Pemilik Waroeng Ereng-Ereng, Jemi Kanas menunjukkan menu andalan warungnya, Sego Sangit Sambal Kopi. (Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja) Pemilik Waroeng Ereng-Ereng, Jemi Kanas menunjukkan menu andalan warungnya, Sego Sangit Sambal Kopi. (Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja)
Jumat, 5 Januari 2018 21:40 WIB Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

KULINER UNIK
Menikmati Santapan Sambal Kopi di Pedesaan

Kuliner unik ini berlokasi di Seloharjo, Pundong, Bantul.

Solopos.com, BANTUL–Apa jadinya jika kopi yang biasa diseduh dan dinikmati sebagai minuman dijadikan bahan baku sambal? Untuk mencicipinya Anda harus menyambangi sebuah warung di Dusun Ngreco, Desa Seloharjo, Kecamatan Pundong. Berikut laporan wartawan Harianjogja.com, Rheisnayu Cyntara.

Memang bukan perkara mudah untuk sampai di Waroeng Ereng-Ereng yang menyediakan kuliner unik sambal kopi ini. Saya harus melewati jalur perbukitan yang berkelok-kelok dan cukup curam. Warung ini berada sekitar 400 meter dari objek wisata Gua Jepang di Desa Seloharjo.

Cukup mudah menembus warung ini, sebelum gua yang berada di ujung bukit, terdapat Sendang Surocolo dengan dua pohon besar berusia puluhan tahun. Dari sendang tersebut, saya hanya perlu melewati jalan menurun yang curam sekitar 50 meter saja, warung ini yang memang berada di perbukitan ini telah terlihat.

Suasana sejuk dan teduh langsung menyambut saya sesampainya di warung. Pohon-pohon besar nan rindang ada di sekelilingnya. Bahkan eksterior maupun interior warung pun juga menggunakan material kayu, menciptakan kesan hangat saat memasukinya. Sehangat sambutan pemilik warung, Jemi Kanas saat saya datang. Pria 39 tahun ini tak segan menyapa para pengunjung yang datang ke warung yang dirintisnya satu tahun terakhir ini. Bahkan, ia bercerita, meski harus menempuh medan cukup sulit, banyak pemburu kuliner yang berdatangan.

Salah satunya seniman Butet Kertaradjasa yang memang dikenal menggemari wisata kuliner. “Ada pendampingan dari PHRI. Saya diajari banyak hal,” katanya saat disambangi Harianjogja.com belum lama ini.

Pendampingan dari aktivis Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, membuat menu-menunya bercitarasa restoran. Sego Sangit Sambal Kopi menjadi andalannya selain beberapa menu lainnya seperti Ayam Buntel Bumbu Ingkung, Wedang Ereng-Ereng, dan Wedang Kahyangan. Sego Sangit Sambal Kopi ini merupakan paket makan dengan menyajikan nasi bakar, ayam panggang, sayur, dan tentu sambal kopi yang khas. Ayah tiga anak ini memberikan sentuhan dan komposisi yang sangat berbeda dengan nasi bakar pada umumnya.

“Nasi dan ayam kami panggang tapi matangnya karena asap arang bukan apinya,” ujarnya. Karena matang diasapi, ada sensasi bau sangit (Jawa) yang tercium. Khas, tak ditemui jika saya menikmati nasi bakar di warung lainnya.

Dengan hanya mengasapi, menurut Jemi aroma daun pisang sebagai pembungkus dan daun kemangi yang dimasukkan dalam nasi menjadi kuat. Sedangkan taburan ikan teri goreng di dalam gulungan nasi bakar ini memberikan rasa gurih seperti nasi uduk tanpa santan.

Untuk ayam panggangnya, pria yang sempat beberapa kali beralih profesi ini memasaknya terlebih dahulu selama sehari semalam. Sehingga bumbu rempah mampu merasuk hingga daging terdalam dan tidak terasa alot.

Sedangkan untuk sambalnya, pria asal Kebumen ini mengakui sambal kopi buatannya ini hasil eksperimen selama berbulan-bulan. Uji coba ini merupakan pengembangan dari resep keluarga, membuat sambal dengan berbagai bahan termasuk kopi.

Ia pun berusaha mencari komposisi terbaik agar sambal ini memiliki citarasa khas tanpa ada salah satu bahan baku yang mendominasi rasa. Hasilnya? Sambal berwarna kehitaman seperti sambal terasi berpadu dengan rasa pedas dan aroma kopi yang lembut memberikan sensasi unik di lidah. “Hampir enam bulan saya coba baru bisa dapat komposisi yang pas, sambal ini saya kembangkan dari racikan ibu saya di Kebumen dulu,” ucapnya bersemangat.

Jemi pun menyarankan saya untuk menutup santapan Sego Sangit Sambal Kopi dengan minum Wedang Ereng-Ereng. Minuman khas dengan rempah-rempah dan irisan pisang ini disajikan dengan diseduh. Berbeda dengan wedang uwuh, minuman rempah ini tidak terlalu banyak komposisi yang disajikan sehingga hangat rempahnya terasa lembut ditenggorokan.

Irisan pisang di dasar gelas menjadi seperti kudapan dengan rasa segar buah-buahan. “Lereng perbukitan ini kan sering berhawa dingin, jadi minuman ini sebagai penghangat,” tuturnya riang.

Disajikan dengan apik dibalut suasana pedesaan, Jemi mengaku banyak pengunjung yang kaget ketika pertama kali datang. Tidak mengira ada tempat semacam ini di atas perbukitan yang sepi. Seperti yang dituturkan oleh Indri, salah satu penikmat kuliner yang saya temui. Warga Dlingo ini mengaku baru pertama kalinya datang untuk berwisata kuliner ke Waroeng Ereng-Ereng ini. “Taunya tidak sengaja sih, penasaran sama sambal kopi. Ternyata seger tapi tetap ada sensasi pedasnya. Lokasinya juga asik.”

lowongan pekerjaan
PT.SEJATI CIPTA MEBEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Calon Tunggal dan Disfungsi Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (10/01/2018). Esai ini karya Isharyanto, dosen Hukum Tata Negara di Universitas Sebelas Maret Solo. Alamat e-mail penulis adalah isharyantoisharyanto8@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada 2018 ini 171 daerah provinsi/kabupaten/kota akan menyelenggarakan pemilihan kepala daerah secara serentak….