Warga bersama personel Babinsa memeriksa talut longsor akibat hujan deras di Dukuh Wiro, RT 010/RW 004, Desa Wiro, Bayat, Klaten, Jumat (5/1/2018). (Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos) Warga bersama personel Babinsa memeriksa talut longsor akibat hujan deras di Dukuh Wiro, RT 010/RW 004, Desa Wiro, Bayat, Klaten, Jumat (5/1/2018). (Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos)
Jumat, 5 Januari 2018 19:35 WIB Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos Klaten Share :

LONGSOR KLATEN
Bertahun-Tahun Warga Wiro Dirundung Rasa Takut

Warga di tepi Kali Dengkeng, Wiro, Bayat, Klaten, dihantui rasa takut setelah talut kali tersebut longsor.

Solopos.com, KLATEN — Sugimin, 42, menjalani hari-harinya di musim hujan dengan rasa takut. Talut Kali Dengkeng di samping rumahnya longsor lagi setelah diguyur hujan deras, Rabu (3/1/2018) malam.

Satu-satunya pelindung rumahnya tinggal talut beton setinggi tujuh meter yang kini berongga dan menjadi sarang ular. Sugimin sebelumnya harus merelakan pekarangannya seluas 250 meter persegi hilang.

Pekarangan itu kini sudah menjadi badan sungai. Tanahnya tinggal sepetak rumah berukuran enam meter kali enam meter yang tanahnya terus tergerus perlahan-lahan. (Baca: Tergerus Erosi Kali Dengkeng, Pekarangan Warga Bayat Hilang)

Batas tanahnya berada tepat di tengah-tengah sungai. Sedangkan badan sungai itu kini menjadi rumpun bambu yang tumbuh di tanah menyerupai tanggul di seberang rumah Sugimin.

Suasana makin mencekam kala hujan deras. Debit air Kali Dengkeng meninggi karena sampah menumpuk di dam tak jauh dari rumah Sugimin. Air yang tak bisa mengalir hanya berputar-putar seperti pusaran menggerus talut.

“Takut juga kalau banjir. Rasanya seperti ada ombak di samping rumah. Arus air menggulung-gulung, berputar-putar karena di situ kelokan sungai,” kata dia saat ditemui wartawan di rumahnya Dukuh Wiro, RT 010/RW 004, Desa Wiro, Kecamatan Bayat, Klaten, Jawa Tengah, Jumat (5/1/2018).

Ia berharap pemerintah bisa menormalkan sungai kembali ke bentuk awal dahulu. Talut makin lama makin tipis dan kini menyisakan sekitar satu meter dari talut jalan, satu-satunya talut yang melindungi warga dari limpasan air Kali Dengkeng. (Baca: Tebing Kali Dengkeng Sepanjang 1,46 Km Rawan Longsor)

Hujan deras pada Rabu malam mengakibatkan talut Kali Dengkeng kembali tergerus. Talut sepanjang 100 meter dengan lebar lima meter dan ketinggian tujuh meter kini semakin mendekat ke talut jalan.

Kerusakan itu diduga karena arus yang deras berada di kelokan sungai terhambat karena penumpukan sampah sehingga menghambat aliran air. “Kemarin ketinggian air sempat peres dan meluber ke permukiman,” kata Koordinator Sukarelawan Tanggap Bencana Desa Wiro, Jarmadi alias Doni, 52.

Setidaknya ada empat rumah yang dihuni empat keluarga yang bersinggungan langsung dengan sungai di RT 010/RW 004 Dukuh Wiro, Desa Wiro. Jika air Kali Dengkeng meluber, delapan dukuh bakal terendam yakni Mandungan, Jonggrangan, Pilangsari, dan lainnya.

Hanya Dukuh Tugurejo di Desa Wiro yang tak terkena dampak. “Warga sekampung bahkan satu desa bisa kena dampak. Kemarin air sempat masuk ke rumah warga,” terang Doni.

Saat hujan deras, semua warga berkumpul mendekati tanggul. Warga bergotong royong semampunya untuk membendung agar air tak meluber ke permukiman. Kerusakan talut sudah berulang kali dilaporkan ke instansi terkait.

Perwakilan instansi terkait juga berulang kali memotret lokasi namun tak kunjung ada perbaikan. “Warga meminta ini segera ditangani,” harap dia.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten melakukan penanganan darurat soal kerusakan talut dengan membuat tanggul dari karung tanah. Kendati demikian, solusi terbaik adalah pembangunan talut permanen dan itu menjadi kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS).

“Situasi di Wiro sudah kami laporkan kepada BBWSBS,” ujar Kepala BPBD Klaten, Bambang Giyanto.

BBWSBS menyatakan sudah menyiapkan desain untuk upaya penanganan talut Kali Dengkeng. Namun, desain itu belum terealisasi karena keterbatasan anggaran. Saat ini BBWSBS sedang membangun enam bendungan dengan dana tak sedikit.

Tak hanya itu, BBWSBS juga menangani ribuan kilometer sungai meliputi 96 sungai induk, ratusan anak sungai, serta ribuan avur atau anak anak sungai. “Sungai Bengawan Solo saja 617 kilometer itu pun belum tertangani. Desain tanggul Kali Dengkeng sudah disiapkan untuk dikonstruksikan sepanjang lebih kurang lima kilometer. Dana diusulkan dari sisa lelang,” kata Kepala Kepala BBWSBS, Charisal A. Manu.

lowongan pekerjaan
SMK CITRA MEDIKA SRAGEN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Haul dan Risalah Maulid Simtuddurar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (09/01/2018). Esai ini karya Muhammad Dalhar, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret dan anggota Jemaah Ahbabul Musthofa. Alamat e-mail penulis adalah mbahdalhar7@gmail.com Solopos.com, SOLO–Haul Habib Ali kembali digelar….