Jemaah memadati Jl. Kapten Mulyadi depan Masjid Ar Riyadh, Pasar Kliwon, Solo, Senin (8/1/2018). (Hijiriyah Al Wakhidah/JIBI/Solopos) Jemaah memadati Jl. Kapten Mulyadi depan Masjid Ar Riyadh, Pasar Kliwon, Solo, Senin (8/1/2018). (Hijiriyah Al Wakhidah/JIBI/Solopos)
Senin, 8 Januari 2018 16:35 WIB Hijriyah Al Wakhidah/JIBI/Solopos Solo Share :

HAUL HABIB ALI SOLO
Ratusan Ribu Orang Berdesakan Ingin Sedekat Mungkin dengan Ulama

Ratusan ribu orang memadati Jl. Kapten Mulyadi, Pasar Kliwon, Solo, untuk mengikuti acara haul Habib Ali.

Solopos.com, SOLO — Wahyudi, 50, asal Pasuruan, Jawa Timur, tertunduk khidmat menyimak doa yang dibacakan Ahmad bin Muhammad Anis bin Alwi bin Ali bin Muhammad al Habsyi saat peringatan haul Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi, Senin (8/1/2018).

Posisinya yang hampir terjepit-jepit bahkan sesekali terdorong oleh orang memadati Jl. Kapten Mulyadi Pasar Kliwon Solo depan masjid Ar Riyadh tak mengurangi kekhusyukannya mendengarkan tiap bait doa dan selawat yang berkumandang dari arah masjid.

Wahyudi bersama rombongannya sebelumnya sudah berusaha berdesak-desakan dengan puluhan ribu bahkan seratusan ribu orang di sana agar bisa semakin dekat dengan serambi masjid. Namun, saking padatnya, dia hanya bisa berdiri pada jarak sekitar 50 meter dari masjid.

Lelah serta panas yang sesekali membakar ubun-ubunnya yang tertutup kopiah warna putih pun seperti tak dihiraukannya. Seperti halnya Wahyudi, Farouk asal Surabaya pun tak puas jika hanya mendengarkan selawat dan kisah keteladanan Habib Ali dari kejauhan. (Baca: Waktu dan Tempat Jualan PKL Diatur Agar Tak Ganggu Tamu Haul)

Dia juga ingin sedekat mungkin berada di antara para ulama yang tengah memimpin haul dari dalam masjid. “Sudah bertahun-tahun saya enggak absen datang ke sini. Entah kenapa, hati saya selalu merasa sangat nyaman jika bisa ikut mengaji dalam rangka haul Habib Ali. Biar pun harus berjubel dengan ratusan ribu orang, mengaji di sini enak rasanya,” ujar Farouk yang datang bersama kerabatnya sebanyak enam orang dari Surabaya.

Berdasarkan pantauan Solopos.com, sepanjang Jl. Kapten Mulyadi mulai dari ruas depan Masjid Jami’ Assegaf hingga perempatan Baturono dipadati jemaah haul Habib Ali. Jemaah tidak hanya terpusat di Masjid Ar Riyadh tetapi juga Masjid Assegaf.

Di sana, jemaah bisa melihat para habib dan ulama memimpin haul dari Masjid Ar Riyadh melalui sebuah layar LCD dan televisi. Jauh-jauh dari Jawa Timur, Wahyudi dan Farouk tentu akan memanfaatkan waktu mereka di Solo dengan sebaik-baiknya.

“Nanti kalau sudah longgar ingin bisa ziarah ke dalam masjid, ke makam putra Habib Ali [Habib Alwi]. Kalau bisa juga ingin ikut jamaah salat di Masjid Ar Riyadh, semoga bisa sampai malam di sana, ” tutur Wahyudi.

Dia akan tetap berada di Solo sampai Selasa (9/1/2018) ini. “Yang penting besok pagi selepas Subuh, bisa ikut baca maulid bersama [Maulid Simtuddurrar],” tutur dia.

Seperti diketahui, Habib Ali memiliki karya paling populer hingga zaman ini yakni kitab Maulid Simtudduror atau untaian mutiara. Dalam kitab itu diceritakan sejarah Nabi Muhammad SAW dalam bentuk syair-syair serta berisi pujian kepada Allah. Kitab ini disusun sebagai bentuk kecintaan Habib Ali kepada Allah dan nabi. (Baca: Melongok Kesibukan Dapur Memasak untuk Jamuan Tamu Haul)

Salah satu panitia penyelenggara haul Habib Ali, Abdullah A.A., menjelaskan haul itu untuk memperingati hari kematian Habib Ali. “Inilah bedanya haul ulama dengan haul Rasulullah. Rasulullah selalu baik dari lahir hingga hayat sehingga haul yang diperingati adalah bertepatan saat hari lahir. Kalau ulama seperti Habib Ali, haul diperingati saat hari kematian,” kata Abdullah.

Menurutnya, peringatan haul setiap tahunnya memberikan pesan keteladanan seperti halnya dalam peringatan-peringatan Isra Mikraj maupun Maulid Nabi. Peringatan haul mengajak jemaah untuk memahami sejarah Habib Ali dan meneladaninya.

“Pada momen ini pula seluruh jemaah bisa berkumpul, bersilaturahmi. Keluarga semua penuh, rumah-rumah warga juga penuh menerima tamu. Kami pun berzikir bersama,” ujar salah satu generasi kelima Habib Ali, Abdulkadir Hasan.

Saat haul kemarin, sempat dibacakan sejarah panjang Habib Ali. Dilahirkan di Hadramaut Yaman, 24 Syawal bertepatan dengan 17 November 1843 Masehi, Habib Ali kecil sudah menampakkan sinar wajah dengan tanda-tanda wali atau seorang al arif billah.

Dia lahir dan dibesarkan seorang ibunda yang berpengetahuan baik dalam hal pengasuhan anak sehingga Habib Ali bisa khatam Alquran saat usia belia. Dalam hidupnya, Habib Ali selalu berpesan agar manusia selalu berpegang teguh pada ajaran Allah SWT.

Dia juga selalu mengingatkan agar murid-muridnya selalu menggelar pertemuan besar semacam haul ini karena bisa tercipta persatuan, umat selalu diingatkan untuk hidup rukun dan saling menolong. Habib Ali bahkan tidak sanksi jika pertemuan besar muslim tersebut dalam pengawasan Nabi Muhammad SAW.

Di Indonesia, Abdullah menyebut tradisi haul Habib Ali masuk sekitar tahun 1920, oleh salah satu putra Habib Ali yaitu Habib Alwi bin Habib Ali Al Habsyi. Makam Habib Alwi ada di dalam kompleks Masjid Ar Riyadh.

Sepeninggal Habib Alwi, dakwah diteruskan putranya, Habib Anis bin Alwi Al Habsyi. Habib Anis meninggal dunia pada 2006. Estafet dakwah diteruskan putranya Habib Hasan bin Anis Al Habsyi. Saat ini, Habib Hasan menjadi imam Masjid Ar Riyadh.?

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…