(JIBI/SOLOPOS/Septhia Ryanthie) Ilustrasi (JIBI/Dok)
Kamis, 4 Januari 2018 12:00 WIB Akhmad Ludiyanto/JIBI/Solopos Boyolali Share :

Pesta Tahun Baru Sumbang 20 Ton Sampah ke TPA Winong Boyolali

Sampah di TPA Winong Boyolali bertambah.

Solopos.com, BOYOLALI — Selama perayaan pergantian tahun 2017 ke 2018, jumlah sampah di Boyolali yang masuk ke tempat pengeloaan sampah akhir (TPA) di Desa Winong, Kecamatan Boyolali, Kota meningkat 20 ton. Peningkatan tesebut terkait adanya 12 titik perayaan yang tersebar di berbagai wilayah Boyolali.

Dalam catatan UPT TPA Winong, peningkatan tersebut terjadi selama dua hari yakni Senin-Selasa (1-2/1/2018). Sedangkan mulai Rabu (3/1/2018) pasokan sampah kembali normal.

Kepala UPT TPA Winong Suwarno mengatakan pada hari biasa, pasokan sampah ke TPA itu rata-rata 60 ton-70 ton per hari. Sampah yang terdiri atas sampah rumah tangga dan sampah pasar itu didominasi sampah rumah tangga.

“Hari-hari biasa sampah yang masuk sini sekitar 60 ton-70 ton. Selama tahun baru, tambah 20 ton yang masuk tanggal 1 dan tanggal 2 [Januari],” ujarnya saat ditemui wartawan di kantornya, Rabu kemarin.

Menurutnya, peningkatan tersebut tidak menjadi masalah karena TPA seluas sekitar 3,7 hektare (ha) tersebut masih menyisakan lahan yang cukup luas. Menurutnya, saat ini lahan yang dipakai untuk menampung sampah (zona aktif) seluas 0,8 ha. “Dari segi kapasitas, peningkatan ini tidak ada masalah,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Boyolali Totok Eko YP mengatakan peningkatlan sampah pada perayaan pergantian tahun ini sudah diastisipasi. Pihaknya menambah jam kerja (lembur) para pekerja pengambil sampah.

“Pembersihan lokasi hiburan menjadi tanggungjawab panitia acara. Pihak kami lah yang kemudian mengangkut ke TPA. Peningkatan jumlah sampah pada perayaan pergantian tahun sudah kami antisipasi dengan menambah jadwal lembur pengambilan sampah,” ujarnya.

Selain itu, armada pengangkut sampah berupa 4 unit dump truk, 15 unit armroll, dan 1 unit kendaraan roda tiga masih mampu melayani pengambilan sampah dari masyarakat tersebut.

Di sisi lain, mengenai pengolahan sampah di TPA Winong, Suwarno mengatakan sebagian sampah organik di TPA Winong dijadikan kompos. Sisanya dipres dan ditumpuk atau ditimbun.

Dia juga mengakui pemilahan sampah organik-anorganik ini belum maksimal. Dari 70 ton sampah, 7 pekerja yang ada di TPA hanya mampu memilah 5 ton-6 ton per hari. “Dari 5 ton-6 ton itu hanya menghasilkan 30-40 persen sampah organik yang bisa diproses menjadi kompos,” kata dia.

Sementara pemanfaatan kompos juga masih sebatas pemenuhan kebutuhan pemupukan taman kota. Ke depan, kompos tersebut akan distandarisasi dan dikelola dengan payung hukum/Perda sehingga lebih maksimal peruntukannya.

lowongan pekrjaan
Akuntansi, Administrasi,Marketing,Tehnisi ,Gudang/Driver, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Haul dan Risalah Maulid Simtuddurar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (09/01/2018). Esai ini karya Muhammad Dalhar, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret dan anggota Jemaah Ahbabul Musthofa. Alamat e-mail penulis adalah mbahdalhar7@gmail.com Solopos.com, SOLO–Haul Habib Ali kembali digelar….