Klenteng Poncowinatan didominasi warna cat merah, Rabu (21/12/2016). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja) Klenteng Poncowinatan didominasi warna cat merah, Rabu (21/12/2016). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja)
Kamis, 4 Januari 2018 10:40 WIB Rima Sekarani I.N/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Begini Ritual Pernikahan Khonghucu yang Langka di Jogja

Pernikahan Khonghucu akan digelar di Jogja.

Solopos.com, JOGJA–Klenteng Poncowinatan bakal kembali menjadi saksi pernikahan adat Tionghoa dengan kepercayaan Khonghucu, Sabtu (6/1/2018) mendatang. Ritualnya agak berbeda dengan seremoni pernikahan pada umumnya.

Pengurus Klenteng Poncowinatan atau Klenteng Tjen Ling Kiong, Margomulyo mengatakan, sejak Khonghucu mendapatkan pengakuan sebagai agama di Indonesia, pernikahan Khonghucu hanya pernah dilaksanakan sebanyak tiga kali di rumah ibadah yang beralamat di Jetis, Jogja itu. Pernikahan pada Sabtu itu akan menjaid kali keempat.

Menurut Margo, prosesi pernikahan Khonghucu pada dasarnya sama dengan pernikahan biasa, yakni sakral dan istimewa. Beberapa ritual yang mesti dijalani itu bukan berarti membuat ribet tetapi memang demi menjaga kesakralan pernikahan sehingga tidak bisa dilakukan sembarangan.

“Ini untuk melestarikan budaya juga karena memang sudah jarang. Ada perpaduan antara keagamaan dan budaya Khonghucu. Tapi budaya yang sudah mengikuti zaman dan tidak terlalu kolot,” ucap Margo, Rabu (3/1/2018).

Margo menjelaskan, prosesi pernikahan Khonghucu pada akhir pekan ini akan dimulai dengan sembahyang terlebih dahulu.

Selain memanjatkan doa, sembahyang juga dilakukan untuk menghormati tuan rumah di Klenteng Pocowinatan. Kedua mempelai kemudian menuju altar Khonghucu unuk melakukan puja bakti kepada Nabi Khong Cu, arwah leluhur, dan orang tua kedua mempelai.

Acara berikutnya adalah penyampaian kutbah oleh seorang Pendeta Khonghucu dan dilanjutkan dengan pengambilan sumpah pernikahan. “Sebelum mengucapkan janji pernikahan, minta restu kepada orang tua dulu. Nanti waktu minta restu itu ada ritual hormat arak,” kata Margo.

Setelah menikah, posisi mempelai laki-laki tidak di sisi kanan mempelai perempuan seperti pernikahan pada umumnya, melainkan sebaliknya atau di sisi kiri. Hal itu menggambarkan peran laki-laki sebagai penentu baik dan buruknya sebuah pernikahan.

Melekat pula makna bahwa seorang suami bertanggung jawab secara lahir batin terhadap istri dan harus siap menghadapi situasi apapun dalam mempertahankan keharmonisan pernikahan.

Margo menambahkan, masih ada rangkaian prosesi lainnya setelah dilakukan sumpah pernikahan. Salah satunya adalah sungkeman kepada kedua orang tua masing-masing pengantin. Jika kedua orang tua sudah meninggal, bisa digantikan kakak tertua.

Ritual tersebut mengandung makna bahwa pengantin ke depannya bukan cuma memikul tanggung jawab dan menjaga kehormatan pernikahan, melainkan juga kehormatan dua keluarga yang dipersatukan.

lowongan pekerjaan
PT.SEJATI CIPTA MEBEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Calon Tunggal dan Disfungsi Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (10/01/2018). Esai ini karya Isharyanto, dosen Hukum Tata Negara di Universitas Sebelas Maret Solo. Alamat e-mail penulis adalah isharyantoisharyanto8@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada 2018 ini 171 daerah provinsi/kabupaten/kota akan menyelenggarakan pemilihan kepala daerah secara serentak….