Acara panen raya padi ciherang di Desa Argomulyo, Sedayu, Bantul, Senin (8/1/2018). (Salsabila Annisa Azmi/JIBI/Harian Jogja) Acara panen raya padi ciherang di Desa Argomulyo, Sedayu, Bantul, Senin (8/1/2018). (Salsabila Annisa Azmi/JIBI/Harian Jogja)
Senin, 8 Januari 2018 21:55 WIB Salsabila Annisa Azmi/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

400 Kg Benih Inpari di Bantul Jadi Rintisan DIY Mandiri Benih

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian melalui program Upaya Khusus (UPSUS) berharap Bantul menjadi penggiring provinsi DIY menuju predikat mandiri benih padi

Solopos.com, BANTUL– Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian melalui program Upaya Khusus (UPSUS) berharap Bantul menjadi penggiring provinsi DIY menuju predikat mandiri benih padi.

Panen raya di Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu yang dinilai sukses diharapkan mampu meningkat produktivitasnya setelah pemberian bantuan berupa benih padi varietas unggul Inpari 30.

Kepala Balitbangtan Kementerian Pertanian, Muhammad Syakir menegaskan kepada para petani di Sedayu agar 400 kilogram benih bantuan varietas unggul Inpari 30 ditanam di seluruh lahan pertanian Sedayu sekitar 16 hektare (ha).

“Diharapkan 16 ha menjadi benih lagi, ketika ditanam kira-kira akan menghasilkan panen 15.000 ha sedangkan luas sawah di DIY itu kan kira-kira 50.000 ha. Ini baru satu kecamatan saja, kalau dilakukan terus menerus, diharapkan Bantul bisa giring DIY jadi mandiri benih,” ujar Syakir seusai memanen padi ciherang di Desa Argomulyo, Senin (8/1/2018).

Syakir menambahkan varietas tersebut adalah varietas amphibi yang bisa bertahan meskipun sawah kekeringan. Selain itu memiliki produktivitas hingga 10 ton beras.

Oleh karena itu selain untuk meningkatkan produktivitas padi, dia berharap dengan ditanamnya inpari di Sedayu maupun di desa-desa seluruh Indonesia dapat mengamankan stok beras di bulan-bulan rawan penurunan produksi yaitu Desember hingga Januari. Sehingga tidak ada alasan untuk melakukan impor beras.

Pengamat Pertanian Kecamatan Sedayu, Supradal mengatakan saat ini dari 901 hektare pertanian terdapat 25 ha lahan siap panen di Sedayu. Lahan 10 ha masih menggunakan metode tanam biasa, dan 15 ha sudah menerapkan jajar legowo.

Kementerian Pertanian melalui Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) DIY terus melakukan inovasi teknologi pertanian termasuk jajar legowo dan bantuan caplak untuk meningkatkan produktivitas padi di Sedayu.

“Lumpur di sini terlalu dalam, transplanter jadi tidak berfungsi dengan baik, kami akhirnya pakai caplak dari BPTP, saat ini ada 8,96 ton panen gabah kering,” ujar Supradal.

Ketua Kelompok Tani Bogalestari Sedayu, Jakiman, mengatakan produksi padi varietas ciherang di Sedayu cukup tinggi. Harapannya dengan inpari bisa lebih tinggi lagi. Selain itu dia juga mempertahankan penggunaan pupuk organik di Sedayu.

“Kami hanya pakai pupuk kimia 10 persen saja, kemudian kami terapkan jajar legowo, produktivitas naik 30 persen sejak 2015. Naiknya kira-kira segitu,” kata Jakiman.

Camat Sedayu Fauzan Muarifin mengatakan panen padi di Sedayu tahun 2017 terbilang sukses. Hanya saja kendala hama tikus masih sering terjadi. Tetapi masalah tersebut telah teratasi oleh warga yang mendirikan Rumah Burung Hantu (Rubuhan).

Rencananya rubuhan akan dijadikan potensi wisata Sedayu. Selain itu, Fauzan juga akan menjadikan Sedayu tak sekedar bertani padi namun juga ikan.

lowongan pekerjaan
Penerbit Ziyad Visi Media, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Haul dan Risalah Maulid Simtuddurar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (09/01/2018). Esai ini karya Muhammad Dalhar, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret dan anggota Jemaah Ahbabul Musthofa. Alamat e-mail penulis adalah mbahdalhar7@gmail.com Solopos.com, SOLO–Haul Habib Ali kembali digelar….