan, pada 2013 baru 37% penduduk Indonesia yang menggunakan gawai dan sekarang sudah mencapai 86%. Dari 262 juta penduduk Indonesia, 225,3 juta warga berusia di atas 16 tahun menggunakan ponsel pintar dan mengakses Internet.

Pada kelompok usia 45-54 tahun, 47% pengakses Internet menggunakan ponsel pintar, 6% memakai tablet dan 19% komputer. Orang-orang sepuh seperti Mismi dan Karno telat berkenalan dan mengakrabi Internet. Pertumbuhan pesat pengguna Internet dari kelompok usia 25 tahun hingga 34 sudah terjadi klebih dahulu, yakni pada 2013 ke 2014 dan 2015, dari 17% melejit menjadi 38% dan 55%. Pada 2016 ke 2017, pertumbuhan pengguna Internet dari kalangan muda melambat relatif yakni dari 63% menjadi 66%.  Adapun pada kelompok 35 tahun hingga 44 tahun, pertumbuhan rata-rata 6% saban tahun sejak 2014 ke 2017.

Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute Heru Sutadi mengatakan tingginya pertumbuhan di kalangan tua pada 2017 disebabkan makin populernya aplikasi obrolan berbasis ponsel seperti Whatsapp.  “Orang yang berusia 45 sampai 54 merasa perlu main Internet karena penggunaan ponsel yang tadinya 2G jadi 3G atau 4G. Teman-teman mereka menggunakan Whatsapp dan mereka ikut-ikutan,  tidak menggunakan SMS lagi,” katanya.

Ketua Umum Masyarakat Telekomunikasi Kristiono mengatakan tingginya pertumbuhan pengguna Internet pada kelompok usia yang tergolong tua adahal masalah waktu. Adopsi Internet untuk generasi ini lebih lama sehingga baru mencapai pertumbuhan tertinggi tahun ini. Sayangnya, kemampuan mereka masih kurang memadai.

Pada generasi millennial, faktor daya beli menjadi penghambat akses Internet, sedangkan generasi lebih tua terhalang kemahiran menggunakan teknologi. Data yang dirilis Google juga menunjukkan aspek lain dalam kehidupan. Politik dan agama yang makin ramai diperbincangkan di jagat maya mendorong para pengguna dari generasi tua untuk menggunakan Internet.
“Dimensi penggunaan Internet oleh kelompok usia tua banyak mengarah ke politik dan agama,” kata dia. (redaksi@jibinews.co)

lowongan pekerjaan
SMK CITRA MEDIKA SRAGEN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Haul dan Risalah Maulid Simtuddurar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (09/01/2018). Esai ini karya Muhammad Dalhar, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret dan anggota Jemaah Ahbabul Musthofa. Alamat e-mail penulis adalah mbahdalhar7@gmail.com Solopos.com, SOLO–Haul Habib Ali kembali digelar….