Petugas Dishub Solo memasang barikade di Jl. Slamet Riyadi, Solo, Minggu (7/1/2018). (Nicolous Irawan/JIBI/Solopos) Petugas Dishub Solo memasang barikade di Jl. Slamet Riyadi, Solo, Minggu (7/1/2018). (Nicolous Irawan/JIBI/Solopos)
Minggu, 7 Januari 2018 20:35 WIB Ivan Andimuhtarom/JIBI/Solopos Solo Share :

HAUL HABIB ALI SOLO
Waktu dan Tempat Jualan PKL Pun Diatur Ketat Agar Tak Ganggu Tamu

Pemkot Solo benar-benar memperhatikan keberadaan PKL sepanjang haul Habib Ali agar tak sampai mengganggu para tamu.

Solopos.com, SOLO — Para pedagang kaki lima (PKL) tak bisa berjualan di lokasi semau mereka selama momentum haul Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi di Pasar Kliwon, Solo, Senin-Selasa (8-9/1/2018). Pemerintah Kota Solo menata PKL agar tidak mengganggu ratusan ribu tamu haul.

Kabid Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Solo, Agus Sis Wuryanto, saat ditemui Solopos.com di depan kompleks pertokoan Masjid Riyadh, Pasar Kliwon, Solo, Sabtu (6/1/2018), mengatakan Pemkot Solo tahun ini mengambil peran lebih besar dalam penyelenggaraan haul Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi.

Hal itu karena acara haul sudah masuk calendar event Pemkot Solo. Ia mengatakan salah satu hal yang tahun ini menjadi perhatian adalah penataan PKL di seputar Masjid Riyadh sebagai pusat acara haul. (Baca: Begini Kondisi Jalanan Solo setelah Jl. Kapten Mulyadi Ditutup untuk acara Haul Habib Ali)

Ia menjelaskan tahun ini Jl. Ibu Pertiwi atau jalan di sebelah selatan Masjid Riyadh diizinkan untuk ditempati PKL. Kebijakan itu diambil karena warga berkeras memberi izin.

“Warga telanjur melakukan mapping atau mengaveling bahu jalan untuk lapak PKL. Warga sudah memasang tenda-tenda di jalan wilayah Kampung Gurawan itu. Kata mereka itu masuk kas warga. Tapi faktanya ada transaksi. Baiklah, kali ini masih boleh. Tapi tahun depan kami akan atur,” tuturnya.

Penataan PKL juga dilakukan di Jl. Kapten Mulyadi. Pada tahun lalu PKL bisa dengan bebas menggelar dagangan di jalan tersebut, tahun ini PKL hanya diperkenankan berjualan di sisi barat Jl. Kapten Mulyadi dan sisi timur trotoar barat jalan tersebut.

“Jl. Kapten Mulyadi dari kantor Bank BRI sampai Alfamart harus steril dari PKL. Mereka boleh berjualan di selatan BRI atau utara Alfamart. Kami tidak pandang bulu untuk penertiban. Haul adalah aset kebudayaan dan pariwisata Pemkot Solo,” terang dia.

Kepala Satpol PP Solo, Sutarja, mengatakan panitia haul meminta agar tenda di depan pertokoan Masjid Riyadh bisa dimanfaatkan para tamu. Tahun lalu, tenda itu malah digunakan PKL.

“Padahal panitia mendirikan tenda untuk para tamu yang hadir. Itu dulu yang kami sterilkan tahun ini. Ini untuk menghormati tamu-tamu. Agar mereka tidak berdesak-desakan dengan para PKL,” kata dia saat ditemui Solopos.com, Sabtu siang. (Baca: Panitia Haul Habib Ali Siapkan 280 Kambing dan 4 Ton Beras)

Selain pembatasan area berjualan, Pemkot juga mengatur waktu berjualan PKL. PKL diperbolehkan menggelar dagangan mulai Minggu (7/1/2017) pukul 14.00 WIB setelah Jl. Kapten Mulyadi ditutup total dari Perempatan Sangkrah sampai Baturono. Kemudian pada Selasa pukul 09.30 WIB mereka harus selesai berjualan, termasuk membongkar lapak-lapak sampai bersih karena jalan akan dibuka kembali.

“Kami akan memberikan edaran pada Selasa pagi untuk mengemasi barang sebelum pukul 09.30 WIB,” katanya.

Ia mengimbau para PKL mengikuti arahan petugas linmas dan Satpol PP di lokasi. Biasanya, petugas akan mengingatkan jika PKL melanggar ketentuan.

“Ini tadi ada yang bandel. Diingatkan petugas Dinas Perdagangan [Disdag] dan linmas tidak menghiraukan. Saya terjunkan Satpol PP untuk menertibkan, baru dia mau. Padahal linmas itu anggota saya juga,” katanya.

Ia berharap tahun depan pelaksanaan haul lebih tertata. Dia akan mengupayakan agar kondisi di dalam kampung tidak ruwet dengan banyaknya kendaraan yang diparkir di jalan-jalan. ” Kalau disetujui, parkir tersentral jadi satu misalnya di Benteng Vastenburg,” tuturnya.

Salah seorang warga Jakarta yang berniat berjualan saat haul, Arif, sempat menanyakan ketentuan berjualan kepada Agus Sis Wuryanto. Ia mengaku baru kali pertama berjualan.

“Saya belum tahu ada aturan pengaturan lokasi dan waktu berjualan. Ikuti prosedur saja. Biar dagangan tenang. Diuber-uber enggak enak. Katanya tadi enggak ada bayaran sama sekali. Kalau sampai ada yang minta uang, catat namanya, minta kuitansi, dan laporkan ke Satpol PP,” kata lelaki yang berjualan pakaian muslim itu.

Terpisah, Pelaksana Humas Panitia Haul, Habib Muhammad bin Hasan Al Habsyi, 27, mengatakan pada Sabtu, keluarga menjamu sebagian tamu yang sudah datang. Sementara pada sore ada acara roha.

“Ini dari Jakarta dan Banyuwangi sudah datang. Dari luar negeri ada yang sudah datang, dari Yaman dan Arab Saudi,” kata dia saat ditemui Solopos.com di Masjid Riyadh, Sabtu.

Ia menjelaskan acara haul dipusatkan di zawiyah Masjid Riyadh atau pojokan masjid. Sedangkan acara maulid pada Selasa dilaksanakan di masjid. “Saat maulid, jemaah banyak sekali tak hanya di masjid tapi sampai jalan. Mereka ada yang salat subuh di Masjid Assegaf,” katanya.

Salah satu panitia penyelenggara Haul Habib Ali, Abdullah A.A., mengatakan agenda selepas Salat Asar adalah pembacaan Alquran dan karya-karya Habib Ali. Acara itu dilaksanakan hingga Magrib.

“Selesai Magrib diteruskan kegiatan keagamaan sampai Isya. Lalu makan bersama dilanjut hajir marawis atau agenda kebudayaan di zawiyat di samping masjid,” katanya.

lowongan pekerjaan
SMK CITRA MEDIKA SRAGEN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Haul dan Risalah Maulid Simtuddurar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (09/01/2018). Esai ini karya Muhammad Dalhar, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret dan anggota Jemaah Ahbabul Musthofa. Alamat e-mail penulis adalah mbahdalhar7@gmail.com Solopos.com, SOLO–Haul Habib Ali kembali digelar….