Melly Goeslaw dan Opick di Killis (Istimewa) Melly Goeslaw dan Opick di Killis (Istimewa)
Kamis, 4 Januari 2018 18:45 WIB Issue Share :

Opick Ceritakan Perjalanan ke Palestina

Musisi Opick mengisahkan perjalanannya ke Palestina.

Solopos.com, JAKARTA – Penyanyi Opick menemui para pengungsi Palestina pada Desember 2017 lalu. Opick yang datang bersama musisi Melly Goeslaw dan 13 orang lainnya tiba di rumah-rumah tak layak huni yang ditempati pengungsi Palestina di daerah Gaziantep, selatan Turki.

Rombongan membawa bantuan untuk para pengungsi dari masyarakat Indonesia melalui Sahabat Palestina Memanggil (SPM). Ada selimut, kasur dan penghangat ruangan di antara barang-barang yang mereka bawa. Baca juga: Opick Bertolak ke Palestina

Benda-benda yang mungkin tampak sederhana bagi sebagian orang itu ternyata mampu menyunggingkan senyum di wajah para pengungsi.

“Setelah mereka diberi karpet untuk alas tidur. Kalau tidak ada alas tidur bagaimana? Dingin banget. Lantai kan dingin. Dua hari saja (tanpa alas) bisa mati. Kasur yang spon, mereka senang banget,” ujar Opick dalam konferensi pers, Rabu (3/1/2018) malam, di Jakarta.

“Dikasih selimut. Apalagi kami membeli semacam alat, nanti dimasukan arang jadi ruangan langsung hangat semua. Mereka senang banget. Karena kalau enggak pakai itu dingin banget,” sambung dia.

Di balik senyum itu masih ada ganjalan. Opick berkisah, selain harus berhadapan dengan dinginnya udara, para pengungsi yang rata-rata kehilangan sanak keluarganya itu menghadapi berbagai ketidakpastian. Salah satunya soal makanan. Baca juga: Opick Kisahkan Penderitaan Pengungsi Suriah dan Palestina

“Mereka enggak ada persiapan makan siang, makan malam 420.000 pengungsi. Untuk makan saja susah, belum yang lain-lain. Lalu kesehatan. Di setiap tenda pasti ada keluarga yang mati. Entah bapaknya. Yang kuat-kuat yang menanggung mereka semua ini,” papar Opick.

Belum lagi masalah penculikan anak-anak yang marak terjadi. Opick mengaku sempat berpikir ingin membawa sejumlah anak dari sana ke Tanah Air untuk dirawat dan disekolahkan. Namun dia paham ini tak mudah.

“Melly sempat bicara mungkin enggak membawa anak dibawa pulang ke Indonesia. Tidak semudah itu. Di sekitar sana itu kan banyak penculikan anak, enggak tahu dijadikan apa. Makanya sulit sekali membawa anak-anak keluar dari sana,” kata dia.

Namun, menurutnya hal ini bisa saja terjadi jika pemerintah Indonesia turun tangan. “Pemerintah mungkin bisa. Mungkin 30 orang bisa disekolahkan di sini. Anak-anak itu perlu orang tua,” tutur dia.

lowongan pekerjaan
SMK CITRA MEDIKA SRAGEN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Haul dan Risalah Maulid Simtuddurar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (09/01/2018). Esai ini karya Muhammad Dalhar, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret dan anggota Jemaah Ahbabul Musthofa. Alamat e-mail penulis adalah mbahdalhar7@gmail.com Solopos.com, SOLO–Haul Habib Ali kembali digelar….