Pelancong berfoto dengan latar belakang candi saat mengunjungi Candi Ijo di Sambirejo, Prambanan, Kabupaten Sleman, DIY, Senin (25/12/2017). (Harian Jogja/Desi Suryanto) Pelancong berfoto dengan latar belakang candi saat mengunjungi Candi Ijo di Sambirejo, Prambanan, Kabupaten Sleman, DIY, Senin (25/12/2017). (Harian Jogja/Desi Suryanto)
Sabtu, 6 Januari 2018 21:20 WIB Abdul Hamied Razak/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

Sambut NYIA, Begini Rencana Pengembangan Wisata di Sleman Barat

Pembangunan bandara baru, New Yogyakarta International Airport (NYIA) direspon dengan persiapan yang matang oleh Dinas Pariwisata (Dispar) Sleman

Solopos.com, SLEMAN– Pembangunan bandara baru, New Yogyakarta International Airport (NYIA) direspon dengan persiapan yang matang oleh Dinas Pariwisata (Dispar) Sleman.

Kepala Dispar Sleman Sudarningsih menjelaskan konsep penataan wisata di wilayah Sleman Barat sudah tercantum dalam rencana induk pembangunan kepariwisataan daerah (RIPKD) Sleman.

Dalam RIPKD tersebut, wilayah Sleman Barat didualat sebagai kawasan dengan pengembangan wisata perdesaan dan pertanian. Saat ini, yang disiapkan dan didorong oleh Pemkab adalah tumbuhnya agrowisata, desa wisata, dan mina padi.

“Tentu, penataan tersebut dilakukan dengan menggabungkan beragam industri kerajinan yang banyak berkembang di Sleman Barat,” katanya kepada Solopos.com, Jumat (5/1/2018).

Di Sleman, katanya, terdapat potensi wisata yang bisa dikembangkan. Mulai wisata candi, wisata alam, hingga wisata buatan banyak bertebaran di Sleman. Di wilayah Timur, ada sembilan candi, seperti Prambanan, Boko, Ijo, Banyunibo, Baron, Sari, Kalasan, Sambisari dan Gebang yang bisa menjadi daya tarik wisatawan.

Selain itu, terdapat 31 desa wisata terdiri atas sembilan desa wisata mandiri, delapan desa wisata berkembang dan14 desa wisata tumbuh.

Dari desa wisata yang ada, hanya enam desa wisata yang ada di Sleman Barat. Ini dikarenakan Sleman barat selama ini difokuskan sebagai lumbung pangan. “Kajian penataan wisata di Sleman barat sudah dilakukan sejak 2017 lalu,” katanya.

Sebagai lumbung pangan, wilayah Sleman Barat yang terdiri dari Godean, Seyegan, Minggir dan Moyudan akan dikembangkan wisata berbasis pertanian. Di wilayah tersebut banyak potensi wisata yang belum tergarap mulai view sawah, Sungai Progo, potensi kuliner, budaya hingga heritage.

Di wilayah tersebut, misalnya, terdapat rumah peninggalan sekolah akaemi kepolisian, dan benteng Van Der Wijck. Selain itu, ada wisata edukasi Batik Sedangsari Minggir. Dispar juga mengembangkan wisata agro Minapadi di Cibuk Kidul, Seyegan.

Tidak hanya itu, Dispar juga menyiapkan sejumlah rest area yang akan dilengkapi dengan etalase ekonomi untuk menjual produk-produk Sleman. Adanya NYIA, kata Ningsih, diharapkan dapat mengangkat produk-produk lokal menjadi daya tarik bagi jalur ke Borobudur dan Solo.

“Pemkab akan membangun beberapa titik rest area untuk membidik segmen wisatawan tertentu. Baik untuk wisman maupun untuk wisnus,” katanya.

lowongan pekerjaan
PT. BUMI AKSARA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Calon Tunggal dan Disfungsi Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (10/01/2018). Esai ini karya Isharyanto, dosen Hukum Tata Negara di Universitas Sebelas Maret Solo. Alamat e-mail penulis adalah isharyantoisharyanto8@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada 2018 ini 171 daerah provinsi/kabupaten/kota akan menyelenggarakan pemilihan kepala daerah secara serentak….