Irigasi di Dusun Dogogan, Desa Sriharjo Imogiri Bantul ambrol. (Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja) Irigasi di Dusun Dogogan, Desa Sriharjo Imogiri Bantul ambrol. (Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja)
Kamis, 4 Januari 2018 14:55 WIB Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

Saluran Irigasi di Imogiri Jebol, 20 Ha Sawah Terancam Kekeringan

Ratusan meter saluran irigasi jebol diterjang banjir

Solopos.com, BANTUL—Ratusan meter saluran irigasi jebol diterjang banjir, sekitar 20 hektare lahan pertanian di Desa Sriharjo, Imogiri terancam kekeringan.

Petani yang selama ini mengandalkan pasokan air Sungai Oya melalui saluran irigasi tersebut mulai khawatir. Pasalnya, bila musim kemarau tiba dan saluran irigasi belum juga berfungsi dipastikan pasokan air di lahan mereka tidak akan mencukupi.

Berdasarkan pantauan Harianjogja.com di lapangan, saluran irigasi yang telah permanen tersebut jebol hampir pada semua bagian. Dari ujung barat hingga timur nyaris tak ada yang tersisa dari saluran irigasi tersebut. Bahkan sisa jebolan berupa dinding bata tersebut terserak di sawah-sawah milik warga.

Salah satu warga Dusun Dogongan, Desa Sriharjo, Marsudi, 50, menuturkan untuk menyisihkan bongkahan material reruntuhan bangunan irigasi tersebut ia membutuhkan waktu hingga dua minggu.

Sebab reruntuhan beton saluran irigasi ini memenuhi sawahnya seluas 2000 meter persegi. Pada saat banjir akhir November 2017 lalu, areal persawahan di wilayah tersebut diterjang banjir dan merusak hampir seluruh tanaman padi yang belum lama ditanam.

Menurutnya derasnya terjangan banjir juga merusak saluran irigasi sepanjang 200 meter yang bersumber dari bantaran Sungai Oya. “Ini yang bongkahan beton besar-besar belum bisa disingkirkan. Yang lain saya harus bayar orang buat bersihin,” katanya, Kamis (4/1/2017).

Marsudi menjelaskan saluran irigasi tersebut setidaknya mengaliri lebih dari 20 hektare lahan pertanian hingga ke beberapa desa lainnya. Ketika saluran irigasi itu masih berfungsi pasokan air pun menurutnya belum maksimal. Kondisi lahan yang berada lebih tinggi dibanding bantaran sungai membuat potensi kekeringan semakin besar.

“Kalau sekarang kita mengandalkan hujan dan terpaksa mompa. Tapi kalau sudah kemarau nggak tahu harus gimana,” ucapnya.

lowongan pekerjaan
Penerbit Ziyad Visi Media, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Haul dan Risalah Maulid Simtuddurar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (09/01/2018). Esai ini karya Muhammad Dalhar, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret dan anggota Jemaah Ahbabul Musthofa. Alamat e-mail penulis adalah mbahdalhar7@gmail.com Solopos.com, SOLO–Haul Habib Ali kembali digelar….