Sabtu, 6 Januari 2018 18:20 WIB Salsabila Annisa Azmi/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

Peternak Kepiting Baros Masih Mencari Pakan Alternatif untuk Penggemukan

Pelestarian dan formula pakan alternatif untuk kepiting sangat diperlukan

Solopos.com, BANTUL – Peternak kepiting di kawasan mangrove dusun Baros Tirtohargo Kretek Bantul mengatakan saat ini terjadi pergeseran konsumsi masyarakat Bantul terhadap kepiting. Oleh karena itu pelestarian dan formula pakan alternatif sangat diperlukan.

Baca juga : Muara Kali Opak Penuh Sampah, Pertumbuhan Kepiting Terhambat

Sebelumnya, Anggota Divisi Konservasi Kelompok Pemuda Pemudi Baros (KP2B) Dwi Ratmanto mengatakan di tengah tingginya permintaan kepiting di Bantul, peternak kepiting belum menemukan formula pakan alternatif yang tepat untuk penggemukan kepiting.

“Selama ini kami gunakan semacam sosis buatan sendiri, tetapi kami uji coba berkali-kali tidak berhasil untuk menaikkan bobot kepiting. Tidak tahu takarannya juga. Teknologi keramba kami juga tidak berhasil,” ujar Dwi, Rabu (3/1/2018).

Kasi Pengendalian Perikanan dan Sarana Prasarana Perikanan Susilartati mengatakan Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (Diperpautkan) Bantul sudah pernah mengadakan uji coba pangan alternatif dan keramba terhadap kepiting di Dusun Baros.

Namun uji coba itu baru dilakukan sekali. Pakan alternatif kepiting belum direncanakan untuk diuji. Susilartati menambahkan dia belum mengetahui jika permintaan kepiting di Bantul mulai meningkat.

“Kami belum ada datanya,” ujar dia saat ditemui Solopos.com, Kamis (4/1/2018).

Saat ini, kebijakan untuk peternakan kepiting yang dijalankan hanya restocking.

Dikatakan oleh Susilartati, Diperpautkan tengah fokus pada budidaya ikan lele, ikan nila, dan ikan gurame. Dari ketiga ikan tersebut, ikan lele yang paling diutamakan.

Berdasarkan data yang didapat, pada tahun 2016, Bantul memproduksi 6.738.202 ekor lele, 1.924.565 ikan nila, dan 1.860.867 ikan gurame. Ikan lele dinilai paling menjanjikan karena perawatannya yang mudah. Namun untuk tahun 2017, data produksi direkap dari Diperpautkan DIY.

lowongan pekrjaan
Akuntansi, Administrasi,Marketing,Tehnisi ,Gudang/Driver, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Calon Tunggal dan Disfungsi Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (10/01/2018). Esai ini karya Isharyanto, dosen Hukum Tata Negara di Universitas Sebelas Maret Solo. Alamat e-mail penulis adalah isharyantoisharyanto8@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada 2018 ini 171 daerah provinsi/kabupaten/kota akan menyelenggarakan pemilihan kepala daerah secara serentak….