Hadi Supono dan Marsih sedang menggedong Difsa Saputri yang mengalami kelainan di kaki bagian kiri, Jumat (5/1/2018). (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja) Hadi Supono dan Marsih sedang menggedong Difsa Saputri yang mengalami kelainan di kaki bagian kiri, Jumat (5/1/2018). (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja)
Sabtu, 6 Januari 2018 06:40 WIB David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

Tak Punya Biaya Bayi Difsa Hanya Dirawat Jalan

Bayi Difsa butuh uluran tangan.

Solopos.com, GUNUNGKIDUL–Pengobatan untuk Difsa Saputri, bayi penderita kelainan kaki yang membengkak telah dibantu oleh Bapel Jamkesos DIY. Namun demikian, bantuan tersebut belum menyelesaikan masalah, karena keluarga masih butuh uluran, khususnya untuk kebutuhan selama perawatan.

Ayah Difsa Saputri, Hadi Supono mengakui, tidak memiliki banyak uang untuk mencukupi kebutuhan selama perawatan. Kondisi inilah yang membuat keluarga menghentikan proses perawatan di Sardjito.

“Harusnya putri saya dirawat selama dua bulan, tapi karena masalah keuangan, kami pilih dilakukan rawat jalan saja,” kata Hadi yang sehari-hari bekerja sebagai tukan pijit ini, Jumat (5/1/2018).

Menurut dia, keputusan menghentikan perawatan di Sardjito merupakan pilihan yang berat. Namun keputusan tersebut harus diambil, terlebih lagi selama perawatan Difsa harus berpisah dengan sang ibu sehingga tidak mendapatkan asupan dari asi.

“Kelahirannya kan dengan persalinan cesar, maka kondisi Marsih [ibu Difsa] masih lemas dan belum bisa kemana-mana. Jadi saat menjalani rawat jalan, anak saya mendapatkan asupan asi yang cukup,” ungkapnya.

Baca juga : Difsa, Balita Malang dari Gunungkidul Lahir dengan Kaki Kiri Membengkak

Hadi pun mengaku pasrah dengan apa yang dialami Difsa. Untuk biaya pengobatan selama perawatan, ia sudah banyak meminjam ke tetangga. “Memang selama perawatan tidak bayar, tapi untuk transportasi Semanu-Kota Jogja juga butuh biaya,” katanya.

Baca juga : Difsa, Bayi Penderita Kelainan Sejak Lahir Belum Tercover JKN BPJS

Menurut dia, apa yang dialami Difsa bisa disembuhkan, namun dengan catatan harus rutin menjalani pengobatan. “Kami akan terus berusaha dan setiap kali periksa, harus pagi-pagi ke Sardjito untuk mendapatkan antrean dalam pemeriksaan,” katanya.

Kepala Desa Semanu, Andang Yunanto mengatakan, keluarga Hadi Supono termasuk keluarga tidak mampu. Ia pun berharap ada bantuan untuk meringankan beban selama Difsa menjalani perawatan. “Mudah-mudahan ada yang bantu, apalagi untuk biaya bolak-balik Semanu-Kota Jogja juga butuh biaya yang tidak sedikit,” katanya.

lowongan pekerjaan
PT. BUMI AKSARA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Haul dan Risalah Maulid Simtuddurar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (09/01/2018). Esai ini karya Muhammad Dalhar, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret dan anggota Jemaah Ahbabul Musthofa. Alamat e-mail penulis adalah mbahdalhar7@gmail.com Solopos.com, SOLO–Haul Habib Ali kembali digelar….