BRT Trans Semarang yang knalpotnya mengeluarkan asap hitam. (Instagram-@transsemarang) BRT Trans Semarang yang knalpotnya mengeluarkan asap hitam. (Instagram-@transsemarang)
Kamis, 4 Januari 2018 11:50 WIB JIBI/Solopos/Antara Semarang Share :

TRANSPORTASI SEMARANG
15 BRT Trans Semarang Setop Operasi, Ini Sebabnya...

Transportasi Semarang bakal terkurangi enam bus Trans Semarang yang dikandangkan.

Solopos.com, SEMARANG — Badan Layanan Umum (BLU) Trans Semarang selaku pengelola bus rapid transit (BRT) di ibu kota Jawa Tengah mengandangkan setidaknya 15 unit BRT Trans Semarang. Enam unit alat transportasi massal itu disetop operasinya karena tidak lolos uji emisi, sedangkan sembilan lainnya karena bannya dinilai tidak laik jalan.

“Uji emisi ini sebagai bahan dari evaluasi terhadap keluhan yang masuk dari masyarakat,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BLU Trans Semarang Ade Bhakti di sela-sela uji emisi di Kota Semarang, Jateng, Rabu (3/1/2017). Uji emisi yang dilakukan di sekitar Selter Jl. Pemuda terhadap armada BRT Trans Semarang dari berbagai koridor yang lewat itu sekaligus pengecekan ban dan kelengkapan surat jalan beserta pengemudi.

Berdasarkan hasil pengecekan, didapati enam unit BRT Trans Semarang yang tidak lolos uji emisi, yakni bus bernomor lambung 016, 019, dan 027 dari Koridor II, 002 dan 007 dari Koridor III, serta 015 dari Koridor V. “Armada [unit bus] yang tidak lolos uji emisi ini dikandangkan sementara sampai diperbaiki. Kami minta operator memperbaiki dan melarang armada dioperasikan sebelum diperbaiki,” katanya.

Bukan hanya bus yang tidak lolos uji emisi yang dikandangkan, imbuh dia, armada yang bannya tidak memenuhi syarat, yakni vulkanisir maupun sudah gundul, juga dilarang beroperasi. Setidaknya ada sembilan unit bus yang kedapatan bannya tidak memenuhi syarat, yakni bus bernomor lambung 019 dan 023 dari Koridor II, 002, 007, dan 008 dari Koridor III, 008, 011, dan 021 dari Koridor IV, serta 010 dan 015 dari Koridor V.

Ade menambahkan dalam pengecekan itu didapati pula seorang pengemudi yang tidak melengkapi surat izin mengemudi (SIM), melainkan hanya membawa surat tanda nomor kendaraan (STNK). Mengenai surat kelengkapan kendaraan, Ade mengakui terkadang operator lalai menyampaikan surat-surat kepada pengemudi atau menyepelekan karena merasa membawa armada bus pemerintah.

Diakuinya, BRT Trans Semarang yang banyak terjaring berasal dari Koridor II, karena koridor tersebut merupakan yang paling lama pengoperasiannya dibandingkan dengan koridor-koridor yang lainnya. Sebenarnya, sambung dia, sejak Desember 2017, sudah mulai ada peremajaan terhadap angkutan umum massal itu sehingga tinggal 12 unit bus yang belum diremajakan dari total 26 unit bus yang melayani Koridor II rute Terminal Terboyo-Sisemut, Ungaran.

“Pemeliharaan dan perawatan kan tetap tanggung jawab operator, kami bertugas sebagai regulator. Makanya, kami minta operator untuk memperbaiki sebelum dioperasikan kembali,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Kota Semarang Muhammad Khadik mengatakan uji emisi dan pengecekan armada BRT Trans Semarang itu merupakan salah satu upaya meningkatkan pelayanan kepada pengguna moda transportasi umum tersebut. “Ini bagian dari peningkatan pelayanan Trans Semarang karena laporan yang masuk pada 2017 sudah cukup banyak. Makanya, kami awali dengan pelaksanaan uji emisi dan kelaikan armada,” katanya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

 

lowongan pekerjaan
Penerbit Ziyad Visi Media, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Calon Tunggal dan Disfungsi Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (10/01/2018). Esai ini karya Isharyanto, dosen Hukum Tata Negara di Universitas Sebelas Maret Solo. Alamat e-mail penulis adalah isharyantoisharyanto8@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada 2018 ini 171 daerah provinsi/kabupaten/kota akan menyelenggarakan pemilihan kepala daerah secara serentak….