Pengendara melintas di sekitar titik ambrol di ruas jalan menuju Jembatan Gantung, Dusun Wunut, Desa Sriharjo, Imogiri, Bantul, Kamis (29/6/2017). (JIBI/Harian Jogja/Arief Junianto)
Jumat, 5 Januari 2018 17:20 WIB Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

Jembatan Gantung Wunut Baru Tahap Identifikasi, Kapan Pembangunan Kembali?

Perbaikan jembatan gantung Wunut di Dusun Kedungmiri, Desa Sriharjo, Kecamatan Imogiri yang rencananya akan digarap oleh Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) masih menunggu kepastian dari pusat

 
Solopos.com, BANTUL —Perbaikan jembatan gantung Wunut di Dusun Kedungmiri, Desa Sriharjo, Kecamatan Imogiri yang rencananya akan digarap oleh Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) masih menunggu kepastian dari pusat.

Baca juga : Jadi Objek Wisata, Jembatan Gantung di Bantul segera Dibangun Kembali

Pasalnya hingga kini Kemenaker dan rekanan baru melaksanakan tahap identifikasi lokasi.

Kepala Bidang Penempatan Kerja, Perluasan Kerja dan Transmigrasi Disnakertrans Bantul Istirul Widalastuti membenarkan hal tersebut.

Menurutnya pasca tim Kemenaker meninjau lokasi untuk melakukan pengukuran jembatan beberapa waktu yang lalu, belum ada kepastian selanjutnya yang ia dapatkan terkait anggaran dan kapan pembangunan akan mulai dilakukan.

Namun berdasarkan pengalaman lalu, Tirul menyebut finalisasi SK Kemenaker biasanya akan dilakukan pada April. “Setelah dapat SK kita baru bisa tahu petunjuk operasional kerja. Termasuk anggaran,” katanya, Kamis (4/1/2018).

Lebih lanjut Tirul menuturkan anggaran pembangunan jembatan gantung tersebut melekat pada Kemenaker karena menggunakan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Pusat. Sedangkan daerah, dalam hal ini Disnakertrans Bantul hanya menjadi tim pelaksana saja.

Menurutnya, selain jembatan gantung Wunut pihaknya juga mengajukan tiga jembatan lain di Sitimulyo Piyungan, Kiringan Jetis, dan juga Sanden. Namun pihak Kemenaker hanya memilih Wunut saja. Ada beberapa alasan Kemenaker memilihnya.

Tirul menyebut sisi kemanfaatan jembatan gantung penghubung dua desa yakni Sriharjo dan Selopamioro tersebut cukup besar. Sebab jembatan itu menjadi akses utama anak sekolah. Selain itu dari sisi urgensi, Kabupaten Bantul kala itu tengah dalam status darurat bencana.

“Total di seluruh Indonesia kan ada 20 jembatan gantung yang akan dibangun Kemenaker. 10 unit murni dari anggaran kementerian, lainnya dari CSR,” imbuhnya.

Alasan lain adalah pertimbangan bentangan sungai yang tak lebih dari 100 meter.

Tirul menambahkan untuk pengerjaan jembatan nantinya akan menggunakan model padat karya. Artinya masyarakat setempat yang akan membangun jembatan gantung yang baru tersebut. Itu bertujuan untuk memberdayakan dan membuka lapangan pekerjaan bagi penduduk sekitar.

Sebagai mana diketahui, jembatan gantung Wunut yang menghubungkan dua desa di kecamatan Imogiri ambrol akhir November lalu. Akibatnya penduduk kedua desa seringkali terpaksa menyeberang sungai secara langsung.

Padahal aliran Sungai Oya tersebut cukup dalam dan arusnya deras. Selain itu, sektor pariwisata pun lumpuh karena jembatan gantung tersebut merupakan ikon desa wisata Srikemenut.

lowongan pekerjaan
Penerbit Ziyad Visi Media, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Calon Tunggal dan Disfungsi Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (10/01/2018). Esai ini karya Isharyanto, dosen Hukum Tata Negara di Universitas Sebelas Maret Solo. Alamat e-mail penulis adalah isharyantoisharyanto8@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada 2018 ini 171 daerah provinsi/kabupaten/kota akan menyelenggarakan pemilihan kepala daerah secara serentak….