Ilustrasi lahan transmigrasi (JIBI/Antara/Dok.) Ilustrasi lahan transmigrasi (JIBI/Antara/Dok.)
Sabtu, 6 Januari 2018 10:30 WIB Sri Sumi Handayani/JIBI/Solopos Karanganyar Share :

40 Keluarga Karanganyar Tunggu Giliran Transmigrasi ke Luar Jawa

40 Keluarga warga Karanganyar mengantre untuk transmigrasi.

Solopos.com, KARANGANYAR — Sebanyak 40 keluarga di Kabupaten Karanganyar mengantre mengikuti program transmigrasi ke luar Pulau Jawa.

Kepala Bidang (Kabid) Pelatihan dan Penempatan Tenaga Kerja Dinas Perdagangan Tenaga Kerja Koperasi dan UKM (Disdagnakerkop dan UKM) Karanganyar, Murseno, menyampaikan pihaknya menyiapkan 40 keluarga itu dengan memberikan pelatihan.

“Ada 40 keluarga antre. Sambil kami latih. Jatahnya nunggu pemerintah pusat. Penempatan dimana belum karena menunggu acc dari pusat termasuk berapa keluarga yang bisa diberangkatkan tahun ini,” kata Murseno saat berbincang dengan solopos.com di salah satu acara di Matesih, Jumat (5/1/2017).

Disdagnakerkop dan UKM sudah memberangkatkan tiga keluarga atau sebanyak sepuluh orang ke Provinsi Gorontalo pada Kamis (21/12/2017). Mereka berasal dari Kecamatan Gondangrejo, Matesih, dan Jumantono. Tahun 2016, Disdagnakerkop dan UKM memberangkatkan lima keluarga mengikuti transmigrasi ke Provinsi Gorontalo juga.

Murseno mengklaim salah satu keluarga transmigran yang berangkat ke Gorontalo pada 2016 sudah sukses beternak. “Ada namanya Idrus dari Karangpandan. Dia beternak. Dia bisa menangkap potensi di sana selain bercocok tanam. Empat bulan di sana sudah mandiri,” cerita Murseno saat ditanya contoh transmigran yang sukses membangun kehidupan di tanah rantau.

Sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan menjadi usaha baru yang harus ditekuni transmigran. Oleh karena itu, pelatihan yang diberikan pun sesuai kebutuhan transmigran di tanah rantau. Selain memberikan pelatihan kepada calon transmigran, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar juga mengecek dan memastikan lokasi tujuan transmigrasi layak.

“Biasanya pemerintah pusat itu mengusulkan sejumlah tempat di Sulawesi, Kalimantan, Sumatera. Hla kami kan harus melihat karakter calon transmigran. Jangan sampai program gagal dan mereka kembali. Makanya kami sempatkan mengecek lokasi supaya bisa memberikan gambaran kepada calon,” jelas dia.

Selain itu, pembukaan lokasi transmigrasi menyesuaikan kesiapan wilayah penerima calon transmigran. Wilayah tersebut harus membuka lahan untuk tempat tinggal dan bercocok tanam transmigran asal Pulau Jawa. “Kami harap tahun ini kuota untuk kami lebih banyak. Kami minta DPRD juga bijak perihal alokasi dana untuk program transmigrasi ini,” ujar dia.

Pemkab Karanganyar intens memantau kondisi transmigran. Transmigran mendapatkan jatah hidup (jadup) berupa uang tunai, sembako, dan lain-lain dari pemerintah pusat selama satu tahun. Pemkab Karanganyar memberi sangu bibit dan alat pertanian. Mereka akan mendapatkan rumah tipe 36 dan modal usaha berupa lahan 1,5 hektare.

“Hanya calon yang memenuhi syarat yang boleh berangkat. Makanya transmigran itu diseleksi betul-betul. Selain itu, kami juga cek fasilitas di tempat tujuan, misal akses, fasilitas publik, dan lain-lain,” terang dia.

lowongan pekerjaan
PT.SEJATI CIPTA MEBEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Haul dan Risalah Maulid Simtuddurar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (09/01/2018). Esai ini karya Muhammad Dalhar, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret dan anggota Jemaah Ahbabul Musthofa. Alamat e-mail penulis adalah mbahdalhar7@gmail.com Solopos.com, SOLO–Haul Habib Ali kembali digelar….