Salah satu overpass di Dukuh Menjingan, Donohudan, Ngemplak, yang bakal dibangun membelok ke arah barat. (Aries Susanto/JIBI/Solopos) Salah satu overpass di Dukuh Menjingan, Donohudan, Ngemplak, yang bakal dibangun membelok ke arah barat. (Aries Susanto/JIBI/Solopos)
Kamis, 4 Januari 2018 23:35 WIB Aries Susanto/JIBI/Solopos Boyolali Share :

TOL SOLO-KERTOSONO
Soal Overpass Diprotes Warga Boyolali, Ini Tanggapan PT SNJ

PT SNJ mengatakan akan mempertimbangkan permintaan warga Ngemplak, Boyolali.

Solopos.com, BOYOLALI — Protes sebagian warga Desa Donohudan, Ngemplak, yang menolak pembelokan overpass di desa tersebut mendapatkan tanggapan pemangku kebijakan.

PT Solo-Ngawi Jaya (SNJ) selaku pemegang konsesi Jalan Tol Solo-Kertosono (Soker) ruas Solo-Ngawi menyatakan akan mempertimbangkan tuntutan warga sebelum proyek overpass dilanjutkan dalam waktu dekat ini.

Direktur Utama PT SNJ, David Wijayatno, mengatakan rencana pembangunan overpass di Donohudan yang belok ke barat sebenarnya bukan kemauan PT SNJ. Hal itu dipicu sikap warga di sekitar overpass yang menolak pembangunan overpass. (Baca: Warga Ngemplak Boyolali Meradang Lihat Overpass Dibelokkan)

“Kalau rencana awal kami overpass lurus ke utara. Tapi, warga pemilik lahan di sekitar lokasi itu ngotot menolak melepaskan tanah mereka. Akhirnya, kami cari solusi lain,” jelas David kepada Solopos.com, Kamis (4/1/2018).

PT SNJ, kata David, sebenarnya hanya menjalankan proyek sesuai keputusan pejabat pembuat komitmen (PPK). Jika proyek overpass harus dibelokkan, PT SNJ tinggal menjalankan. Begitu juga sebaliknya.

“Kalau memang warga menuntut demikian [overpass lurus], ya akan kami pertimbangkan lagi. Kami akan bertemu dengan warga lagi,” jelasnya.

Ketua PPK Tol Soker, Waligi, membenarkan ada warga di sekitar lokasi overpass yang menolak pembangunan overpass lurus karena lahannya terkena dampak. Penolakan itu kemudian menjadi bahan pertimbangan PPK Provinsi Jateng untuk mencari solusi.

Salah satunya membelokkan overpass ke sisi barat. “Dulu saat sosialisasi, warga kukuh menolak. Mereka tak menginginkan lahannya dilintasi overpass,” jelasnya.

Menurut Waligi, penolakan warga saat itu bisa dimaklumi karena jika overpass melintasi tengah desa akan berdampak pada rumah-rumah di samping overpass. “Kasihan juga jika lahan di depan rumah mereka ada tembok overpass. Makanya, kami putuskan overpass dibelokkan di atas lahan yang masih milik Tol Soker. Biayanya juga jadi lebih kecil,” terangnya.

Menanggapi hal itu, koordinator warga yang menolak pembelokan overpass, Wahyu Sulistyo, menjelaskan warga yang tak mau melepas tanah mereka sebenarnya menginginkan underpass. Namun, lantaran permintaan itu tak dikabulkan, warga menolak pembebasan lahan untuk melanjutkan overpass.

“Saat itu warga kan getol meminta underpass. Tapi, karena overpass sudah setengah jadi, tidak mungkin bikin underpass,” paparnya.

Wahyu berharap PT SNJ mempertimbangkan tuntutan warga agar overpass dibangun lurus. Pertimbangannya, akan lebih banyak kerugiannya ketimbang manfaatnya jika overpass tetap dibelokkan.

lowongan pekrjaan
Akuntansi, Administrasi,Marketing,Tehnisi ,Gudang/Driver, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Haul dan Risalah Maulid Simtuddurar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (09/01/2018). Esai ini karya Muhammad Dalhar, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret dan anggota Jemaah Ahbabul Musthofa. Alamat e-mail penulis adalah mbahdalhar7@gmail.com Solopos.com, SOLO–Haul Habib Ali kembali digelar….