Sejumlah pekerja sedang menyortir hasil panen dari tambak nila hitam, di Pantai Trisik, Desa Banaran, Kecamatan Galur, Kamis (4/1/2018). (Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja) Sejumlah pekerja sedang menyortir hasil panen dari tambak nila hitam, di Pantai Trisik, Desa Banaran, Kecamatan Galur, Kamis (4/1/2018). (Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja)
Kamis, 4 Januari 2018 20:40 WIB Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

Diserang Predator, Pasokan Bandeng dari Kulonprogo Bakal Melorot

Pembudidaya bandeng pindah ke ikan nila.

Solopos.com, KULONPROGO–Pembudidaya bandeng di Pantai Trisik, Desa Banaran Kecamatan Galur mengubah tebaran ikan bandeng yang dikembangkan menjadi ikan nila hitam.

Hal itu dilakukan karena bandeng di tambak kerap diserang nila hitam yang menjadi predator dan membuat pembudidaya terkendala mengembangkan tebaran bandeng.

Ketua Kelompok Bandeng Jaya Trisik, Supoyo mengatakan, kemunculan nila ini terjadi sejak kelompok mendapatkan bantuan ikan dari pemerintah, padahal bibit yang mereka butuhkan adalah bandeng.

Ternyata nila hitam tersebut memakan ikan bandeng yang masih berukuran kecil. Awalnya, mereka ingin menebar ikan yang bersifat predator bagi nila, namun mereka kesulitan memenuhinya. Sehingga mereka akhirnya memilih untuk mulai memelihara ikan nila sampai panen.

Hingga Kamis (4/1/2018) ini mereka telah panen ikan nila hitam sebanyak enam kali, satu kali panen bisa meraih sekitar dua sampai tiga kuintal nila hitam.

“Sebetulnya budidaya bandeng memberikan hasil menjanjikan. Pernah satu kali panen satu kolam saja bisa sampai dua ton,” kata dia, di lokasi tambak, Kamis.

Di Trisik, kelompok tersebut memiliki empat kolam bandeng, dan ada salah satu kolam dengan luasan paling besar nyari satu hektare. Secara keseluruhan, diperkirakan dalam satu kali panen, kelompok bisa menghasilkan enam ton ikan nila hitam. Namun jumlah panen bisa berkurang secara drastis apabila memasuki musim kemarau.

“Kami panen nila setelah berumur sekitar empat bulan. Kalau dipanen waktu musim kemarau, nila banyak yang mati,” ungkapnya.

Supoyo tidak menampik bahwa merawat ikan nila tidak sesukar memelihara bandeng. Mereka cukup satu kali tebar dan kemudian dapat memanennya. Dari segi pakan, nila hitam hanya membutuhkan pakan alami, berasal dari buangan tambak udang yang berada tak jauh dari tambak ikan milik kelompok. Di sekitar tambak ikan juga ditanami pohon bakau untuk mengurangi cemaran yang terkandung dalam pakan. Menurut dia, nila cepat tumbuh dan berkembang.

“Kami masih mencari waktu tepat untuk kembali membudidaya bandeng,” ucapnya.

Salah satu tengkulak ikan dari Jogja, Tutik menuturkan, ikan nila yang ia ambil dari kelompok Bandeng Jaya rencananya dijual untuk memenuhi kebutuhan pasar di Pati, Klaten, Bogor dan beberapa daerah lain.

lowongan pekerjaan
SUMBER BARU BEJEKI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Calon Tunggal dan Disfungsi Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (10/01/2018). Esai ini karya Isharyanto, dosen Hukum Tata Negara di Universitas Sebelas Maret Solo. Alamat e-mail penulis adalah isharyantoisharyanto8@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada 2018 ini 171 daerah provinsi/kabupaten/kota akan menyelenggarakan pemilihan kepala daerah secara serentak….