Beberapa pelaku wisata yang tergabung dalam Paguyuban Pondok Laguna Pantai Glagah membersihkan sampah dari sekitar warung miliknya, Senin (26/10/2015). (Harian Jogja/Holy Kartika N.S) Beberapa pelaku wisata yang tergabung dalam Paguyuban Pondok Laguna Pantai Glagah membersihkan sampah dari sekitar warung miliknya, Senin (26/10/2015). (Harian Jogja/Holy Kartika N.S)
Kamis, 4 Januari 2018 08:20 WIB Beny Prasetya/JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

Ternyata Ini Pedagang yang "Nuthuk" Harga di Pantai Glagah, Pokdarwis Sulit Mengendalikannya

Meledaknya kunjungan wisatawan di Pantai Glagah Indah pada libur Natal dan akhir tahun kemarin, ternyata dimanfaatkan oleh pedagang insidental dengan nuthuk harga

Solopos.com, KULONPROGO — Meledaknya kunjungan wisatawan di Pantai Glagah Indah pada libur Natal dan akhir tahun kemarin, ternyata dimanfaatkan oleh pedagang insidental dengan nuthuk harga kepada wisatawan.

Baca juga : Makan Tanpa Tanya, Wisatawan di Kulonprogo Harus Bayar Rp25.000 untuk Seporsi Bakso

Pelaku Wisata resmi yang tergabung pada beberapa organisasi mengalaminya kesulitan untuk mencegah datangnya pedagang insidental yang suka bermain harga itu.

Ketua Pokok Sadar Wisata (Pokdarwis) Permata yang menaungi masyarakat pelaku wisata di Kulonprogo, Sumantoyo mengungkapkan bahwa pedagang yang nuthuk harga itu bisa dipastikan bukan pelaku wisata yang tergabung di beberapa organisasi yang berada di Pantai Glagah. Dimana pedagang nakal itu adalah pedagang insidental yang datang pada musim libur tertentu saja.

“Kita punya Organisasi Barokah, Organisasi Pondok Laguna, dan Pokdarwis Permata yang setiap bulan ada forum dan sosialisasi. Jadi tidak mungkin itu [Pedagang Insidental] tergabung di situ,” jelasnya Rabu (3/1/2017) sore.

Tidak setiap hari pedagang nakal itu hadir, dimana mereka tidak nampak saat hari-hari biasa. Biasanya mereka baru datang pada hari libur perayaan dan hari libur akhir tahun, seperti kemarin.

Dimana pedagang liar itu memanfaatkan pedagang resmi telah sudah repot dengan dagangannya masing-masing dan tidak bisa mencegah masuknya pedagang nakal itu.

“Pada hari raya dan akhir tahun kemarin mereka masuk, untuk akhir pekan mereka bisa kami cegah masuk,” jelas Sumantoyo terkait mengapa masyarakat alias pelaku wisata tidak bisa membendung masuknya pedagang insidental itu.

Sebelumnya, Sumantoyo mengungkapkan dirinya mendengar beberapa wisatawan yang datang menjadi korban pedagang nakal pada libur akhir tahun kemarin. Dimana Sumantoyo mencotohkan wisatawan yang datang harus membayar Rp25.000 untuk satu porsi Bakso.

“Makan tanpa nanya-nanya, terus bayar Rp25.000 per mangkoknya,” katanya.

lowongan pekerjaan
PT.SEJATI CIPTA MEBEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Haul dan Risalah Maulid Simtuddurar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (09/01/2018). Esai ini karya Muhammad Dalhar, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret dan anggota Jemaah Ahbabul Musthofa. Alamat e-mail penulis adalah mbahdalhar7@gmail.com Solopos.com, SOLO–Haul Habib Ali kembali digelar….