Rumah milik warga tertimpa pohon yang tumbang dihantam puting beliung di Dukuh Pakel, Desa Gebang, Sukodono, Sragen, Kamis (4/1/2018) sore. (Istimewa/Joko Ari Atmojo/BPBD Sragen) Rumah milik warga tertimpa pohon yang tumbang dihantam puting beliung di Dukuh Pakel, Desa Gebang, Sukodono, Sragen, Kamis (4/1/2018) sore. (Istimewa/Joko Ari Atmojo/BPBD Sragen)
Jumat, 5 Januari 2018 15:39 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

ANGIN KENCANG SRAGEN
50 Pohon Tumbang dan 12 Bangunan Rusak Ringan di Sukodono

Angin kencang yang melanda Sukodono, Sragen, mengakibatkan 50 pohon tumbang dan 12 bangunan rusak ringan.

Solopos.com, SRAGEN — Sebanyak 50 pohon tumbang dan sedikitnya 11 bangunan rumah serta satu gedung taman kanak-kanak (TK) di enam rukun tetangga (RT) Dukuh Pakel dan Dukuh Gebang, Desa Gebang, Kecamatan Sukodono, Sragen, rusak akibat puting beliung, Kamis (4/1/2018) sore.

Tidak ada korban jiwa dalam bencana itu sedangkan kerugian material diperkirakan Rp11,5 juta. Berdasarkan laporan Pemerintah Desa Gebang, Sukodono, Sragen, yang diterima Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sragen, Jumat (5/1/2018), puting beliung itu melanda RT 003, RT 004, dan RT 006 di Dukuh Pakel serta RT 009, RT 011, dan RT 012 Dukuh/Desa Gebang.

“Peristiwa angin itu terjadi saat hujan deras mengguyur Desa Gebang Kamis pukul 15.00 WIB. Angin itu mengakibatkan ribuan genting rumah 11 warga beterbangan dan 50 pohon jati dan jenis lainnya tumbang. Dari 11 rumah yang gentingnya rusak, tiga rumah di antaranya tertimpa pohon,” ujar Kepala Harian BPBD Sragen Dwi Sigit Kartanto saat dihubungi Solopos.com, Jumat siang.

Sigit mengirim anggota satuan tugas (satgas) BPBD untuk mengecek ke Gebang. Sigit mendapatkan data jumlah bangunan yang gentingnya rusak ada 12 unit yang terdiri atas 11 rumah warga dan satu bangunan TK. Jumlah genting yang rusak diperkirakan 5.400 keping dan enam lembar asbes.

Jumlah pohon yang tumbang terdiri atas 40 batang pohon jati dan 10 pohon jenis lainnya. Dia menyampaikan warga setempat sudah bekerja bakti bersama untuk mengganti genting yang rusak dan memotong batang pohon yang tumbang dan menimpa rumah.

Dari hasil koordinasi dengan kepala desa setempat, kata dia, kerja bakti bisa dilakukan warga setempat karena sebagian besar menjadi tukang kayu. Sigit mengingatkan agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan pada musim penghujan ini.

Dia menyampaikan Sragen berpotensi terjadi tiga jenis bencana alam selama musim penghujan, yakni banjir, longsor, dan puting beliung. Para warga yang tinggal di bantaran sungai, terutama daerah kritis, diminta waspada ketika terjadi peningkatan debit air sungai.

“Potensi tanah longsor ada di Sambirejo dan Kalijambe yang memiliki kontur tanah berbukit dan sudah ada gejala retakan tanah. Kalau terjadi hujan dengan intensitas lama, supaya warga setempat segera mengungsi dan waspada. Retakan tanah supaya ditutup dengan lempung,” tuturnya.

Sigit menyatakan potensi puting beliung ada di 20 kecamatan. Ancaman angin kencang itu berpindah-pindah karena tidak bisa diprediksi. Dia hanya memberikan tanda-tanda alam yang berpotensi muncul puting beliung, seperti awan abu-abu yang melingkar seperti kubis dan kemudian menghitam, terdengar suara gemuruh saat hujan deras, dan tanda-tanda lainnya.

“Langkah antisipasinya supaya bangunan rumah diupayakan kokoh dan kuat. Kalau di luar rumah jangan pernah berteduh di bawah pohon atau tiang menara. Berteduhlah di bawah bangunan yang kuat,” imbuhnya.

lowongan pekerjaan
SUMBER BARU BEJEKI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Haul dan Risalah Maulid Simtuddurar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (09/01/2018). Esai ini karya Muhammad Dalhar, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret dan anggota Jemaah Ahbabul Musthofa. Alamat e-mail penulis adalah mbahdalhar7@gmail.com Solopos.com, SOLO–Haul Habib Ali kembali digelar….