Foto Ilustrasi JIBI/Solopos/Maulana Surya
Sabtu, 6 Januari 2018 05:40 WIB Sunartono/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Jangan Bebani Siswa SD dengan Menambah Jam Pelajaran

Buntut penambahan mapel di USBN SD, sebagian sekolah ingin tambah jam pelajaran.

Solopos.com, JOGJA–Penambahan jam pelajaran di sekolah untuk merespons kebijakan masuknya lima mata pelajaran (mapel) dalam Ujian Nasional Berstandar Nasional (USBN) tingkat SD dinilai akan semakin membebani siswa.

Henry Cahyono Guru Penjaskes SD Muhammadiyah Miliran Kota Jogja mengaku, telah mendapatkan informasi terkait rencana pemerintah memasukkan delapan mapel dalam USBN SD (sebelumnya hanya tiga mapel).

Meski belum ada kepastian, namun sebagai guru, pihaknya tentu harus mempersiapkan anak didiknya yang kini duduk di bangku kelas enam. Ia mengampu Penjaskes setiap kelas dengan durasi empat jam pelajaran dalam sepekan.  Oleh karena itu, jika nanti mapelnya masuk dalam USBN, pihaknya tidak akan menambahkan jam pelajaran.

“Kami belum berencana untuk menambah jam pelajaran, karena empat jam itu kami merasa sudah cukup untuk siswa,” terangnya saat ditemui Harianjogja.com, Jumat (5/1/2018).

Ia menjelaskan, selama bertahun-tahun ujian akhir jelang kelulusan untuk Penjaskes hanya dilakukan dengan praktikum lapangan. Mengingat tujuan pembelajaran sesuai kurikulum menegaskan bahwa siswa harus mampu melakukan aktivitas tertentu. Guna memenuhi kompetensi itu, pihaknya selalu menguji dengan praktikum. “Karena kompetensi misalnya, siswa dapat melakukan aktivitas olahraga tertentu,” ujar dia.

Jika Penjaskes masuk dalam USBN, ia berharap ujian yang diberikan tidak sekedar teori atau ujian tulis, namun juga sebaiknya ada praktik agar seimbang sesuai pemenuhan kompetensi. Salah satu persiapan yang akan dilakukan adalah mengubah pola pembelajaran. Jika selama ini, empat jam pelajaran sepenuhnya dihabiskan di lapangan melalui kegiatan praktik, maka ke depan akan dibagi dengan teori di dalam kelas.

Psikolog UGM Budi Andayani mengatakan, penambahan jam pelajaran memang seharusnya tak perlu dilakukan setiap sekolah. Karena langkah itu akan semakin membebani siswa, apalagi jika hampir semua mapel yang diujikan. Bagi siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata, mungkin tambahan jam itu masih bisa mengikuti dan hanya sekadar kelelahan.

Namun, siswa yang kemampuannya di bawah rata-rata, mereka bisa semakin bosan karena tidak bisa mengikuti proses pembelajaran. Ia menilai, keputusan menambah jam pelajaran bukan sepenuhnya untuk kebutuhan siswa, justru untuk melayani kebutuhan sekolah dan gengsi orang tua ketika anaknya memiliki nilai USBN yang bagus.

Tambahan jam jelas akan mengurang waktu bermain anak, terutama setingkat SD. “Akhirnya anak yang menjadi sentral dari perhatian itu, posisi anak menjadi bukan yang ingin dipintarkan, tetapi menjadi alat untuk yang lain-lain mencapai targetnya. Sehingga yang ribut sekolahnya, takut siswanya kalah bersaing dengan sekolah lain, tidak masuk ke sekolah yang diinginkan dan seterusnya,” ungkap dia.

Seperti diketahui, bertambahnya mapel dalam USBN sebelumnya direspons sejumlah sekolah dengan rencana menambah jam pelajaran terutama untuk lima mapel baru yang akan disertakan dalam USBN.

lowongan pekerjaan
Penerbit Ziyad Visi Media, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Haul dan Risalah Maulid Simtuddurar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (09/01/2018). Esai ini karya Muhammad Dalhar, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret dan anggota Jemaah Ahbabul Musthofa. Alamat e-mail penulis adalah mbahdalhar7@gmail.com Solopos.com, SOLO–Haul Habib Ali kembali digelar….