Perkakas milik warga memenuhi ruang bantaran Kali Pepe wilayah Widuran, Kepatihan Kulon, Kamis (4/1/2017) pagi. (Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos) Perkakas milik warga memenuhi ruang bantaran Kali Pepe wilayah Widuran, Kepatihan Kulon, Kamis (4/1/2017) pagi. (Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos)
Kamis, 4 Januari 2018 21:35 WIB Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos Solo Share :

BBWSBS Sedih Lihat Bantaran Kali Pepe Solo Kumuh Penuh Perkakas Rumah Tangga

BBWSBS prihatin melihat kondisi bantaran Kali Pepe Solo yang kumuh, penuh dengan perkakas rumah tangga.

Solopos.com, SOLO — Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) mengaku risih melihat kondisi bantaran Kali Pepe wilayah Kampung Widuran, Kelurahan Kepatihan Kulon, Jebres, Solo, yang dipenuhi perkakas rumah tangga milik warga.

Pengawas Pelaksanan Proyek Penanganan Banjir Paket 1 (Kali Pepe Hilir), Basirun, menilai seharusnya wilayah bantaran sungai atau garis sempadan sungai di wilayah Widuran tidak dipergunakan menyimpan perkakas rumah tangga, seperti peralatan memasak, jemuran pakaian, meja, kursi, hingga berbagai barang bekas tak terpakai milik warga.

Apalagi wilayah bantaran tersebut telah ditata dengan baik oleh Pemkot sehingga menjadi ruang terbuka yang nyaman digunakan untuk beraktivitas masyarakat umum. “Sayang sekali wilayah bantaran Kali Pepe yang seharusnya sudah rapi kini tampak tidak bagus. Banyak barang milik warga yang ditaruh sembarangan di pinggir sungai. Orang luar yang melihat itu pasti merasa risih,” kata Basirun saat diwawancarai Solopos.com di sela-sela meninjau pemasangan paving dan pagar tepi sungai di sekitar dermaga Kali Pepe belakang Kantor Radio PTPN Solo, Kamis (4/1/2018) pagi. (Baca: Ratusan Miliar Rupiah Digelontor untuk Penanganan Banjir Solo, Ini Hasilnya)

Basirun resah mendapati aktivitas sebagian masyarakat Kota Solo yang terkesan tidak memedulikan keelokan lingkungan sungai tersebut. Dia khawatir jika wilayah lain di bantaran Kali Pepe yang kini tengah ditata BBWSBS ternyata ke depan juga digunakan masyarakat secara sembarangan.

Proyek penataan wilayah bantaran Kali Pepe tidak bisa dimanfaatkan hanya oleh segelintir orang. Menurut dia, tujuan penataan wilatah bantaran tidak lain untuk menyediakan ruang terbuka yang bisa dinikmati orang banyak.

“Mubazir jika wilayah bantaran akhirnya hanya dijadikan sebagai tempat penyimpanan barang. Barang-barang jika ditaruh di wilayah bantaran kan jelas mengganggu siapa saja masyarakat yang ingin beraktivitas di dekat sungai. Keberadaan barang-barang itu juga mengganggu pamandangan lingkungan sungai yang telah ditata baik,” jelas Basirun.

Basirun menyarankan Pemkot Solo bersikap tegas menertibkan warga agar menata barang-barang milik mereka yang masih teronggok di wilayah bantaran Kali Pepe maupun wilayah bantaran sungai lainnya. Setelah itu, Pemkot tinggal meminta komitmen warga untuk saling mengingatkan tidak lagi memanfaatkan wilayah bantaran sungai secara sembarangan. (Baca: Penataan Kali Pepe Solo)

Dia menyampaikan kebersihan dan kerapian wilayah sungai yang terus dijaga akan menjadi daya tarik untuk wisata air. “Rencana ke depan Kali Pepe ini akan dimanfaatkan sebagai prasarana wisata air di Kota Solo. Untuk bisa menarik wisatawan, tentu lingkungan sungai harus bersih. Wisatawan tidak mau naik perahu jika lingkungan sungai juga kumuh dan tak tertata. Pemkot harus segera memulai menata wilayah bantaran Kali Pepe ini,” jelas Basirun.

Pegiat Komunitas Ngrekso Lepen Mangku Keprabon, Setyo Eko Winanto, mendukung rencana Pemkot yang ingin mengembangkan wisata air di Kota Bengawan dengan memanfaatkan Kali Pepe. Menurut dia, Pemkot belum cukup jika hanya menyediakan infrastruktur yang bagus dalam mengembangkan wisata air di sungai.

Pemkot harus juga mendidik warga khususnya yang bertempat tinggal di sekitar sungai atau bantaran sungai untuk lebih peduli terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan sungai. “Sekarang perbaikan infrastruktur Kali Pepe sudah difasilitasi BBWSBS. Bagus jika Pemkot ingin mengembangkan wisata air di sana. Tantangan Pemkot adalah menjaga agar kawasan tersebut bisa tetap rapi. Selain itu Pemkot juga mesti memperbaiki kualitas air di Kali Pepe dengan mengubah perilaku masyarakat di sekitar sungai khususnya,” jelas Win.

lowongan pekerjaan
Penerbit Ziyad Visi Media, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Haul dan Risalah Maulid Simtuddurar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (09/01/2018). Esai ini karya Muhammad Dalhar, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret dan anggota Jemaah Ahbabul Musthofa. Alamat e-mail penulis adalah mbahdalhar7@gmail.com Solopos.com, SOLO–Haul Habib Ali kembali digelar….